Aku masih menghela nafasku panjang-panjang. Masih dengan mata sembab sebab kepergian kekasihku yang belum bisa aku percaya. Yang dengan mata merah aku memaksakannya membuka layar ponsel. Makin hancur hatiku melihat kelakuan kekasihku alias mantan kekasihku yang menjadi-jadi itu. Aku berbaring lagi, berharap dunia tak akan berakhir hari ini juga. Sebab aku masih harus bahagia, nanti.

Kepergianmu mengajarkanku untuk terus berusaha bahagia dengan caraku. Entah salah atau benar, intinya kebahagiaan yang isinya tak ada kamu dihari-hariku. Aku pasti bisa mengobati luka hati ini sendiri, aku janji.

Aku tak menyangka hubungan yang baru seumur jagung ini kandas begitu saja dengan mudahnya. Hanya karena wanita penggoda atau lelaki buaya yang dengan sengaja memupuk cinta diatas luka hatiku ini. Aku tak pernah berhenti mencintai mantan kekasihku itu, dan begitu juga aku tak akan pernah melupakan sakit hati yang mereka berdua buat.

Priaku, kau ciptakan senyum diwajahnya. Sebaliknya, hujan air mata itu kini membanjiri wajahku yang kau pernah buat tersenyum juga. Bodohnya kamu yang berubah sebegitu cepat mengakhiri cerita cinta kita.

Sakit hati ini belum selesai, datang lagi sakit hati yang lain ceritanya dirasakan sahabatku. Sahabatku kini berjalan kearahku, memelukku erat sambil berderai air mata. Katanya, kekasihnya menjalin kisah baru dengan wanita baru. Aku menjawab sambil tetap memeluknya, kita sama. Namun beda jarak kisah cintaku dan kisah cinta sahabatku itu jauh. Dia sudah 5 tahun lewat 1 bulan kisah cintanya, sudah banyak makan asam garam hubungan. Sedangkan kisah cintaku baru seumur jagung, 5 bulan lewat 8 hari tepatnya. Dan sakit yang aku rasa begitu luar biasa, lalu bagaimana dengan sahabatku yang satu itu?

Advertisement

Hubungan memang tak bisa dipaksakan kapan ia harus tetap berjalan dan kapan ia harus putus dijalan. Entah itu setahun, dua tahu, maupun sehari rasanya putus cinta itu sama; sama-sama sakit.

Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk sahabatku yang sedang galau berat saat ini, maaf. Karena posisi kita sekarang sama, aku juga belum tahu bagaimana cara menyudahi kegalauan ini. Kita doa-kan saja agar si wanita penggoda dan lelaki buaya itu masuk neraka, dan kita bisa tertawa dari atas surga. Haha bodoh, belum tentu juga kita masuk surga karena terdzholimi seperti ini. Karna memang di agama kita tidak ada kata berpacaran, yang ada hanyalah ta'arufan. Semoga kelak pria-pria jahat seperti mantan kekasihku dan mantan kekasih sahabatku mendapat karma yang setimpal. Aku percaya, karena sakitnya nyata.

Percaya atau tidak, karma itu ada. Memang tak manis seperti korma. Namun pahitnya lebih pahit daripada empedu. Percayalah, karma on the way to you.

Maaf sebelumya, aku memang bukan pendendam yang hebat apalagi mahir. Untuk dendam pada orang yang menyakitiku pun aku tak bisa. Tapi bukan berarti aku seorang pelupa, yang dengan mudah melupakan kesakitan. Bukan, bukan aku seorang pemaaf yang bodoh, sekali lagi aku sudah memaafkan siapapun yang menyakitiku dengan pintar dan cerdik. Semoga dengan permaafan ini kau tak mencoba menyakitiku lagi ya, mantan kekasihku yang jahat?