Kau sering kali menstigmaku jika aku tak pernah meresapi semua kata-katamu. Kau salah besar! Aku mengingat semua kalimat yang pernah kau ucapkan. Bahkan aku sering membacanya hingga berulang kali terutama jika aku merindumu.

Jika sampai detik ini kau masih meragukanku, jawabannya ada di dirimu. Kenapa aku sering bertanya? karena kau tak pernah datang untukku, tak pernah bersapa meskipun melalui suara. Jika seperti itu kenyataannya, bagaimana aku percaya seutuhnya kepadamu? Datang dan berbicara sesekali mungkin bisa menjadi solusi. Setidaknya, kau pernah bicara langsung dan meyakinkanku. Tak perlu juga kau datang berkali-kali. Cukup sekali saja. Tapi lupakan saja karena aku tahu jika pertemuan adalah satu hal yang “mustahil” untukmu.

Tapi, ketahuilah meskipun kau menyakinkanku melalui sebuah tulisan, nyatanya aku tetap mempercayaimu. Dan ketahuilah jika setiap saat muncul pertanyaan yang sama dariku. Aku hanya mencoba memastikan jika kalimat yang kau ucapkan akan tetap dan selalu sama. Tapi, sepertinya kau salah mengartikannya. Kau hanya menganggapku seorang yang tidak pernah paham bahkan dengan seribu kata-kata yang sama.

“meyakinkan wanita sepertimu, meskipun dijelaskan dengan seribu kata hanya akan berarti satu kata. Dan beribu-ribu kalimat juga tak ada yang berarti satupun di hatimu”

Serentetan kalimat yang menyesakkan. Ah tak apa, aku wanita kuat, mungkin ini yang dinamakan sebuah lika-liku hidup. Aku mencoba menikmatinya. Pahit memang, rasanya seperti memakan berpuluh-puluh pil obat. Ya, memang sepertinya luka yang dahulu kembali menganga dan semakin melebar.

Advertisement

Tapi aku tak apa. Hanya saja, ingatlah ini.

Suatu hari nanti akan datang jawaban dariku untukmu. Jawaban atas ketidakkuasanku menanggung semua ini. jika kau menganggapku aku sedang bersenang-senang dengan lelaki lain, jawabannya TIDAK!! Ketahuilah aku bukan seorang wanita yang begitu mudahnya memberikan hati ini untuk orang lain. Butuh waktu lama sekali yang aku sendiri tidak pernah tahu kapan datangnya waktu itu.

Untukmu yang memiliki hati sekeras baja, berapa lama lagi hatimu melunak? Aku tak pernah tahu, mungkin saja kau sudah menemukan seorang yang jauh lebih baik dariku. Semoga saja, aku tetap mendoakan yang terbaik untukmu.