Berkali-kali aku jatuh cinta, berkali-kali pula aku terluka. Kenapa mesti ada cinta jika selalu ada luka di sana. Oh.. Mungkin memang seperti itu hidup, kita tidak akan pernah merasa dicintai kalau belum merasa dilukai. Ya benar begitu. Namun aku iri pada mereka yang sering bilang cinta itu sederhana, lalu apa yang aku rasakan selama ini? Bukan cinta kah? Aku tak merasa sederhana sama sekali, aku harus jatuh tersungkur berulang-ulang, menangis berkali-kali, kecewa tak terhingga, bahkan dia yang semula aku puji-puji kini berubah jadi aku benci.

Jika rumit, tentu itu bukan cinta.

Yaaa cinta memang sederhana, hanya saja aku belum menemukannya.

Kadang aku berpikir, ketika hatiku patah pasti Tuhan tidak lagi sayang dengan aku, pasti Tuhan tengah menghukumku, pasti Tuhan tengah menjatuhkan karma-Nya untukku. Sedih? Sudah pasti. Terluka? sudah jangan ditanya. Tuhan selalu memberi ganti yang lebih baik saat yang baik telah pergi. Aku percaya itu, selalu percaya.

Dari situ aku belajar bahwa ketika ada sekian banyak yang datang lalu pergi, aku tak lagi menganggapnya patah hati, apalagi berlarut-larut tinggal dalam lubang sakit hati. Karena justru itu aku jadi penasaran dan semakin penasaran, dalam hidupku siapa lagi yang akan Tuhan kirimkan?

Advertisement

Tuhan… bukan aku mau mengeluh, bukan pula aku akan menyerah dengan cinta yang tak pernah tinggal lama dalam hati. Namun bukankah usaha itu banyak bentuknya? Bukankah berjuang tak selamanya bisa dipandang? Iya kan Tuhan? Memperbaiki diri juga dinamai usaha, berdoa juga dinamai berjuang. Iya bukan?

Satu hilang, satu lagi datang, kemudian hilang dan ada lagi yang datang. Apa jalan cinta selalu begitu? Iyaa jalan cinta memang selalu begitu. Hingga kita menghembuskan nafas terakhir pun tidak akan pernah ada yang benar-benar abadi dalam hati, kecuali yang Maha Abadi.

Tuhan… Kau hadirkan dia dalam hidupku, mungkinkah ini yang terakhir? Mungkinkah dia tak akan pergi lagi seperti orang-orang sebelumnya? Aku masih ingat rasanya ditinggalkan, dan itu sangat menyakitkan. Aku tak ingin semua itu kembali terulang, biarlah semua hanya akan aku kenang.

Kamu dihadirkan diwaktu yang tepat, saat aku berada terjatuh kamu hadir mengulurkan tangan yang bisa aku genggam untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Kamu bagaikan bintang yang melengkapai malam. Kamu bagaikan angin yang melengkapi indahnya pantai. Dan Kamu bukan hanya pandai mencuri hatiku, tapi juga waktuku. Tanpa kusadari telah kusediakan ruang kecil di hatiku untukmu. Yang selalu kutata rapi dan menunggu untuk kamu tempati.

Satu tahun bukan waktu yang singkat, tapi bersamamu semua hanya terasa sekejap. Benarkah aku jatuh cinta?

Bagaimana bisa aku menunggumu untuk menyatakan cinta kepadaku, sedang aku sendiri belum tau apa aku benar-benar cinta kepadamu. Aku memang bahagia saat kita saling berbagi cerita suka maupun duka, tapi apa itu yang namanya jatuh cinta? Aku selalu antusias membalas pesan singkatmu, bahkan sesekali aku bingung membalasnya, harus mikir lama, takut salah, takut kamu nggak bales lagi, takut, takut, dan takut. Tapi apa itu yang namanya jatuh cinta? Mengapa masih terasa rumit sekali?

Sejak saat itu tidak ada hari yang kulewatkan tanpa memikirkan kamu, apa kamu tau itu? Buku diary-ku juga penuh dengan cerita tentangmu, handphone-ku penuh dengan fotomu yang tanpa ijin telah kucuri dari akun sosial media mu, begitu juga ingatanku tak lepas dari bayang-bayang senyum indah di balik wajah manismu.

Ya kini aku sadar bahwa ini adalah cinta, namun bersama dengan kesadaran itu kamu kini menjauh pergi. Ahh… lelah memang, selalu begini rasanya mencintai. Aku kira setelah bertemu denganmu, Tuhan tak lagi mengajakku bercanda soal cinta. Namun ternyata kamu pergi juga.

Kamu tak pernah menjanjikan apa-apa padaku, kamu hanya membagi kebahagiaan untuk beberapa paruh hidupku. Namun aku telah salah, aku salah mengartikan semuanya, aku terlalu percaya bahwa kebahagiaan yang kamu bagi akan abadi, pada kenyataannya tidak. Kamu hanya datang sesaat dan kemudian pergi.

Hingga sekarangpun aku masih percaya bahwa kamu hanya pergi untuk sebentar dan akan kembali lagi nanti. Bukankah Tuhan selalu bersama prasangka Hamba-Nya? Benar bukan?

Aku sudah membentengi diriku kuat-kuat bahwa sebelum adanya pernikahan semua laki-laki yang datang bisa kapan saja menghilang dan itu hal wajar yang semua orang hampir mengalaminya. Yang sudah menikah pun bisa cerai, yang pacaran bisa putus, apalagi yang hanya dekat tanpa status. Bukan cuma aku satu-satunya orang yang jatuh terpuruk karena cinta, bukan cuma aku yang sampai saat ini masih sendiri dan belum menemukan cinta sejati, bukan cuma aku yaa… bukan cuma aku.

Jika laki-laki bisa seperti itu, apa ada yang beda dengan perempuan? Tidak ada! Laki-laki dan perempuan sama saja. Sama-sama tak ingin disakiti, sama-sama ingin disayang, namun terkadang mereka lupa bahwa dalam langkahnya mencari kebahagiaan sesekali ia menaruh luka pada seseorang.

Kini siapa lagi yang akan Engkau kirim buat aku, Tuhan? Aku penasaran dengan cara-Mu mengembalikan hatiku yang telah patah ini. Iya, aku selalu penasaran akan hal itu, sama seperti sekarang, sedang kunanti kejutan dari-Mu dengan rasa penuh penasaran.

Menunggu seseorang yang belum pasti mau menerima kita memang bukan hal yang salah, hanya saja membuang-buang waktu. Bila nasi sudah menjadi bubur, apa bubur itu sudah tak bisa dinikmati? Tentu tidak, bubur itu tetap bisa dimakan, dengan ditambah ayam akan jadi bubur ayam. Lebih enak bukan?

Begitu juga dalam cinta, agar waktu penantianku tidak berlalu dengan sia-sia, maka aku harus menggunakannya dengan penuh makna. Memperbaiki diri dan selalu berdoa adalah usahaku untuk bisa pantas bersanding denganmu. Jika pada akhirnya kita tak ditakdirkan bersama, seenggaknya aku sudah berubah menjadi lebih baik dan bisa menunggu yang lain untuk datang. Tapi apa cinta semudah itu untuk berpindah ke lain hati? Tentu tidak!

Entah kenapa mengingat tentangmu, mengkhayal hidup bersamamu membuatku lebih semangat menjalani hari-hariku, walau itu hal kecil sekalipun. Aku jadi lebih semangat belajar di dapur, aku lebih semangat kerja, aku lebih semangat mengurus diri, aku lebih semangat menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sederhana memang, namun hasilnya luar biasa. Walau mungkin kamu tak peduli dengan semua ini, namun aku tak pernah merasa rugi.

Kini Tuhan mengabulkan doa-doaku, walau bukan orang baru yang Tuhan kirim sebagai pengganti, namun kehadiranmu mampu menutup luka yang telah lama menganga. Kamu hadir lagi menawarkan kebahagiaan, mana sempat aku memikirkan alasanmu kenapa dulu pergi, jika hanya mellihat senyummu pun telah mampu menghapus semua duka itu.

Jangan pergi lagi, ya! Hati ini tempatmu, bukan yang lain.