Jantungku kembali tersentak ketika dengan sengaja Tuhan kembali mempertemukan kita dalam diam. Saling memandang satu dengan yang lain dan tak ada yang berani menyapa. Mungkinkah, “Hai, bagaimana kabarmu saat ini?” atau “Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” bisa dengan tenang terucap dari bibir kita? Namun di sana—di tempatmu berdiri, kau bergumam sendiri, seakan mengucapkan sesuatu yang hanya dirimu sendiri yang boleh mendengarnya.

Hembusan angin masih membawa awan, melangkah di atas pohon cemara, memayungi kita. Sementara butir salju masih dengan tenang melayang—beterbangan menghujani kita yang masih tegap berdiri di tempat masing-masing, saling memandang dan tak ada yang mau berpaling.

Kuberanikan diriku menatapmu, mengamati setiap senti tubuhmu. Dari yang paling atas—ujung rambut hingga ke bagian paling bawah. Kau terlihat berubah. Kau jauh lebih kurus dan wajahmu pun berubah tirus. Matamu pun terlihat sendu. Aku bisa melihat sorot kesedihan yang terpancar dari matamu.

Aku kembali teringat saat dulu ketika kita masih remaja, saat usiamu telah meninggalkan angka dua puluh. Kau terlihat sangat sehat, tubuhmu sangat padat, wajahmu juga terlihat berseri dan yang paling membuatku terpesona adalah matamu yang tajam namun teduh. Membuat setiap orang yang melihatnya merasa aman dan damai. Begitu juga yang aku rasakan ketika melihatmu—melihat matamu di kala sore, ketika kita berpapasan di depan masjid. Matamu selalu menyinarkan keindahan, menyejukan dan membiusku seketika. Membuatku tak bisa berucap meski hanya dengan satu kata, “Hai!”

Dengan langkah santai kau menghampiriku, menyapaku. Aku pun hanya membalasnya dengan senyum malu. Sambil menunggu waktu Isya’ datang kau mengajakku mampir ke warung untuk sekedar bercerita sambil minum teh dan makan gorengan. Kadang juga kau menceritakan kepadaku tentang mantanmu sebelum kau pindah ke desa. Betapa dia tergila-gila kepadamu sampai hampir bunuh diri ketika kau memutuskannya dengan alasan kau sudah tidak cinta lagi. Alasanmu benar-benar tidak masuk akal.

Advertisement

“Perempuan itu matre, dia hanya mengincar hartaku saja,” jelasmu kemudian.

Ketika aku bertanya, bagaimana kau bisa tahu kalau perempuan itu matre. Dengan santai kau menjawab, “Mantannya! Mantannya kan sahabatku. Anak dari rekan kerja ayahku,” lanjutmu sambil meneguk secangkir teh hangat. Aku hanya tersenyum simpul sambil mengelus dahimu yang sedikit berkeringat.

Ketika adzan Isya’ mulai berkumandang, kau mengajakku bergegas meninggalkan warung dan mengantarku kembali ke masjid. Begitulah aktifitas yang kita lakukan setiap hari, saat menunggu azdan Isya’.

Kita selalu melewatkan setiap malam bersama.

Ketika sabtu sore, aku mengantarmu ke gereja untuk misa, menunggumu di teras masjid yang kebetulan berada tepat di samping kanan gereja. Hanya sekedar bercakap dengan takmir masjid atau mengaji.

Jika kau melakukan misa di hari minggu pagi, maka aku akan ikut masuk ke dalam gereja, menemanimu misa. Setelah misamu usai, kita selalu menyempatkan untuk berjalan-jalan ke carfreeday—pasar minggu, yang kebetulan berada tak jauh dari gereja. Sekedar jalan-jalan menikmati hari bebas kendaraan. Terkadang juga kita membeli sesuatu yang kita anggap menarik.

Ketika kita bertemu kembali saat ini, aku masih melihat kalung berbandul kunci yang menggantung manis di lehermu. Masih tergambar jelas dalam benakku. Kalung itu aku beli saat ulang tahunmu. Aku membelikan dua buah kalung—satu pasang. Kau memilih kalung yang berbandul kunci, sedangkan yang berbandul gembok untukku. Menurutmu itu ada filosofinya. “Aku ingin hanya aku yang bisa mengambil hatimu dan menggantinya dengan hatiku,” katamu kala itu. Tetapi pada faktanya, kau pergi meninggalkanku. Kau memberikan hatimu kepada perempuan lain. Perempuan yang tiba-tiba datang dalam perjalanan cinta kita. Perempuan yang katamu adalah teman kecilmu di kota yang juga anak dari rekan kerja ayahmu dan sedang berlibur dan ingin menengok keadaanmu.

Semenjak perempuan itu hadir, kau jarang menemaniku, menunggu datangnya adzan Isya’ di warung. Kau juga tak pernah mau kuantar ke gereja lagi. Bahkan ketika kau sakit, kau tidak menghubungiku. Kau malah menghubungi perempuan itu. Katamu, kau takut merepotiku. Siapa yang kau repoti? Kau kekasihku. Aku tak pernah merasa kau repoti. Aku justru senang karena bisa menemanimu saat kau sakit.

Semakin lama kita semakin jauh. Kau tak pernah menghubungiku dan aku pun juga begitu. Namun, kerap sepulang dari sholat Isya’ aku melihatmu sedang membonceng perempuan itu entah ke mana. Perempuan itu melingkarkan tangannya di perutmu. Kalian begitu mesra.

Keesokan harinya aku beranikan diri untuk menemuimu di rumah. Aku sengaja membawakan manisan kesukaanmu. Langkahku terhenti ketika aku melihatmu sedang duduk bersama perempuan itu di ayunan teras rumahmu. Kau dan dia begitu akrab. Bahkan perlahan kau mendekatkan wajahmu ke wajahnya. Sesaat sebelum bibirmu dan bibirnya bersentuhan, tanpa sengaja rantang yang berisi manisan kesukaanmu pun terjatuh, tercecer di pafing halaman rumahmu. Tanpa pikir banyak lagi aku langsung berlari meninggalkan rumahmu. Aku tak tahu harus lari ke mana, yang jelas aku terus berlari menjauh dari rumahmu.

Samar-samar aku mendengar suaramu memangil. Kau mengejarku. Aku sudah tidak peduli lagi. Tak sedikit pun aku menoleh ke belakang. Aku kuatkan diriku. Jika nanti aku menoleh ke belakang, aku akan berhenti dan memelukmu, kembali menjadi milikmu dan aku akan terluka lagi.

Sampai pada akhirnya kau bisa menangkapku. Kau meraih tanganku dan mencoba meminta maaf dan berkata dengan kata yang tak bisa kucerna

“…. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud…”

Plak…

Dengan sadar aku menampar pipi kirimu, seketika itu kau langsung diam. Menunduk dan tak berani mengangkat kepala. Kau tetap bergeming dengan kata-kata maaf dan penyesalan. Kau sama sekali tidak mengaduh atau merasa sakit.

“Kalau aku tidak datang dan melihatnya, kamu pasti sudah menciumnya.” Aku mendorong tubuhmu menjauh dariku. Aku kembali menghujatmu dan tidak memberimu kesempatan untuk berbicara. Menjelaskan apa yang terjadi, karena memang sudah tidak ada lagi yang harus kau jelaskan lagi.

Saat itu juga, aku memintamu untuk berhenti mencintaiku dan melupakanku. Kau bersikeras memohon kepadaku agar aku tidak memutuskanmu. Namun, itu harus kau lakukan.

“Ini,” kataku sambil memberika kalung berbandul gembok kepadamu. Kau menatapku dengan penuh tanda tanya. “Berikan kepadanya, agar kamu bisa mengambil hatinya dan menggantikan hatinya dengan hatimu” lanjutku dan aku kembali berlari menjauh darimu. Berkali-kali kau memanggilku, aku tidak peduli. Aku terus berlari hingga aku tak lagi mendengar suaramu.

Beberapa hari kemudian, ketika aku mengantar ibuku belanja di pasar, kami bertemu dengan ibumu. Beliau mengatakan, kalau kau sekarang pergi ke kota untuk melanjutkan kuliahmu di sana. Dan ketika aku bertanya apa ada pesan untukku, “Kamu harus bahagia,” kata ibumu sambil tersenyum manis. Aku pun membalasnya dengan senyum basa-basi. Jujur aku merasa ada bagian dari tubuhku yang hilang. Tetapi aku tak pernah menyesalinya.

Dan kini aku kembali bertemu denganmu, saling memandang satu dengan yang lain dan tak ada yang berani menyapa. Masih sama-sama melawan ego.

“Apa kamu bahagia?” Akhirnya kaulah yang mampu mengalahkan ego.

“Seperti yang kamu lihat. Kamu?”

“Bagaimana aku bisa bahagia, jika kebahagiaanku telah lama terpisah dariku?”

Hening. Kita sama-sama membisu dalam diam. Hanya terdengar suara angin yang kembali menurunkan salju dari pohon cemara, kembali menghujani kita dengan sengaja.

Entah benar atau tidak, aku melihat air matamu memerah dan meneteskan air mata. Ini kali pertama aku melihatmu menangis. Dulu ketika kita bertengkar, aku tidak melihatmu menangis, aku hanya melihat raut kesedihan dari wajahmu.

Maaf jika aku membuatmu menangis. Kini aku sudah menutup pintu hatiku dan membuang kuncinya jauh-jauh. Agar kau tidak bisa lagi mengambil dan melukainya lagi. Sudah cukup sekali aku terluka karenamu.

Sesaat sebelum kau mengucapakan sesuatu, seorang gadis cilik berlari kecil ke arahku, kemudian menarik pelan tanganku, “Bunda! Ayo kita pulang. Ayah sudah menunggu kita.” Dan salju pun kembali turun dari ujung awan.