Yang menjadi awal ketakutakutanku saat ini adalah diamnya KITA

Kita tahu bahwa dalam setiap hubungan akan slalu menemui sebuah ujian, tidak ada kebahagiaan yang bisa kita dapatkan tanpa melaluinya dengan ujian dari sang pencipta, karna seseungguhnya Allah sendiri yang maha tahu dimana kita mampu melaluinya dengan kesabaran maka disana kelak ,kebahgiaan sejati kita temui.

Kau tahu, saat ini aku begitu takut, takut dengan diamnya kita satu sama lain terus menerus akan membuat cinta diantara kita luntur secara perlahan, haruskah kau dan aku seegois ini terhadap KITA?

Bukankah jika kita saling berbicara, maka mungkin saja ujian yang kita hadapi saat ini akan ada jalan lebih baik selain diam, tidakkah kau berpikir bahwa kita mungkin saja saling merindukan satu sama lain? Yah, ku akui aku rindu, rindu canda tawa kita bersama sepeti kemarin

Aku takut terlalu lama diam denganmu membuatku terbiasa tanpa lagi memikirkanmu, karna berpikir positive tantang kita yang pasti akan kembali baik2 saja, namun aku slalu membayangkan bagaiman kisah lalu pernah memberiku pembelajaran tentang seseorang yang memilih banyak diam dengan hubungan kami dan aku membiarkannya begitu saja, ku ikuti caranya karna ku tidak ingin memaksanya bicara deganku, untuk beberapa bulan hingga akhiirnya aku terbiasa tanpa kabar darinya, dan aku merasa canggung ketika dia mulai menyapa kembali walau sekedar mengatakan apa kabar?

Advertisement

Memang baginya diam adalah cara seseorng berpikir realis tentang sebuah kedewasaan, namun aku tidak ingin terlalu lama diam.

Diamku cukup ketika aku sedang kecewa atau sedang marah, namun pada akhirnya walau masih kecewa aku tetap berpikir untuk berbicara karna aku tahu mungkin hari esok yang akan dating tak slelau memberiku kesempatan untuk berbiacara (lagi) dengan dia yang kudiamkan selama ini.

Mengalah, mengapa tidak untuk mengalah pada keadaaan? Bukankah, mengalah bukan berarti kita kalah, mungkin itu ada salah satu cara untuk kita menjadi pemenang. Yah aku mengambil kata biajk ini dalam setiap keadaanku