Masa kanak-kanak merupakan masa paling menyenangkan. Coba deh kita inget lagi masa ketika kanak-kanak. Hidup kita bahagia selalu bukan? Tidak ada ulangan, tidak ada rapat, bahkan belum kenal sama yang namanya skripsian. Masa kanak-kanak kita dipenuhi dengan bermain dengan teman, tertawa, dipenuhi keceriaan.

Tapi tahu kan kalian bahwa masa kanak-kanan sekarang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak kita dulu?

Ya…kehidupan anak–anak sekarang tidak sebebas dulu. Anak-anak sekarang kini mulai menjadi incaran pedofil yang siap beraksi setiap saat. Tidak peduli seberapa ketat orangtua/ keluarga menjaga anak-anaknya, ketika ada kesempatan pedofil bisa dengan keji melakukan kekerasan seksual pada anak. Apalagi ketika orang tua lengah dalam mengawasi anak-anaknya.

Pedofil bisa berada dimana saja, dari pelosok desa sampai sekolah internasional dengan pengawasan ketat sekalipun tidak menjamin terbebas dari pelaku pedofil. Pelaku pedofil mulai menggurita. Mereka bahkan memiliki komunitas sendiri untuk memamerkan kekerasan seksual yang dilakukan serta menyebarkannya di akun mereka.

Semakin banyak anak-anak menjadi korban. Semakin rusak nasib generasi penerus bangsa. Parahnya, menurut penelitian anak yang menjadi korban kekerasan seksual memiliki peluang lebih besar menjadi pelaku kekerasan seksual di masa dewasanya nanti. Ini akan menjadi suatu siklus yang mematikan. Oleh karena itu kita harus bisa memutus siklus tersebut. Ga kebayangkan kalo anak/ adik/ keponakan/ sodara atau orang terdekat kita menjadi korban tersebut? Jangan sampai ya!

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mencegah hal itu terjadi?

Salah satu alasan kenapa banyak sekali pedofil dengan mudah menyalurkan nafsu bejat kepada anak-anak adalah karena anak mudah di bujuk serta ditakut-takuti, anak-anak juga tidak tahu tindakan apa yang diminta pelaku serta dampak bagi dirinya. Apalagi banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan seks masih dianggap tabu.

Salah satu usaha preventif untuk mencegah hal itu menimpa anak/adik/ keponakan atau saudara terdekat kita yaitu dengan mengubah mindset kita sendiri bahwa pendidikan seks pada anak bukan merupakan hal tabu lagi. Meskipun anak-anak mendapat mengawasan dari orangtua/ keluarga, anak-anak tetap harus mendapat pendidikan seks agar dapat menjaga dirinya sendiri.

Pendidikan seks yang harus diajarkan pada anak diantaranya:

Anak-anak harus diberitahu bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh oleh orang asing yaitu mulut, dada, kemaluan (vagina/ penis), pantat, serta bagian di bawah dan sekitar paha.

Berikan pemahaman pada anak bahwa bagain tubuh pribadi hanya boleh di sentuh oleh ayah dan ibu ketika memandikan atau buang air. Selain itu, dokter ketika memeriksa anak, itupun tetap didampingi orang tua.

Ajarkan anak berani mengatakan “TIDAK” ketika ada orang lain yang berani menyentuh bagian pribadi anak/ menyuruh mereka membuka baju didepannya., menunjukan bagian pribadi tubuh atau menunjukan foto/ film telanjang.

Jika hal itu terjadi. Mintalah anak berteriak kencang serta berlari di tempat yang ramai, minta anak mengatakan hal tersebut kepada orangtua, guru, atau orang dewasa di sekitar anak.

Pendidikan seksual pada anak bertujuan agar anak mandiri dalam menjaga dirinya, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kekerasan seksual pada anak.