Bagiku, pertemuan dan perpisahan itu ibarat takdir yang sudah digariskan. Andai, andai, andaiโ€ฆ Begitu saja khayalan kita jika kurang bersyukur.

Aku memiliki banyak sekali pengalaman buruk dalam hidup, dari keluarga, teman, dan cinta, semuanya memilukan. Keadaan keluarga yang berawal harmonis hingga terpecah belah. Teman yang manis di depan, busuk di belakang. Hingga mencintai seseorang bertahun-tahun tapi ujungnya di tinggal pergi. Ya, itulah hidup. Tidak selalu indah.

Apalagi soal broken home. Broken home adalah hal terpahit dalam kehidupan, paling ditakuti oleh semua anak di dunia. Nggak ada satu pun dari kita yang menginginkan perpisahan, kita semua pasti memilih keutuhan dalam keluarga. Benar kan?

Tapi, jalan sudah diatur oleh Tuhan. Semua bisa berubah kapan saja. Saat orang tua mulai sering berselisih paham, bertengkar hebat, berjauhan bahkan saling membenci, itu adalah ujian dari Tuhan. Apakah mereka sanggup mengahadapinya atau malah berpaling saling melepaskan. Jika benar-benar tidak bisa diperbaiki, kita harus menyiapkan diri agar tegar untuk menjalani.

Menangis boleh saja, tapi jangan sampai terpuruk. Jangan melakukan hal-hal yang membuat kita lebih hancur. Singkirkan pikiran keji, jauhi segala hal negatif. Tunjukkan pada semua orang bahwa kita mampu melewati semuanya. Berdoa sebanyak mungkin agar kita dikuatkan. Kalau tidak dengan berdoa, apalagi yang bisa kita lakukan? Berlutut, memohon agar tidak bercerai? Mengancam bunuh diri supaya orangtua kita berbaikkan?

Advertisement

Tidak perlu, sikap itu sangat egois. Percayalah pada orangtua kita. Jika mereka memaksakan kehendak yang kita mau, justru merekalah yang akan menderita, batin mereka akan tersayat-sayat setiap hari, kesedihan akan terus menerus dirasakannya. Apa itu yang kalian mau?


Ikhlaslah, Tuhan sudah menakdirkan semuanya.


Terkadang perpisahan adalah satu-satunya jalan terbaik daripada terpaksa mempertahankan. Cobalah mengerti. Mereka akan sangat bahagia bila kita ikhlas menerima jalan yang mereka pilih. Bukan berarti sok bijak dalam hal ini, karena sebetulnya aku pun senasib dengan kalian. Aku juga korban broken home, tapi aku tidak pernah menyesali takdir dari Tuhan.

Yaaa, meskipun sering kali aku bersedih saat melihat keluarga temanku, utuh, saling melengkapi dan bahagia. Entah mengapa saat ku lihat keluarga mereka, air mataku mengalir begitu saja, hatiku serasa teriris-iris. Membuatku kembali mengenang masa-masa bahagia dengan keluargaku (dulu). 


Tapi aku bisa apa? selain menangis dan berusaha tegar. 


Dahulu, aku sekeluarga sering kali berpergian, ramai-ramai berekreasi kesana-kemari. Kadang jika sedang bosan kita biasa karaokean di rumah, menyanyikan lagu-lagu lawas kesukaan Ayah, bercengkrama di ruang keluarga, sebelum tidur diceritakan dongeng. Bahkan saat berkumpul di rumah saja, aku pun tetap bahagia. 

Itu adalah kenangan yang sangat menyenangkan, tidak ada air mata di masa itu, hanya ada tawa dan senyuman yang terpancar. Tapi sekarang, hal tersebut tak akan terulang. Hanya album foto yang tersisa, setidaknya masih ada kenangan yang bisa untuk ku lihat.

Itulah sedikit cerita dari pedihnya perpisahan. Untuk kalian yang memiliki kelengkapan dalam keluarga, jangan pernah berhenti untuk bersyukur. Kita di sini sangat ingin menjadi kalian. Jangan membuat orang tua kalian saling bertengkar. Jadilah anak yg baik, supaya orang tua kalian bangga memiliki kalian.

Dan bagi kita yang tidak seperti mereka, jangan berkecil hati, selalu ada pelajaran di setiap kejadian. Tuhan mempercayai kita atas cobaan ini, karena kita lebih kuat dari mereka. Tanpa kita sadari kebahagiaan itu sangat mahal harganya, bahkan tidak dijual di mana pun dan berapa pun.


Apapun yang terjadi, bersyukurlah, maka kamu akan merasa lebih tenang. Tersenyumlah, maka kesedihanmu akan berkurang. Dan tertawalah, maka kesakitanmu akan menghilang.


Aku, yang rindu masa kecilku  ๐Ÿ’›๐Ÿ˜Š