Tanpa disadari dalam rutinitas yang kita jalani, entah itu dalam suatu organisasi, kantor, sekolah ataupun komunitas tak jarang kita dipertemukan dengan orang-orang yang tidak menyenangkan. Bukan hanya dipertemukan, namun kita "dipaksa" untuk bergaul atau bersosialisasi dengan seseorang yang memiliki karakter yang berbeda 180' dengan kita. Berbeda di sini bukan hanya sebatas ide yang dimiliki tetapi lebih jauh dari itu, kita dihadapkan pada sosok yang "mengesalkan" bahkan cenderung membuat muak.

Kita tentunya sangat paham dengan istilah "rambut sama hitam tetapi isi kepala setiap orang itu berbeda" ataupun pepatah "lain lubuk lain ikannya". Setiap situasi akan membawa kita kepada sebuah kondisi yang mengharuskan kita untuk mengenal dan berinteraksi dengan orang baru. Baik kita menginginkannya ataupun tidak. Karena sejak proses penciptaannya, manusia memang ditakdirkan untuk berinteraksi dengan orang lain. Bahkan seorang bayi pun sejak dalam kandungan telah melakukan interaksi dengan sang Ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan.

Perkara berinteraksi ataupun melakukan komunikasi dengan orang lain ataupun sekelompok orang secara sekilas merupakan hal yang mudah. Suatu hal sederhana yang siapa saja bisa melakukannya. Terlebih mengingat keberadaan teknologi informasi yang semakin pesat dalam beberapa dekade belakangan. Interaksi ataupun komunikasi merupakan suatu hal yang jamak dilakukan oleh siapa saja. Bahkan kegiatan ini dapat dilakukan tanpa memikirkan lagi batas ruang dan waktu. Siapa saja dari belahan bumi manapun dapat melakukan komunikasi ataupun berinteraksi dengan setiap orang.

Akan tetapi pertemuan ataupun interaksi yang kita lakukan baik secara langsung maupun menggunakan media lain, tidak menutup kemungkinan untuk terjebak dalam situasi yang mengharuskan kita untuk "bermuka dua". Dalam arti di satu sisi kita tidak ingin untuk bersosialisasi dengan orang tersebut, tapi di sisi lain keadaan mengharuskan kita untuk tetap harus menjabat tangan, bercakap ataupun melakukan suatu hal secara bersama. Keadaan ini tentu saja tanpa disadari akan menyebabkan diri kita merasa tertekan. Keengganan ini bisa jadi disebabkan oleh karakter atau kepribadian orang yang kita kenal tersebut "bermasalah".

Kita tentunya banyak menemukan orang-orang dengan karakter "bermasalah" dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, pembohong, sombong, keras kepala, anti kritik, tinggi hati, pemalas, suka bergunjing ataupun sifat-sifat tidak terpuji lainnya. Dalam kadar yang rendah/ sedang mungkin kita masih bisa tahan untuk berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan orang-orang tersebut. Tapi jika kadarnya tinggi bahkan sangat tinggi maka kita akan berada di dalam situasi yang serba salah atau merasa dilema sendiri. Apalagi jika hal ini diperparah jika oleh karakter orang tersebut, seperti "bermuka badak" ataupun "tuli".

Advertisement

Artinya orang-orang yang tidak menyenangkan tadi, memiliki sifat-sifat atau karakter buruk yang sudah berurat berakar alias tidak bisa diubah. Dia tidak mau mendengar nasihat, merasa benar sendiri bahkan cenderung "kepede-an"Nah, selanjutnya apa yang akan kita lakukan jika menghadapi posisi seperti ini? Barangkali selemah-lemahnya iman atau kekuatan yang dimiliki, kita hanya bisa memasrahkan segala kepada Sang Pencipta (Tuhan YME). Tapi itu semua tidak akan ada artinya jika kita belum berusaha, baik sedikit ataupun berbuat maksimal untuk mengubah orang tersebut.

Kita tentunya tidak menginginkan jika apa yang kita lakukan (sekolah, kantor, organisasi, dll) terganggu hanya karena ulah orang-orang tersebut. Hidup kita terlalu sia-sia untuk hanya mengeluhkan persoalan yang sebenarnya ada di diri mereka. Sebagai manusia yang bisa kita lakukan di antaranya adalah memberikan nasihat dengan cara yang baik tentang hal-hal yang tidak kita sukai dari orang tersebut. Setiap orang pasti pernah merasakan ataupun sangat paham bahwa segala bentuk keburukan tidak teratasi jika kita hadapi dengan keburukan pula. Dalam setiap keburukan yang ada pada diri seseorang, bisa kita jadikan sebagai tantangan ataupun cara untuk menjadikan diri kita lebih baik lagi. Karena secara tidak langsung kita bisa berkaca pada diri orang tersebut.

Meski kita sama-sama manusia, namun relatif tidak semua orang diberkahi oleh kepekaan untuk merasa/ mengerti. Entah itu ke dalam diri sendiri ataupun kepandaian untuk memahami orang lain. Jika kita telah memberikan nasihat ataupun melakukan suatu hal yang bisa "menyadarkan" akan kekeliruan yang mereka miliki, maka dalam rentang tertentu (batas diri yang kita miliki) kita bisa menjauh dari orang-orang tersebut. Hal ini dimaksudkan, kita bisa memberi jarak ataupun membatasi ruang pertemuan kita dengan orang tersebut. Seperti kita hanya berkomunikasi perihal urusan kantor, dsb dengan orang tersebut.

Karena tentunya kita menyadari setiap interaksi yang tidak mendatangkan manfaat hanya akan menambah tingkat "stres" ataupun kekesalan di dalam diri yang justru membuat masalah bagi kesehatan fisik ataupun kejiwaan kita. Oleh sebab itu, dalam skala yang telah kita buat adakalanya kita harus mundur atau mengalah. Akan tetapi bagaimana halnya jika yang terjadi justru sebaliknya, "orang-orang bermasalah" tadi tetap tidak merasa dan malah semakin mendekatkan dirinya kepada kita dan berbuat hal-hal yang menambah ketidaksukaan kita pada diri mereka.

Hal ini lama kelamaan mungkin saja akan menimbulkan "malapetaka". Bisa jadi secara tidak langsung kita menunjukkan ketidaksukaan itu melalui cara bicara, berinteraksi ataupun bahasa tubuh yang memperlihatkan itu semua. Mungkin terlalu naif, jika kita disarankan untuk terus berlaku baik. Namun jika memang demikian, tidak ada salahnya. Jika orang-orang itu tidak mengerti dengan bahasa halus yang kita perlihatkan, maka sudah saatnya kita memilih cara lain. Mengungkapkan ketidaksukaan kita disertai dengan argumen yang masuk akal maupun menyampaikan bentuk kesalahan/kekeliruan atau hal-hal buruk yang ada di dalam diri orang tersebut secara langsung (dalam situasi tertentu) bisa menjadi cara jitu yang perlu kita coba.

Mungkin di dalam kepala kita bisa merancang ataupun menegaskan kepada diri sendiri bahwa kita tidak harus menyukai setiap orang yang kita temui, tapi sebagai sesama manusia kita harus tetap menghormatinya. Kita tentunya tidak ingin menjadi seseorang yang sama menjengkelkannya dengan orang-orang tersebut. Yang perlu kita lakukan adalah membuat penegasan (baik langsung/tidak langsung, halus/to the point) kepada orang tersebut bahwa sifat atau sikap mereka benar-benar telah mengganggu.

Pada dasarnya ada hal-hal yang mesti kita toleransi lebih ataupun tidak memedulikan suatu hal yang terjadi. Namun jika hati kecil kita sudah berbisik, maka jangan pernah dibiarkan ia berlalu. Karena bisa jadi itu pertanda bahwa kita harus "melawan" ataupun melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Karena pergaulan yang sehat akan membuat jiwa dan raga kita ikut sehat dan bahagia.

Jadi, perhatikan dan dengarkan detak jantung serta rasa yang ada di hati kecil kita semua. Bukankah pada akhirnya setiap orang berhak untuk memperoleh kebahagiaan dan kenyamanan dalam setiap apa yang kita lakukan di atas dunia ini. ^_^

(Padang, 18 Des 2016)