Terkadang, angin yang berhembus pada musim kemarau tidak selalu menyejukkan jiwa. Bisa jadi, ia datang hanya menambah gersangnya raga.

Memang tak pernah terbayang akan menjadi seperti ini pada akhirnya. Semua waktu dan perasaan yang pernah tercipta diantara kita kini perlahan telah sirna. Aku bahkan tidak tahu dengan siapa kini aku sedang berbicara, karena kamu sudah seperti orang lain lagi buatku.

Awal pertemuan kitda dan semua masa yang pernah kita lewati bersama memang menjadi cerita yang indah dalam hidupku. Kamu seperti memberi angin segar dalam rutinitasku yang amat melelahkan.

Tapi, perlahan, kamu pun berubah.

Lalu kamu menghilang, dan menjelma menjadi sosok yang asing bagiku. Dan seperti cerita sebelumnya yang pernah aku alami jua, kini cinta itu pun kembali kandas tak berbekas.

Advertisement

Cinta itu seperti menguap begitu saja, kamu pergi dari hidupku tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Aku hampir tidak bisa menemukan diriku sendiri, karena kamu telah membawa lari separuh hati yang kumiliki. Bahkan lebih buruk lagi, kamu sama sekali tidak kembali.

Ketakutan yang menggema di dalam rongga kepalaku akan masa lalu yang bisa berulang. Aku takut, kamu punya yang baru, lalu dengan sengaja pergi meninggalkan aku yang semakin hari semakin tergopoh berjalan mencari sisa cinta yang dulu.

Tapi kamu seakan terus terbang tanpa menoleh dan memperdulikan aku. Aku kian pilu, saat akhirnya aku tahu memang ada yang baru di hatimu.

Hari-hariku terasa kelabu.

Senja seakan tak pernah lagi seindah dulu sebelum ada kamu.

Menyakitkan, dan betapa menyedihkannya aku. Ku pandangi diriku di cermin, perubahan terjadi di sana-sini Tubuhku kian kurus, rambutku berantakan, dan mataku hitam membengkak karna menangisimu semalaman. Pekerjaanku kacau, dan aku berubah menjadi sosok sensitif yang mengerikan.

Tapi kemudian, aku keluar dari kamarku dan melihat ibuku yang sudah tua, dengan susah payah ia mencuci baju sendiri.

Dia bahkan lebih kurus dariku karena hampir tak memperhatikan makannya sendiri dan selalu mendahulukan isi perutku.

Disitulah aku mulai sadar. Aku masih punya banyak mimpi yang harus aku perjuangkan demi masa depanku dan orang-orang yang aku sayang.

Ibuku, dia yang menyayangiku, bukankah dia lebih pantas untuk mendapatkan cinta tulus dariku daripada kamu yang pergi menghilang begitu saja dan tak pernah memperdulikan aku lagI?

Hari berlalu, dan aku semakin tersadar, toh aku juga masih punya banyak teman. Mereka yang selama ini selalu bisa membuat aku tertawa. Yang akhirnya kini kuyakini, dengan atau tanpa dirimu, aku akan terus dan selalu bahagia bersama teman dan keluargaku.

Kadang aku tak mengerti kenapa harus selalu kamu yang memilih siapa-siapa yang terbaik untuk mendampingimu. Padahal, kamu sendiri juga belum tentu sempurna 'kan? Mengapa harus selalu memilih lalu meninggalkan sisi yang lain? Aku berani bertaruh, cepat atau lambat kamu juga pasti akan bosan dengan yang sekarang.

Sudahlah Tuan, sekarang akan aku tutup dari tulisan ini. Kamu memang boleh kapan saja datang Tuan, tapi maaf, hanya sebagai teman.