Pernah sangat begitu berjuang demi untuk menjalin masa depan yang berujung bahagia, walau kita sama-sama tau betapa banyak rintangan yang menghadang, bukan hanya kerikil-kerikil kecil lagi, tapi sudah merupakan batu besar yang akan menjadi tembok penghalang untuk kebersamaanku dengan kekasihku …
4 tahun menjalin kasih harusnya sirna hanya dalam satu detik ? Sempat menyalahkan Tuhan kenapa harus mempertemukan kita dengan keadaan yang memiliki perbedaan yang begitu sulit untuk dipersatukan . Dia dengan salib yang melingkar dilehernya, dan aku dengan tasbih yang melingkar di tanganku .
Sempat menyerah pada tahun pertama hubungan ini, tapi hati tak mampu berdusta, aku sangat membutuhkan dia disisiku, begitu dia yang membutuhkan aku untuk selalu berdiri dibelakangnya. Kembali bersama dan mengukir kebahagiaanlah yang akhirnya kami pilih untuk jalan kami.
Tiada hari yang kami lewati tanpa membicarakan perbedaan diantara kami, pilu dan kelu. Bibir ini sudah mulai lelah untuk terus membicarakan hal yang sama, hati sudah mulai kaku setiap kali pertengkaran kembali mengiringi pembicaraan kita, kalau sudah masalah keyakinan, salah sedikit saja lukanya terasa begitu dalam, bahkan lebih dalam rasanya dibanding dengan sebuah penghianatan.

Kami mungkin memang bukan orang yang religius, tetapi kami tetap yakin pada keyakinan yang kami miliki sehingga jalan apapun tak dapat ditempuh.Ketika usia sudah mulai bertambah, dan pertanyaan kapan menikah sudah tak asing lagi, keributan diantara kamipun tak dapat terelakkan lagi,

Dari adu argumen, adu mulut, bahkan tak jarang hingga satu sama lain saling terluka oleh perkataan masing-masing, tapi itulah cara Tuhan untuk menguji iman dan kesetiaan kami padaNya. Tak pernah Tuhan memberikan hukuman atau sentilan terhadap kami, tapi caraNya menguji kesetiaan kami padaNya begitu sempurna, entah salahkah jika diantara kami memilih untuk meninggalkan keyakinan kami hanya untuk pasangan kami ?

Beri kami jalan jika memang kami tak dapat bersatu, jauhkan rasa ini pelan-pelan jika memang Kau tak ingin kami bersama, jangan siksa kami dengan perasaan yang tak beraturan seperti ini. Beri kami jawaban dalam doa kami yang berbeda tempat Tuhan …

Hingga pikiran tak mampu lagi berfikir, kaki tak mampu lagi menopang tubuh, aliran darah tak lagi mengalir, kamipun menyerah . Mengibarkan bendera putih tanda perdamaian pada Tuhan, meminta agar Tuhan membuat kami hilang ingatan, menguburkan segala kenangan kami, membakar segala memori yang pernah terjadi diantara kita, mencabut namamu dalam hatiku, dan mengunci rapat-rapat hatiku dari hadirnya dirimu .

Advertisement

Kalau tak bisa bersatu untuk apa Kau mempertemukan kami ? Kalau tak dapat berpisah untuk apa Kau mempersulit kebersamaan kami ?

Hingga pada suatu ketika disaat bulan mulai muncul, bintang mulai bertabur, kegelapan mulai menyentuh, hembusan angin memeluk dengan dinginnya, Tuhan memberikan pilihan yang sangat begitu menyakitkan . Kenapa tak dari hari pertama ? Kenapa tak dari tahun pertama, kenapa setelah berjalan hingga hari ke 1580 Kau memberikan jawaban itu kepada kami

Ganti pasanganmu atau gantilah Tuhanmu !

Aku memang bukan sosok yang religius, tapi aku tak mampu meninggalkan keyakinan yang sudah lama melekat dalam diriku, sudahlah … mungkin ini cara Tuhan mengatakan bahwa dia bukan jodohku, jangan terlalu menyalahkan Tuhan, karena Tuhan telah memiliki rencana indahnya dibalik ujiannya .

Bantu aku melupakannya dan segala kenangannya jika memang Kau tak menjodohkan kami. Peluklah aku agar aku selalu kuat untuk melihatnya bersama seseorang yang memang Kau takdirkan untuk bersamanya walau itu bukan aku .