Kadang begitu banyak kalimat tanya “kenapa, mengapa, bagaimana” yang muncul di kepala setelah orang-orang yang sangat kita sayangi ternyata menyakiti hati kita. Entah rasa sakit itu datang dari kekasih, sahabat, bahkan keluarga sekalipun. Kadang kita bahkan tidak bisa menerima orang-orang yang kita sayangi, kita percayai, adalah mereka yang juga memberikan luka bagi hati.

Perasaan tidak bisa menerima tersebut terus muncul, terus menerus bahkan saat kita sangat ingin bahagia tanpa perasaan itu. Kadang ditengah keramaian kita bisa tiba-tiba terdiam karena perasaan tersebut tiba-tiba saja datang untuk mengingatkan kita pada semua rasa sakit dihati, ia seperti maling yang selalu datang tanpa pernah mengucapkan kata permisi.

Seringkali perasaan itu membuat kita lelah. Kita ingin semua bisa dilupakan dalam sekejap waktu, bahkan lebih buruknya lagi kita mengandaikan jika hal tersebut tidak pernah terjadi. Pengandaian yang sesungguhnya menjelaskan saat itu kita tengah lari dari kenyataan. Disadari atau tidak, justru keinginan itulah yang membuat kita semakin sulit untuk melupakan dan memaafkan. Entah melupakan rasa sakitnya atau memaafkan perasaan itu sendiri.

Perasaan menyalahkan keadaan, perasaan ingin menyalahkan orang lain, perasaan-perasaan itulah yang terus muncul dalam benak kita. Tapi kita abai pada perasaan yang sesungguhnya ada dalam diri kita, perasaan tidak bisa menerima setiap kejadiannya.

Kita tidak bisa menerima bahwa kita tidak mampu untuk selalu menghindarkan diri kita dari rasa kecewa, sedih, terluka, dan berbagai rasa sakit lainnya. Kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa untuk membuat semua orang selalu memberikan yang terbaik yang mereka punya pada kita. Kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa sebaik apapun, sesetia apapun kita pada semua orang, kita tidak bisa menuntut mereka untuk melakukan hal yang sama.

Advertisement

Saat kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik, secara tidak sadar kita cenderung ingin orang yang kita perlakukan demikian melakukan hal yang sama. Bukankah itu sama saja dengan kita berbuat sesuatu dengan mengharapkan pamrih? Entahlah jawab saja dalam hati kita masing-masing.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar perasaan sakit itu bisa menghilang dari hati dan pikiran kita?

Menerima.

Kita harus mampu menerima bahwa tidak semua hal dalam hidup akan memberikan sesuatu seperti yang selalu kita harapkan. Menerima bahwa orang lain tidak punya kewajiban untuk selalu membahagiakan kita. Menerima bahwa tidak selamanya kehidupan akan selalu bahagia. Menerima bahwa kadang hidup memberi kita masalah. Menerima bahwa kita tidak bisa menuntut orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang kita lakukan pada mereka. Masih begitu banyak penerimaan lainnya. Namun biarkan selebihnya menjadi urusan waktu. Biarkan waktu menjadi penghapus alami dari semua rasa sakit yang ada.

Kita tidak perlu berusaha untuk melupakan semua rasa sakit yang ada dihati, justru semakin keras berusaha semakin banyak yang akan kita ingat. Yang perlu kita lakukan adalah menerima semua rasa sakit itu. Ketika kita bisa menerimanya, perlahan bersama waktu rasa sakit itu akan terhapus dengan sendirinya. Ketika suatu saat kita mulai biasa saja dengan segala sesuatu yang dapat menghubungkan kita dengan rasa sakit itu, saat itulah luka yang kita rasakan telah sembuh karena kita telah bisa menerimanya. Karena yang tersulit dari perasaan yang tersakiti bukanlah soal melupakan dan memaafkan, namun menerima segala rasa sakit yang datang.

Sekarang pertanyaannya, apakah kita mampu menerima rasa sakit dihati kita?

Harus.

Penerimaan yang awalnya sulit namun pasti akan berakhir dengan indah.

Ya, kita hanya perlu menerima.