Kamu sosok asing yang masuk dalam kehidupanku, yang bahkan tak pernah kudengar namamu sebelumnya. Hingga suatu ketika kau menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatku sangat bahagia. Hari-hari, bulan-bulan yang kita lalui bersama seolah tak pernah padam dalam ingatan, bagaimana kita tertawa, bercanda, saling mencela, bahkan menangis bersama kita telah melakoninya. Hingga suatu ketika aku tak mengerti kenapa harus ada keegoisan di antara kita. Aku tau kamu sudah mencoba, kamu sudah berusaha menjadi apa yang aku pinta. Perjuanganmu, pengorbananmu, bahkan air matamu telah kau tumpahkan semua, aku berharap itu bukan semu belaka.

Sampai sekarang tidak bisa kumengerti, apakah ingin selalu bersamamu itu suatu keegoisan? Apakah aku cemburu itu kesalahan? Apakah bermanja-manja denganmu suatu dosa? Apakah takut kehilanganmu itu suatu larangan? Andai kamu tahu kenapa aku melakukan semua itu, sayang, ya aku terlalu sayang, dan itu menyiksamu.

Waktu berlalu, bukan hanya keegoisan saja, tapi gengsi mulai bermunculan di antara kita. Bukankah kamu sangat menyayangiku? Bukankah kamu ingin selalu bersamaku? Tapi, kenapa kau tak pernah mengucap semua itu?

Gengsimu terlalu besar, gengsi kita terlalu besar, andai suatu saat kamu membaca tulisan ini, aku hanya ingin kamu tahu. Aku mendekati semua lelaki hanya untuk membuatmu cemburu, dan aku hanya ingin mendengar satu ucapan sayang darimu, hanya itu.

Sampai suatu ketika kau melepaskanku dengan air mata, aku tahu kamu melakukannya dengan sangat terpaksa. Aku bisa membaca semua ucapan matamu kala itu. Apa yang bisa aku lakukan kecuali menangis? Merelakan kamu pergi dan membiarkan kamu mencari kebahagiaanmu. Sebesar apapun usahaku untuk melarangmu pergi malam itu rasanya percuma karena takdir berkata tidak untuk kita.

Advertisement

Ketika tiba hari tanpa senyumanmu, tanpa pesan darimu, tanpa telepon darimu, tanpa ocehan darimu benar-benar terjadi, aku merasa dunia mati. Segalanya kulalui, aku meyakinkan diri aku kuat aku bisa segalanya pasti berlalu, dan aku berharap suatu saat kita akan berjumpa dengan rasa yang berbeda, dengan kebahagiaan masing-masing dan kita akan menjadi teman, dengan segala kenangan yang sudah dikubur dalam-dalam.

Tapi alam selalu berkata lain, apakah kita salah telah saling mengenal? Apakah kita salah pernah bersama? Apakah kita salah pernah memiliki rasa? Hingga batin ini harus tersiksa dengan ucapan-ucapan kasarmu, kamu begitu membenciku sekarang. Tuhan kenapa seburuk ini takdir darimu? Apakah ini benar jalan yang terbaik? Kenapa begitu menyiksaku? Hingga aku harus tertatih lagi dengan luka-luka lamaku.

Ketika aku mulai bangkit dari keterpurukan ini, berita bermunculan, kamu sudah tak sendiri, kamu sudah memiliki seorang kekasih hati. Tuhan berapa kali lagi aku harus merasakan sakit yang seperti ini? Sampai kapan aku harus merasakan sakit yang bertubi-tubi? Kamu telah bahagia, kamu telah mendapatkan kebahagianmu sekarang. Aku ingin berteriak, aku ingin sekali protes terhadap jalan hidupku. Kenapa aku yang harus begitu tersiksa? Andai kamu tahu betapa susahnya aku bangkit, betapa susahnya aku mengahapus segala kenangan tentang kita, betapa susahnya aku merangkak dan berusaha berdiri. Kenapa begitu mudah bagimu? Apakah air matamu dulu hanyalah semu? Kenapa takdir seperti tak adil bagiku?

Masa lalu tetap masa lalu, begitupun kamu dan kenangan kita, aku sekarang telah ikhlas melepaskan segalanya, karena mungkin kau tak pernah bahagia bersamaku. Selamat bagimu, selamat untuk hidupmu yang baru. Biarkan aku berjalan dengan takdirku, aku yakin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah tapi tidak sekarang. Setidaknya aku telah menebus suatu kesalahanku padamu dengan tetap tersenyum melihat kebahagiaanmu. Terimaksih telah pernah menjadi bagian dari hidupku dan pernah mengisi hari-hariku.