Kamu, ya, masih tentang kamu.

Kamu yang memutuskan sebegitu yakin untuk meninggalkanku, aku tak tau apa yang menjadi alesan kuatmu yang membuat kau sebegitu yakin pergi dariku. Yang ku tau saat itu kau meminta untuk bertemu denganku dan ternyata itu adalah pertemuan terakhir untuk kita.

Hari itu aku melihat kau begitu rapih dari biasanya, kau terlihat bahagia dan di sepanjang perjalanan kita pergi, di lubuk hatiku aku memantapkan hatiku untuk membicarakan tentang hubungan kita kedepannya, karena di hari itu juga aku yakin kalau kamu adalah jawaban dari doaku.

Bahwa kamu yang membuat aku yakin kalau aku bisa merasakan cinta itu lagi, dan membuatku yakin kalau hubungan ini akan sampai ke pelaminan.

Tetapi semua itu sirna ketika kau bilang padaku ingin berbicara sesuatu dan di awali dengan kata maaf dan kejadian itu pun terulang lagi.

Advertisement

Dulu di awal kamu memutuskan untuk mendekatiku kau begitu hangat, perhatianmu dan segala sikapmu menunjukan kalau kamu berniat untuk mendekatiku. Saat itu aku dilema karena aku lagi dekat juga sama temanmu, tapi akhirnya aku memutuskan untuk memilihmu karena semua usahamu.

Semakin hari ke hari aku semakin nyaman denganmu dan aku semakin terbuka denganmu, kuputuskan menceritakan pengalaman terpahitku dengan cinta kepadamu agar kau tak akan berbuat hal yang sama dan kau lah yang bisa menyembuhkan lukaku.

Tetapi ketika hatiku kembali utuh, kau yang membuat lubang itu lagi di hatiku.

Bisakah kau menjelaskan apa yang membuatmu begitu mudah untuk pergi ??

Setelah apa yang kau ciptakan untukku, kau membuatku terbang tinggi jauh ke awan dan kau pun yang menjatuhkannya begitu dalam.

Siapa yang bersalah dalam hal ini, aku atau kamu?

Apa takdir yang tidak merestui kita berjalan beriringan?

Dan kini aku hanya meminta waktu untuk segera menyembuhkan lukaku, meski aku harus tertatih tatih tanpamu dan aku yakin aku bisa.