Aku tak berkata bahwa itu mudah, hanya waktu yang akan menjadi bagian dari prosesnya.

Ada saat dimana kita harus rela dan berani mengambil keputusan untuk meninggalkan. Meninggalkan luka yang kian lama, kian memborok. Aku tak berkata bahwa itu mudah, hanya waktu yang akan menjadi bagian dari prosesnya.

Aku sadar kalau selama ini aku kehilangan diriku.

Aku memang pernah mencintaimu, bahkan sangat menyayangimu di hampir 1 dekade ini. Bahkan dengan setia, aku tetap rela tersakiti oleh sikap dan cintamu yang lalu-lalang, yang sebentar singgah lalu entah. Tanpa sadar, perih sudah menjadi teman dihari-hariku. Aku yang ceria, kini menjadi muram. Aku yang senang bercerita, kini menjadi pendiam. Aku sadar kalau selama ini aku kehilangan diriku.

Aku lelah, tapi belum menyerah.

Advertisement

Berulang kali, kau datang membawa harap. Lalu tak jarang pula kau menghilang mematikan rasa. Aku lelah, tapi belum menyerah. Dengan penuh harap, aku berkata meyakini diri bahwa di suatu waktu nanti kau akan berbalik dan kembali melihat keberadaanku, yang selalu menunggu dibelakangmu.

Kau anggap aku apa? Kau anggap aku obat penawar luka, yang bisa terus mengobatimu kala kau terluka karenanya, lalu setelah sembuh kau berpaling dengan dia yang lain?

Sekali… Dua kali… Tiga kali… Empat kali.. Lima kali.. dan selalu begitu kau ulangi. Pernah ditahun kesekian aku menyampaikan isi hatiku yang ku pikir bisa membuat kau mengerti. Namun nyatanya tidak. Kau malah semakin gencar menoreh luka. Kau anggap aku apa? Kau anggap aku obat penawar luka, yang bisa terus mengobatimu kala kau terluka karenanya, lalu setelah sembuh kau berpaling dengan dia yang lain? Pernah kah kau sadari perasaanku, si obat penawar luka, yang sesungguhnya lebih butuh obat penawar luka? Aku yang seharusnya dilindungi, aku yang seharusnya disayangi, aku yang seharusnya dicintai, malah kau permainkan seolah hatiku sudah mati.

Aku tak sepenuhnya menyalahkanmu, akupun paham betapa bodohnya aku selalu saja mau dipermainkan oleh cintaku yang tulus untukmu.

Aku tak sepenuhnya menyalahkanmu, akupun paham betapa bodohnya aku selalu saja mau dipermainkan oleh cintaku yang tulus untukmu. Kau yang selalu menganggapku anak kecil dengan segala keegoisanku dan kekanak-kanakanku. Hei, tak tahukah kamu bahwa anak kecil selalu jujur dengan segenap perasaannnya? Tak tahukah kamu bahwa anak kecil selalu tulus melakukan segala sesuatunya untuk orang yang ia sayangi? Tak tahukah kamu bahwa anak kecil tak pernah menyimpan dendam dalam hatinya sekalipun ia tersakiti? Tak taukah kamu bahwa anak kecil lebih bisa menghargai perasaan sayang yang diberikan untuknya? Aku memang anak kecil, yang gampang ditipu dengan harapan semu.

Sudah seharusnya dari dulu aku melepaskanmu

Sudah seharusnya dari dulu aku melepaskanmu. Sebelum akhirnya semua menjadi semakin rumit, sebelum akhirnya rasaku semakin dalam hingga aku yang enggan melupakan.

Karena memang benar, terkadang kita perlu berbenah diri dan membuang yang telah berlalu untuk mendapat sesuatu yang baru.

Tapi hari ini aku menyadari, setelah bertahun-tahun hidup dalam luka. Akhirnya aku sadar aku harus berbesar hati menerima kenyataan bahwa ia sudah bukan milik kepunyaanku, hatinya telah berubah, sikap dan sifatnyapun sudah bukan ia yang ku kenal dulu. Aku sadar, aku yang harus merelakannya dan tidak berusaha untuk kembali menahannya. Aku yang harusnya melepaskan genggamanku, bukan genggamannya. Aku yang seharusnya berani mengambil keputusan besar dalam hidupku untuk melnagkah dan tidak mengharapkanmu lagi kembali apalagi menoleh kearah mu. Meskipun di waktu-waktu tertentu aku jatuh, tapi harusnya aku bisa kembali membangkitkan diriku sendiri, karena harusnya aku lebih mencintai diriku sendiri dibandingkan kamu. Aku kini berusaha untuk memaafkanmu dan berdamai pada diriku sendiri. Karena memang benar, terkadang kita perlu berbenah diri dan meninggalkan yang telah berlalu untuk mendapat sesuatu yang baru.

Aku siap melangkah sekarang, demi hidup baru yang selalu ku tunggu. Ketahuilah bahwa hari ini aku memaafkanmu dan aku merelakanmu

Untukmu yang “pernah” aku cintai sepenuh hati namun tak pernah menganggap keberadaanku, terimakasih telah meninggalkanku dengan segala kelukaan yang ada, ketahuilah bahwa hari ini aku memaafkanmu dan aku merelakanmu. Sekarang bahagialah kamu dengan yang lain. Akupun demikian, aku berdamai dengan diriku dan mulai mengasihi diriku lebih dari sebelumnya. Karena aku tau, tak mungkin terus aku menambah luka yang semakin lama kian memborok. Biar waktu, menjadi bagian dari proses aku melepaskan dan merelakan serta menyembuhkan. Akupun yakin, akan ada waktuNya nanti aku pasti bahagia dengan yang terbaik, yang dari padaNya.