Ada cemburu yang kian memburu dalam hatiku saat kulihat dia menggandeng tanganmu, perempuan yang kau kenalkan padaku sebagai sahabatmu itu membuat hatiku terasa panas. Bukan aku tak mempercayai kesetiaanmu, aku hanya meragukan persahabatan yang terjalin di antara kalian. Mungkin kau tak menyadari tatapan aneh yang ditujukan sahabatmu kepadaku setiap kali kau membawaku serta dihadapannya. Sudah beberapa bulan berlalu dan dia tetap saja bersikap dingin kepadaku. Entah karena apa, selalu aku yang memulai perbincangan dengan jawaban seadanya yang ia berikan. Mungkin kehadiranku tak pernah diinginkan olehnya.

Aku semakin larut pada arus aliran perasaan bersalah ketika aku memintamu untuk tak lagi terlampau sering menemuinya. Seolah aku menjauhkanmu dari sosok yang langkah kakinya selalu bersamamu. Pada awalnya jelas-jelas kau menertawakan permintaanku dan menganggapku bersikap kekanakan. Ah, mungkin kau memang benar, aku merasakan cemburu karena selama ini tak pernah bersahabat dengan sosok lawan jenis.

Dalam sebuah kisah cinta hanya boleh ada dua pemeran utama. Jika kau hadir sebagai orang ketiga, hanya sakit yang kau rasa.

Namun, pertengkaran hebat selalu saja terjadi diantara kita karena ketidak-nyamananku atas sikap sahabatmu itu. Kau selalu saja mengatakan bahwa tidak memiliki perasaan lebih padanya, jika memang ada cinta sejak dulu kau telah menjadikan dia kekasihmu. Penjelasan itu terus saja kau ulang ratusan kali, tetapi tetap tak dapat diterima oleh hatiku begitu saja. Aku pun perempuan sama seperti sahabatmu. Mungkin saja kau tidak mencintainya, tetapi apakah kau tahu perasaannya untukmu? Aku melihat semuanya dengan jelas. Caranya memandangku, sikapnya kepadaku, semua adalah simbol bahwa kehadiranku sebagai orang ketiga diantara kalian sungguh tidak ia inginkan.

Hingga pada akhirnya dia pun menemuiku, mengajakku berbicara dari hati ke hati sesama perempuan. Dia berharap aku memahami perasaannya, begitu pun sebaliknya. Ia mulai memutar memori cerita indah yang pernah kalian jalani bersama, sebelum aku hadir. Tentu saja semua ceritanya kian membuatku merasa bersalah karena telah hadir diantara kalian. Hatiku semakin sakit ketika sahabat yang mencintaimu memintaku untuk meninggalkanmu yang mencintaiku. Selama ini ia hanya berani mencintaimu diam-diam berharap kau dapat mengerti perasaannya. Apa boleh buat pertemuanmu denganku saat itu justru membuatmu jatuh cinta.

Advertisement

Aku tak mungkin meninggalkanmu, sebab aku pun mencintai kamu. Dan aku tak mungkin melukai perasaan perempuan lain yang juga mencintaimu. Aku tak mungkin menyalahkanmu karena memilihku, aku pun tak berhak menyalahkan dia yang mencintaimu, dan aku tak mampu menyalahkan diriku sendiri karena telah masuk di kehidupan kalian. Terkadang cinta memang tak selalu milik dua orang, namun kita tak dapat menjalani kisah segitiga ini.

Untukmu yang mencintai kekasihku, "Semoga kelak rasa cintamu terbenam seiring senja datang. Mungkin waktu yang akan sembuhkan luka, atau lupa yang menyembuhkan luka."