Berawal dari sebuah chat, kita dekat dan mulai saling menyapa. Kamu dengan mudahnya ciptakan rasa nyaman sehingga aku mampu menjalani hari-hariku yang dulunya tak berarti dan kamu mampu mengubahnya dalam sekejap.

Kamu memang bukan yang pertama membuatku nyaman seperti ini, namun seiring berjalannya waktu kamu mampu menjadikan hati yang dulunya kosong menjadi terlatih, terlatih untuk menerima-mu yang mampu nyamankan hatiku, mengisi kekosongan hariku.

Kadang, aku rela menunggu chat darimu berjam-jam dan ketika hanya sebuah pesan maaf darimu saja mampu meluluhkan hati dan perasaanku dalam sekejap. Maksud hati ingin melampiaskan kekesalanku menunggu chatmu pun aku tak sanggup ketika hanya menerima sebuah pesan berisi kata maaf darimu.

Jujur, aku tak mau berlama-lama merasakan perasaan seperti ini, bukan ini yang aku inginkan. Bukan ini yang aku harapkan.

Aku tak ingin perasaan yang menjadikan kamu tuan di hatiku berlarut-larut tanpa adanya kepastian darimu. Aku tahu terlalu dini memang untuk mengungkapkan perasaan ini, namun apa daya hatiku tak mampu menahan lebih lama lagi,

Advertisement

Kadang aku menghabiskan waktuku hanya untuk melihat foto mu, aktivitasmu di sosmed .Terbesit di pikiranku untuk mengomentari atau sekedar menyapa di sosial mediamu , sering kali merasa cemburu ketika kau membalas komentar atau menyukai status salah satu akun wanita di sosial mediamu. Kejadian itu sempat membuatku malas untuk membalas chatmu beberapa saat.

Tapi lagi-lagi kau mampu membuat hatiku percaya lagi, membuat hatiku tergugah lagi oleh perasaan yang aneh ini. Perasaan nyaman, takut kehilangan apapun itu.

“Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada sungguh karenaMu… Katakanlah wahai semua pencinta di dunia. Katakanlah ikrar cinta itu hanya karenaNya. Katakanlah semua kehidupan itu hanya karena Allah. Katakanlah semua getar-rasa itu hanya karena Allah. Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang Menciptakan dunia dengan kasih-sayang mengajarkan kita tentang cinta sejati. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakikatNya. Semoga Allah sungguh memberikan kesempatan kepada kita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak membeku. ” ― Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa

Sekedar mimpi ku mungkin untuk memlikimu, sekedar mimpi ku mungkin untuk bersamamu, kamu terlalu sempurna, terlalu indah untuk bersanding denganku, aku hanyalah setitik debu yang mengharapkan hadirmu.

Tuhan, aku tahu ini tidak mungkin, aku tahu ini hanyalah khayalanku .

Perasaan macam apa ini? Perasaan takut kehilangan tapi kami bukanlah sepasang kekasih, kami hanyalah sekedar teman chat, yang kadang saling mengisi dikala jenuh, saling mengisi ketika kosong, saling menguatkan ketika sedang lemah, saling bertukar pikiran dan cerita ketika senggang.

Tapi aku mengharapkan lain, aku berharap dia selalu ada, selalu seperti ini bahkan aku ingin lebih.

Egois? Memang, aku ingin dia selalu hadir dan mengisi hari-hariku . bersamaku setiap saat tanpa ada batasan jarak diantara kami.

Aku tahu ini sulit, tapi aku selalu berdoa agar selalu didekatkan dengannya, membuat dia merasakan hal yang sama denganku, membuat dia menjadikanku satu-satunya dalam hidupnya.

Tuhan, aku inginkan dia lebih dari apapun di dunia ini,

Tuhan, hanya kepadaMu lah aku meminta, jadikanlah aku ratu dihatinya, jadikanlah aku yang tak akan dia abaikan, jadikanlah aku yang akan dia bahagiakan, jadikanlah aku wanita yang dia prioritaskan setelah Engkau, jadikanlah dia menerima kehadiranku pula sebagai apa yang diharapkannya.

Tuhan, Engkaulah maha pengenggam rasa semua makhluk di dunia ini.

Yogyakarta, 17 Juli 2017