Aku bukan tipe orang yang menyukai jarak. Karena aku tahu pasti, jarak selalu menghasilkan rindu. Aku juga tidak suka dengan perasaan itu. Terlebih jika rindu itu tak beralih dari tempatnya dan semakin membuncah.

Oleh karena itu aku tidak menyukai jarak, bukan mengenai dimana kamu berada, tapi mengenai hati kita yang sudah memiliki jarak. Semakin jauh. Semakin tak terengkuh. Semakin aku benci merindukanmu.

Siapa yang suka menahan rindu? Aku rasa tidak satupun. Hanya saja mereka (dan aku) yang merindu namun tidak terungkap, apalagi terbalas bisa apa? Meronta-ronta menyalahkan rindu? Menyalahkan dia yang membuatku rindu? Ah.. Percuma saja.

Mengungkapkannya pun aku terlalu takut. Takut jika ternyata hanya aku merindu, sementara kamu tidak. Jika aku memaksa aku tahu, aku akan mendapatkan sakit yang berulang.

Menahan rindu itu tidak seenak roti selai cokelat bukan?

Tapi apa yang bisa dilakukan jika satu-satunya jawaban memang harus menahannya dan cukup aku yang merasa.

Advertisement

Tapi bolehkah aku sedikit mengharapkan rindumu padaku? Rindu dengan kita yang dulu. Rindu dengan tawaku mungkin. Ah.. Lupakan. Maaf telah mengharapkan hal bodoh itu terjadi. Mungkin juga kamu sudah mempunyai tempat untuk menuangkan rindumu. Dan tentu itu bukan aku. Baiklah sepertinya hanya aku yang merindu.

Terdengar tidak adil memang kenapa hanya hatiku yang merasa sementara kamu tidak. Kenapa hanya aku yang masih bergulat untuk mengalihkan rindu ini sementara kamu tenang-tenang saja. Sepertinya waktu lebih memihakmu karena lebih cepat melupakan bagaimana cara merindukanku.

Tapi aku percaya akan ada langit cerah setelah mendung, akan ada obat untuk penghilang sakit. Begitu juga akan ada tempat berbagi rindu lainnya untukku. Aku hanya perlu menunggu bukan?

Biarlah rindu ini tertahan dan perlahan hilang dnegan sendirinya. Aku harus yakinkan diriku bahwa rinduku hanya sebetas mengenangmu sebagai bagian dari cerita manis dalam hidupku. Suatu saat, ketika merindumu aku hanya ingin menunjukkan senyumku tanpa merasa risau.

Aku bukannya naif, hanya saja aku tidak ingin menjadi wanita lemah ketika merindumu. Aku tidak ingin kalah dengan perasaan itu. Hanya itu. Tidak lebih.

Sekarang aku serahkan pada waktu yang akan membantu menutup lubang rinduku untukmu. Aku percaya waktu selalu berhasil menyembuhkan luka.

Dan sekarang ijinkan aku berterimakasih karena pernah datang dan menuliskan bait-bait cerita manis itu. Terimakasih juga karena luka yang ada. Ya, dari awal aku tahu bahwa seringkali cinta berjalan beriringan dengan luka. Tapi aku tidak menyalahkanmu karena pernah datang dengan cinta lalu pergi menorehkan luka. Bukannya orang yang datang dan kita temui dalam hidup ini selalu mengajarkan sesuatu?

Harapku kamu selalu bahagia dan mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu. Aku tidak ingin menjadi wanita jahat yang akan mendoakanmu dengan hal-hal buruk. Aku hanya percaya, hal baik yang kita lakukan akan kembali dengan hal baik lainnya untuk diri kita. Begitupula dengan doa. Dengan mendoakanmu bahagia, aku harap juga akan merasa hal yang sama.

Berbahagialah, jadi aku juga akan berbahagia dengan hidupku walapun tidak denganmu.