Aku yakin kamu benci mengingat-ingat kisah kita. Oh, kuralat, bukan kisah kita, tetapi kisahku. Kamu hanya terpaksa terlibat, bukan? Kisah ini bukan kisahmu karena kamu tidak pernah ingin memilikinya.

Ada kesalahpahaman yang terlalu panjang di antara kita. Aku salah paham dan kamu tidak berusaha meluruskannya. Tentang kita telah lama menjadi sahabat, barangkali hanya aku yang merasa kamu orang terdekat. Tentang kita sangat akrab, barangkali itu hanya perasaan sering bertemu dan berkomunikasi via SMS yang berlebihan kuartikan. Tentang kamu selalu ada untukku, barangkali itu benar-benar hanya persepsiku. Dan, dalam panjangnya deret salah paham itu, yang paling fatal adalah tentang kamu mencintaiku.

Aku terlalu pengecut untuk mau menerima peringatan dari Tuhan selama ini. Tentang kamu yang tidak pernah menggenggam tanganku, tentang jarak dan rasa tidak nyaman saat kita tengah berdua, tentang SMS-ku di pagi atau siang hari yang baru kamu balas malam harinya, tentang cokelat yang aku berikan pada kamu tetapi kamu bahkan tidak penasaran apakah cokelat itu kubuat sendiri atau tidak, tentang kamu yang sering berhenti mengabariku dengan alasan sedang malas memegang ponselmu, dan tentang kamu yang rela menembus hujan demi menjemput masa lalumu itu.

Tuhan telah secara gamblang menunjukkan bahwa tidak satu hari pun aku menjadi bagian dari hidupmu, tapi aku lebih memilih mempercayai apa yang kamu katakan dan apa yang kamu tulis dalam setiap akhir SMS yang kamu kirimkan. Kamu mencintaiku, katamu.

Kemudian, tiba-tiba kamu meminta kita berpisah sementara. Kamu bilang kamu hanya meminta waktu untuk mengurus pekerjaan barumu. Tapi, anehnya, kamu juga bilang aku tidak perlu menunggumu. Bila aku menemukan orang yang lebih baik, aku boleh memilihnya. Bodohnya, dulu aku percaya kamu sungguh-sungguh kerepotan dengan pekerjaan barumu itu. Kukatakan bahwa aku bersedia menunggumu. Namun, kamu tak pernah kembali hingga tanpa sengaja aku mengetahui semua kenyataan ini.

Advertisement

Mungkin kamu berpikir bahwa kebenaran akan melukaiku, tetapi lupakah kamu bahwa kebohongan juga melukaiku, bahkan melukaimu? Bukankah berpura-pura mencintaiku juga menjadi sebuah beban untukmu?

Kamu tak pernah memberi penjelasan padaku mengapa kamu melakukan ini. Kamu pasti ingin menyimpannya rapat-rapat seperti menutup sebuah buku yang tak kamu sukai isinya.

Menjadi sahabatmu bertahun-tahun membuat pandanganku hanya tertuju padamu. Kamu seperti bintang bagiku. Bintang yang bersinar paling terang sehingga membuatku melupakan yang lainnya. Namun, dengan semua kenyataan ini, kamu menyadarkan aku bahwa sebuah bintang hanya akan terlihat indah dan sempurna bila dilihat dari kejauhan.