Aku bukannya menyerah, namun sikapmu kadang membuatku ragu perihal kau ini menerimaku ataukah tidak?

Sesaat diriku tersadar akan waktu yang berjalan begitu cepat, membuat jarak di antara kita semakin tercipta. Semuanya telah berubah, begitu pula dengan dirimu, dan juga kita. Bahkan saat ini kata “Kita” pun telah terhapus termakan waktu. Ya, waktu telah berhasil memutarbalikkan cerita indah kita sehingga perpisahan tanpa ucapan pun menjadi penyebab berakhirnya cerita yang telah lama aku buat.

Memang tak ada yang mengetahui takdir apa yang kita miliki saat ini, namun waktu telah menjawab segalanya bahwa kita mungkin tidak diijinkan untuk bersama lebih lama lagi. Seperti yang pernah kau bilang, jika semuanya baik-baik saja tidak akan ada hati yang terluka.

Tapi lihatlah tuan, disini ada aku yang terluka jadi mana mungkin hubungan ini bisa dikatakan baik-baik saja? Kau pergi tanpa ada kata sepatah pun terucap dari mulutmu, kau pergi tanpa meninggalkan pesan apapun untuk diriku lalu bagaimana dengan “Kita” yang kau anggap baik-baik saja? Tak ada kepastian apapun tentang hubungan kita, semuanya telah berakhir bagiku.

Aku pergi karena lelah,aku lelah karena aku sudah mulai berpikir menggunakan logikaku. Seandainya aku terus dikecewakan,utk apa bertahan

Advertisement

Bagaimana aku dapat menjalani semuanya tanpamu, jika saat itu saja aku terlalu terbiasa melakukan semuanya bersamamu? Setiap kali aku terdiam dalam renungan, sosokmu dan kenangan manis tentang kita lewat begitu saja dalam otakku sehingga menyebabkan air mataku turun dan membuat rasa sakitku kembali basah. Namun aku tetap saja ingin kuat dengan pendirianku, bahwa semua tentang kita telah berakhir meski tanpa ada ucapan perpisahan itu.

Semuanya telah berbeda, berjalannya waktu telah membunuh kebersamaan kita dan kenangan kita sehingga membuatku berhenti memperjuangkan kita dan dirimu yang entah kini berada dipelukan siapa.

Kepergianmu membuatku untuk bungkam, membuat rasa penasaran akan pergi dirimu tak ku sesalkan. Sekarang diriku hanya bisa berdiri di dalam ruang yang begitu gelap, dimana sosokmu tak terlihat lagi di dalam pandanganku. Dimana jemarimu sudah tak dapat lagi aku raih dan aku genggam seperti dulu. Gelap telah membawaku jauh dari dirimu dan hanyalah kekosongan yang kini tinggal bersama kenangan manisku denganmu.

Aku ingin melupakanmu dengan sederhana. Seperti tatapan terakhir yang menyembunyikan sedikit airmata. Sepi menyeka tawa dan air mata

Saat rindu mulai membelenggu jiwa Lagu terindah sekalipun tak mampu redamkan hati yang terus mengukir namamu Kubingkai kembali kenangan yang pernah terjadi Tergambar
jelas tawamu yang pernah menghiasi hari Memupus duka yang kini membelenggu hati Hingga aku sadar kau tak lagi disini