Matahari di Timur Indonesia sangat cerah mengiringi kedatangan saya pagi itu, setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih 4 jam dari Jakarta. Mungkin saya bukanlah satu satunya orang yang mengalami duduk resah melawan rasa kantuk maksimal di dalam pesawat, menunggu sampai akhirnya mendarat di Bandara Sultan Baabullah. Kaki saya sudah berpijak di bumi para Sultan, seakan menyusun kepingan puzzle dari angan-angan yang saya gambarkan sendiri sedari tadi saat perjalanan, ternyata yang ada di depan mata saya saat ini membuat saya berdecak kagum, pulau vulkanik dibawah kaki gunung api Gamalama yang menjadi urat nadi dari kepulauan yang kaya akan rempah ini benar-benar luar biasa menawan.

Kepulauan yang mahsyur dikenal dengan “Mutiara dari timur” mempunyai jejak sisa dari keagungan di masa kejayaan kesultanan, kentara sekali saat saya melewati Kedaton Ternate dalam perjalanan dari bandara, selain itu tembok-tembok benteng yang berdiri kokoh dan megah mempunyai cerita tempo dulu yang tak bisa dipisahkan dengan bagian sejarah Indonesia, saya seperti dibawa kembali mengulang pelajaran sejarah tentang perebutan rempah-rempah oleh bangsa Eropa di awal abad ke – 15 yang konon kabarnya jenis rempah pala dan cengkeh hanya tumbuh di bumi Maluku.

Di perjalanan perdana saya bersama dengan anggota keluarga yang merupakan keturunan asli Ternate, siang itu saya menjelajah dataran tinggi dan berhenti untuk melihat Danau Ngade. Laksana keelokan yang tersembunyi, mata saya dibuai oleh salah satu pulau yang terbentang dari sekian banyak pulau yang tersebar secara sporadis . Alam kepulauan Ternate sangat pandai bersolek, menunjukkan geliat kecantikan khas Indonesia Timur. Tidak banyak yang saya lakukan selain berfoto dengan latar belakang Pulau Tidore, cukup untuk memulai perkenalan perdana saya dengan mengunjungi tempat ini.

Di hari kedua, saya akan menyiapkan tenaga untuk menjelajah mulai dari Danau Tolire, konon legenda yang melatar belakanginya sangatlah menarik. Sambil berjanji akan mencari tau sejarahnya setelah sampai disana, saya menikmati perjalanan berliku dan menanjak, kondisi jalan saat itu sangat berdebu karena Gunung Gamalama sedang sedikit bersin mengeluarkan abu vulkaniknya. Sesaat setelah sampai di tempat parkir, saya menjumpai penduduk lokal yang menjual kantong kresek berisi batu, karena penasaran saya membeli 2 kantong dan akan mencari jawabannya setelah sampai.

Pertanyaan di benak saya terjawab juga akhirnya setelah sampai diatas dan menemukan 2 Danau , masyarakat setempat menyebutnya dengan Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil, keduanya terletak berdampingan dan jarak satu sama lain diprediksikan kurang lebih 200 Meter. Nah, batu yang saya beli tadi ternyata digunakan untuk membuktikan mitos yang berkembang, bahwa sekuat apapun kita melempar batu tersebut ke arah danau, konon batu itu tidak akan pernah menyentuh permukaan air danau. Penasaran akhirnya saya coba , dan ternyata memang benar, batu yang saya lempar tadi seperti terdorong oleh gaya gravitasi yang berbeda dibawah sana, karena seolah olah batu tersebut seperti terhisap masuk ke semak belukar pada sisi-sisi danau yang menyerupai sebuah jurang. Sejauh ini menurut cerita memang tidak ada yang bisa melempar batu hingga sampai ke tengah danau.

Advertisement

Menariknya tempat ini selain indah karena bentang hijau dipermukaan air danau menyajikan siluet misterius nan anggun, saya seperti disajikan kembali cerita-cerita para leluhur yang menghiasi keindahan danau ini, legenda nya Danau Tolire dulunya adalah sebuah perkampungan yang dikutuk karena perbuatan dosa ayah kandung yang menghamili anak nya sendiri. Kedua figur utama dari legenda tersebut akhirnya membentuk menjadi 2 danau , dan masyarakat yang menghuni desa tersebut ikut tenggelam lalu berubah menjadi jelmaan buaya putih untuk melindungi danau tersebut. Ada juga versi yang menyebutkan bahwa di dasar Danau Tolire yang tidak seorang pun mengetahui kedalamannya, banyak sekali tersimpan harta karun milik para sultan pada saat bangsa portugis menginjakkan kaki di Pulau Ternate. Danau Tolire adalah tempat penuh legenda masa lampau bak buku-buku dongeng Nusantara dan juga keindahan alam disekitarnya, bertemu menjadi satu gradasi menarik.

Masih ada sisa waktu dan tenaga untuk menjelajah, berikutnya saya pergi menuju kawasan wisata Batu Angus. Dari sini saya mulai membidik panorama indah di segala penjuru, karena tempat wisata ini mempunyai 4 inti latar belakang pendukung yang luar biasa indah, batu-batu hitam pekat yang terbentuk dari hasil muntahan Gunung Gamalama. Lagi-lagi Gunung Gamalama yang berada di sisi barat menjadi salah satu latar belakang visual pada setiap tempat dimanapun saya menginjakkan kaki di Pulau Ternate, seolah 2 elemen alam ini adalah simbol dari kekasih abadi tak terpisahkan, Lalu ada laut pada sisi timur dengan ombak nya yang cukup besar menghantam batu-batu di bibir pantai dan juga Pulau Halmahera, saya bisa melihatnya dari dataran yang lebih tinggi di kawasan Batu Angus. Perpaduan unsur-unsur panorama tersebut sangat serasi untuk dinikmati. Sejarah yang menyelimuti kawasan Batu Angus ini pun cukup menarik untuk didengarkan dari cerita penduduk lokal sekitar, dahulu kala kawasan ini adalah tempat tewasnya seorang tentara Jepang, konon tentara tersebut pada saat perang dunia ke II terjun dari pesawat untuk mendarat dengan parasutnya, naasnya parasut tersebut tidak dapat terbuka dan akhirnya tentara Jepang itupun meninggal dunia, maka dibuatlah situs sejarah disini untuk mengenang peristiwa tersebut.

Melanjutkan menapaki si Mutiara dari Timur ini, 1 hari penuh saya putuskan untuk bermain air, dan pilihan saya adalah pantai paling hits di Ternate yaitu Pantai Sulamadaha, Bentangan pasir di pantai ini memang berwarna hitam, tapi tidak kalah dengan pantai berpasir putih, karena air nya sangat jernih hingga kita bisa melihat dengan jelas terumbu karang dibawah air tersebut. Beberapa masyarakat menyebutnya pantai kaca, tidak heran karena permukaan air nya seperti kristal-kristal kaca yang membingkai ekosistem laut yang indah dibawahnya. Sepertinya saya belum boleh terpana sampai disini saja, karena saat menikmati berenang di pantai kaca, sekali lagi mata saya dimanjakan oleh panorama Pulau Hiri yang berhadapan langsung dengan Pantai Sulamadaha, nuansa dua keelokan yang bisa saya rasakan dalam 1 waktu benar-benar membuat saya tak berhenti untuk takjub. Lalu ada Teluk Sulamadaha yang berada di arah barat dari pantai ini, hanya butuh berjalan kaki sekitar 10 menit dari tempat parkir. Jalan menuju kesana agak kecil dan menanjak, tetapi kelelahan itu dapat terbayar ketika saya telah sampai di lokasi. Siluet gradasi hijau dan biru air laut serta hamparan pasir putih sangat menyegarkan mata, disini saya memang tidak berniat untuk snorkeling atau diving, jadi saya hanya berkeliling dengan perahu berkapasitas 3-4 orang untuk melihat pemandangan Pulau Hiri dan keindahan panorama di sekitar pantai.

Sore saat masih tersisa waktu untuk menikmati cerah dan hangatnya matahari di bumi Timur Indonesia, saya menyebrang dari Pelabuhan Bastiong menuju Pulau Tidore dengan menggunakan Fery, tidak memakan waktu lama untuk sampai di Pelabuhan Tidore, saya hanya ingin melihat lihat suasana di sekitar Pelabuhan Tidore. Bagi warga lokal, pendatang seperti saya dianjurkan untuk tidak mengunjungi Pulau Tidore saat menjelang sore hingga malam, karena banyak pula mitos yang menyelimuti kepulauan tersebut. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Pelabuhan Bastiong dan pulang. Saya sempat mampir untuk duduk-duduk menikmati angin terbuka di sisi Pantai Falajawa.

Belumlah lengkap jika saya tidak mencicipi keanekaragaman kuliner ala #Iniplesirku. Setelah mengumpulkan beberapa informasi, salah satu tempat terindah untuk menikmati alam sekaligus kuliner khas Ternate adalah Restoran Floridas. Kabar tersohornya Kepiting Kenari di tempat ini, membuat saya berniat untuk datang mencicipi dan mengunjunginya sebelum pulang. Saya mendapat akses view menawan saat datang berkunjung di sore hari, air laut pada jam tersebut menampilkan semburat warna gradasi biru kehijauan, selain itu Pulau Maitara yang gambarnya diabadikan dalam lembaran uang seribu langsung terbentang di depan mata, ditemani Pulau Hiri dan Pulau Halmahera yang juga bisa kita lihat dan nikmati dari balkon resto . Tempat ini benar benar menawarkan romantisme kuliner berpadu dengan pesona alam disekitarnya.

Terakhir setelah puas menjelajah, ada satu tempat yang saya kunjungi untuk membeli oleh-oleh khas Ternate, satu diantara sekian banyak yang wajib dibawa pulang yaitu Ikan Cakalang Fufu, Ikan Cakalang yang sudah diasap ini dari baunya pun sudah cukup menggiurkan. Dijual di pasar dekat tepi pantai, namanya Pasar Dufa-Dufa . Kebetulan saya memesan H-1 sebelum kembali pulang, agar lebih fresh ketika sampai di rumah. Beruntung nya saya juga bisa memesan sate ikan yang juga berbahan dasar dari Ikan Cakalang untuk oleh-oleh, rasa nikmatnya sangat juara.

Sampailah pada episode hari kepulangan saya ke Jakarta, beberapa hari yang saya lewati masih terasa sangat kurang, tempat ini lebih memukau dari yang pernah saya bayangkan, keramah tamahan masyarakatnya, kuliner nya yang masih terasa asing di lidah tapi begitu nikmat, pesona sejarah, nuansa kental keislaman nya dan semua hal yang berpadu membuat cerita #IniPlesirku sangat menarik untuk dibawa pulang, kemudian saya berjanji dalam hati untuk datang lagi di bumi para sultan, si pulau pesolek natural yang luar biasa cantik.