Dalam hidup, selalu ada yang pertama. Begitu pun dengan cinta.

Ada beberapa lelaki yang telah membuatku jatuh cinta dengan berbagai macam alasan, tapi tak dapat dipungkiri, laki-laki satu ini adalah cinta pertamaku.

Barangkali dia adalah lelaki paling sederhana di dunia, yang selalu berpikir positif, polos, dan menyayangi keluarganya lebih dibanding dirinya sendiri. Dia juga adalah lelaki yang memiliki senyum paling menawan di mataku. Melihatnya, aku selalu percaya bahwa bahagia itu bisa begitu sederhana.

Seperti kata pepatah, cinta pertama adalah kenangan yang paling indah.

Pada jatuh cinta yang berikutnya, barangkali tanpa sadar aku telah mencari sosok yang mirip dengannya, sekalipun aku tahu itu hal yang mustahil. Dia hanya ada satu di dunia dan tidak akan pernah tergantikan.

Advertisement

Kemudian aku bertemu seorang lelaki lain, dengan sosok yang lain, kepribadian yang lain, dan kesederhanaan yang lain. Barangkali dia memang tidak memiliki senyum paling menawan, tapi dia punya senyum yang menenangkan, yang membuatku percaya tidak ada hal yang mengkhawatirkan di dunia ini. Maka aku memutuskan, laki-laki inilah yang akan menjadi cinta terakhirku, yang akan menjadi teman hidup dalam melewati semua hari-hari yang kupunyai.

Keduanya begitu istimewa: cinta pertama dan cinta terakhirku. Maka ketika kedua sosok itu bertemu, ada geletar dalam dada yang tidak berhasil kukuasai. Kalian duduk bersama, ya, kalian: kamu dan ayahku. Dua laki-laki paling berharga dalam hidupku akhirnya bertemu, dan aku tiba-tiba merasa ada dua sosok dalam diriku: putri kecil Ayah, dan gadismu yang siap untuk kau bawa pergi dari rumah.

Ayahku jarang sekali menangis. Ketika naik ke panggung perpisahan sekolah saat aku meraih ranking 1, ketika aku diwisuda, ketika aku pindah kerja ke luar kota, Ayah tidak menangis. Tapi duduk di depanmu, mengajakmu bicara, tiba-tiba aku mendengar suaranya bergetar. Aku tahu Ayah menahan tangis dan aku tidak berani menatap wajah teduhnya. Suara Ayah bergetar ketika dia bertanya padamu, apakah kau benar-benar siap dan yakin untuk hidup seterusnya bersamaku.

Demi mendengar suara Ayah yang bergetar dan kemudian mendengar jawabanmu, bagaimanapun aku mencoba bertahan, air mataku tetap jatuh juga.

Sampai kapan pun, Ayah tetap akan menjadi cinta pertama dan lelaki yang paling berharga. Baginya, aku juga tetap putri kecil yang dulu minta dibonceng sepeda dan dibelikan kembang gula.

Dan kamu, adalah cinta terakhir yang tidak kalah berharga, yang dengan segala kerelaan hati, telah bersedia menerima dan mempercayaiku untuk hidup bersamamu.

Terimakasih. Terimakasih atas semua cinta yang kudapatkan.

Betapa aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia dengan kehadiran kalian berdua. Aku akan terus berusaha menjadi putri Ayah yang baik. Juga kekasih terbaikmu, yang akan membuatku memang layak mendapatkan cinta itu.