Masih melekat erat di ingatan, petaka besar menggariskan takdirku menjadi seorang anak yang ditinggalkan ibu. Masih sangat menyengat, harum mawar yang menyebar lewat udara dan memenuhi setiap sudut ruang pada hari itu. Masih segar di ingatan tubuhmu yang terbujur kaku dan terbungkus kafan putih. Terngiang-ngiang di telinga tumpah ruah air mata beserta jeritan pertanda duka. Menggema hebat suara kerabat yang melantunkan ayat Allah untuk mengiringi kepergianmu.

Sedangkan aku tersudut kalut menyaksikan tabir memisahkan raga kita dalam dua dunia yang berbeda.

Yang tak pernah kupercaya, ibu pergi setelah menghabiskan malam dengan tertawa bersama. Membuka album kenangan perjalanan keluarga. Menampakkan wajah ceria tanpa luka. Tanganmu yang sedikit dingin membelai rambutku dengan lembut. Sambil ibu nyanyikan sebuah lagu kesukaanmu hingga aku terbawa dalam alunannya.

Suara jangkrik di kebun samping rumah menjadi saksi bisu malam itu, malam yang penuh kehangatan. Ibu membawaku terjatuh dalam pangkuan ketenangan tanpa sedikitpun menyisakan gelisah. Karena itulah kusebut kepergianmu seperti sambaran petir di tengah matahari yang sedang bersinar cerah.  

Bak angin kencang mengguncang pepohonan rindang kemudian menjatuhkan satu demi satu dedaunan. Sama seperti kehidupanku setelah kepergian ibu, ku gugurkan satu demi satu mimpi yang semula ingin kuraih demi membahagikanmu. Aku ingin membuatmu bangga telah melahirkan, merawat dan membesarkanku sebagai anakmu. Aku ingin dunia melihat dirimu sebagai alasan atas semua keberhasilan yang aku raih. Namun, Allah berkata lain, ibu lebih dahulu berpulang sebelum aku mampu mewujudkannya.

Setelah itu, tahukah ibu? Betapa banyak hal buruk yang baru kusadari dan kusesali. Mungkin aku terlalu sibuk bertaruh dengan waktu sehingga membuatmu sungkan untuk sekedar mengeluh. Aku juga terlalu malu untuk memeluk dan menciummu seperti dulu saat aku masih lugu. 

Mungkinkah kita bisa bertemu sekali waktu, bu? Banyak hal yang ingin kuceritakan tentang kehidupanku saat ini. Menceritakan bagaimana sulitnya mengarungi kerasnya ujian tanpamu. Menyampaikan gumpalan rindu yang membuncah di relung hatiku. Melakukan hal yang belum sempat kulakukan untukmu. Memberikan waktuku seluruhnya untuk menemani dan menjagamu. 

Ada milyaran maaf yang ingin kuutarakan di hadapanmu. Maafkan aku ibu, sejengkalpun belum terbalas jasamu. Maaf untuk prilaku yang terkadang mengiris ulu hatimu. Maaf untuk jarak yang tak sengaja tercipta seiring aku mendewasa. Maaf karena aku belum sempurna menghapus lelahmu. Serta maaf-maaf lain yang mungkin tidak akan cukup kutulis dalam 1000 lembar kertas sekalipun. 

Kini sudah tidak dapat ku dengar lagi tawa renyah yang ibu miliki. Sudah tidak dapat ku cium lagi aroma rempah-rempah racikan tangan ibu yang tertuang dalam sebuah masakan. Sudah tidak dapat kurasakan lagi perhatian yang tersirat di setiap omelanmu. Sudah tidak dapat kunikmati lagi merdu dan syahdu suaramu mendendangkan lagu.

Tapi bu, kasihmu abadi tertanam di hatiku. Ciri khas perilakumu dalam memberi cinta dan kasih sayang tidak akan pernah mampu tergantikan. Tidak akan ku temukan lagi pengorbanan sebesar pengorbananmu untukku. 

Doa'ku semoga Allah membalas pengabdianmu, menyayangimu seperti ibu yang menghabiskan seumur hidupmu untuk menyayangi aku dan keluarga. Semoga Allah menempatkan ibu di tempat teristimewa. Senantiasa menjaga ibu dan suatu saat semoga Allah berkenan mengumpulkan kita di surga miliknya. 

Aku harap ibu tetap mengawasiku dari kejuahan sana. Merangkulku dengan kehangatan cinta yang ibu kirim lewat pertanda. Menemuiku untuk berbincang panjang, bercerita dan tertawa lewat sebuah mimpi. Dan di setiap pertemuan kita selanjutnya, aku pastikan aku tidak akan sungkan untuk bicara dan mengutarakan bahwa, ibu adalah perempuan terhebat.

Aku mencintaimu, Bu…