“Tembok pemisah kita bukan waktu, bukan pula jarak tapi keyakinan”

Bersama denganmu bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang telah kita lalui besama, banyak hal yang kita korbankan dan perjuangkan agar aku dan kamu tetap menjadi kita. Namun apalah daya kita jika jalan yang kita lalui berbeda. Puluhan bahkan ratusan kali ku pikirkan tetap saja tidak ada jalan untuk kita, sebab tembok penghalang kita terlalu besar dan tak mampu untuk kita hancurkan. Berjalan ke arah yang sama namun jalan yang berbeda, aku di sini dan kamu di jalan seberang. Apalah daya kita untuk menaklukkan tembok penghalang ini?? Aku dan kamu pun tahu ini hal yang tidak mudah bahkan mustahil untuk kita lewati. Tembok pemisah kita bukan waktu, bukan pula jarak tapi keyakinan.

“Dan ternyata hati terlalu ngotot menyimpan rasa ini namun pada akhirnya tetap saja hati mampu dikalahkan oleh logika”

Perasaan ini bukanlah hal yang bisa hilang begitu saja, entah mengapa rasa ini sesalu ada setiap kali kita dipertemukan kembali dalam satu arah meski di jalan yang berseberangan. Dan perpisahan bukanlah hal yang baru untuk kita, sebab logika selalu mematahkan hati ini saat rasa yang kita punya mulai menuju ke arah “semakin”, yaah semakin aku mencintaimu. Baik aku dan kamu pun merasakan hal itu. Dan sekali lagi, apalah daya kita?? Seiring kesadaran yang tiba-tiba muncul di permukaan akhirnya kita berpisah atas dasar alasan yang memang tepat untuk dipertimbangkan. Tapi entah mengapa bukan hanya perpisahan yang selalu kita jumpai sebab seiring bergulirnya waktu, aku dan kamu kembali memulai apa yang sudah kita sepakati untuk berakhir. Ini melelahkan yaah sayaang, tapi apalah daya kita yang tak sanggup melenyapkan rasa?? Seiring dengan rasa yang ternyata begitu hebat, baik aku dan kamu hanya bisa bemasa bodoh dengan perbedaan ini hingga akhirnya tiba saatnya logika kembali mematahkan hati kita untuk yang kesekian kalinya.

“Ketika tasbih dan salib tidak bisa menjadi satu”

Advertisement

Jangan benci Tuhanku karena kita tak bisa bersatu, aku pun tidak akan membenci Tuhanmu. Betapa pun kerasnya kita berjuang, sedalam apapun perasaan yang kita punya, dan meski kita sama-sama tidak ingin berpisah toh pada akhirnya kita harus menyerah. Bukan karena cinta kita tidak berharga tapi aku dan kamu begitu menyadari ada batas yang tidak bisa kita lewati. Aku dan kamu pun tahu betul tak terhitung berapa banyak doa kita bertemu dalam “amin” yang sama namun tak luput menutup mata kita bahwa Tasbih dan Salib tidak bisa menjadi satu. Meski kadang aku sering bertanya-tanya “mengapa kita harus berbeda”.

“Dan Aku rindu saat-saat dimana kita bermasa bodoh dengan keadaan”

Dan kali ini, ketika aku menulis ini kita pun telah terpisah lagi. “ini yang terakhir” kalimat itu keluar dari aku dan kamu. Apa kamu tahu aku merindukanmu?? Sampai saat aku menulis ini aku sangat merindukanmu. Aku rindu rasa masa bodoh kita terhadap keadaan, masa dimana kita menyadari perbedaan diantara kita tapi dengan sengaja kita kesampingkan sejenak sampai tingat kesadaran kembali pada level yang semestinya. Aku rindu masa-masa dimana kita saling mengingatkan untuk tidak lupa beribadah. Masih terbayang saat kamu membangunkanku untuk sahur di bulan Ramadhan juga mengingatkan aku agar sholat tepat waktu, dan aku mengingatkanmu untuk ibadah minggu. Aku rindu semua itu. Dan lewat tulisan ini aku ingin menitipkan pesan untukmu. Bukalah hatimu untuk wanita yang baru, yang seiman denganmu jangan yang seperti aku . Cari yang terbaik agar aku bisa menitipkan perasaanku untukmu padanya, agar tanggungjawabnya menjadi lebih besar hingga dia tidak akan menyakitimu.

“Kamu adalah hadiah terhebat dari Tuhan”

Terima kasih dariku atas ketulusanmu mencintai aku. Terima kasih karena tak pernah lelah menghadapi tingkahku yang kadang menguji kesabaranmu, juga untuk segalanya yang telah kita lalui bersama aku sangat berterima kasih. Maaf bila harus sesakit ini, maafkan aku untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapmu. Yang harus kamu tahu, kamu sudah punya tempat tersendiri di hati ini. Sejak awal kita saling kenal, mulai berteman dan menjadi kekasihku bahkan sampai saat ini ketika kita tidak saling berkomunikasi layaknya orang asing namamu masih tetap di sini. Sebab aku percaya, kamu adalah saudara terhebat yang Tuhan hadiahkan padaku, yang aku tahu kamu untukku sebagai apapun itu.

“Ini hanyalah drama hati antara aku, kamu, dan Tuhan. Drama yang menguji kesetiaan kita terhadap-Nya”

Aku bangga dengan hubungan ini, sejauh perjalanan yang kita lalui tak satu kali pun kita mencoba untuk menghapus perbedaan diantara kita. Dan kini saat perpisahan terakhir yang kita yakini untuk yang terakhir kalinya ini, aku menyadari bahwa aku dan kamulah pemenang dari drama ini. Drama hati yang melelahkan dari Tuhan, drama hati yang tak henti-hentinya menguji kesetiaan kita berdua. Yaah, kesetiaan aku dan kamu terhadap-Nya Sang Maha Pencipta.

Tulisan ini untukmu,

“Chrisna Saputra Hendrianto S”

Cowok terbaik yang pernah menjadi milikku.