Ada bunyi langkah kaki yang diam-diam, mengingatkanku akan sebuah kepergian. Atau sebuah kepulangan. Lampu jalan belum lagi padam sewaktu mataku mencari di tengah gelap –barangkali itu kau, akhirnya kembali setelah terbangun dari mimpi. Tapi aku berbalik setelah yang kujumpai hanya sebuah keheningan yang entah bagaimana terasa menyesakkan.

Bahkan kesepian pun setidaknya memiliki sesuatu yang mengisi.

Demi sepasang matamu –yang gelap malam serupa batu obsidian, aku menyimpan secuil kewarasan agar tetap mengenalimu jika nanti kau pulang. Sesosok punggung yang bergerak menjauh membentuk ruang kosong dalam dada yang tak bisa diisi apapun –bahkan oleh kebencian sekalipun.

Hampa. Getir. Nyeri. Lebam. Membiru. Lalu, lagi-lagi –rindu.

Bagaimanapun juga hidup terus bergerak menjala hari-hari. Dari kelopak-kelopak mawar yang berguguran. Musim panas yang memeluk matahari. Daun-daun mahoni yang berubah kemerahan hingga turunnya rintikan hujan yang seperti jalinan benang. Lalu namamu, terus saja menghias bibir serupa mantra yang dirapal sepanjang musim.

Advertisement

Seakan jika aku terus menyebutnya maka barangkali –barangkali saja kau akan mendengar dan teringat jalan untuk pulang.

Sebab, sungguh.

Jika rindu adalah luka, aku pasti sudah mati karena menanggungnya.