Selain mempelajari rasa dari orang lain. Kadang kita perlu merasakannya sendiri untuk bisa mengerti. Bahwa jatuh itu sakit. Bahwa retak tak akan bisa kembali utuh. Bahwa salah langkah menghadirkan penyesalan.

Tiap orang punya penyesalan. Setiap orang pernah jatuh sampai ia tahu apa itu rasa sakit. Tapi tak semua orang mau bangkit dan berubah. Tidak semua orang menjadikan penyesalan sebagai tolak ukur menjalani hidup yang lebih baik di masa depan.

Bagiku, penyesalan paling menyakitkan adalah kehilangan seseorang. Apa kamu pernah berpikir bahwa bertemu dengan seseorang diantara milyaran manusia di bumi adalah suatu anugrah tak ternilai? Ada milyaran, dan Tuhan memilih kau dan dia bertemu dan menjadi teman.

Awalnya aku tak pernah menghargai sebuah pertemuan. Dan menganggap semua orang yang datang akan pergi kemudian. Yang suka akan memilih tinggal, sementara yang tidak, bisa pergi kapanpun ia inginkan. Tanpa tahu bahwa kau patut mempertahankan semua yang datang. Dikalahkan ego tentang melindungi perasaan diri sendiri sebelum orang lain atau terlalu menjaganya sampai tak tahu ia ingin segera pergi. Lalu ketika menoleh kebelakang, tak tersisa seorangpun yang mau bertahan. Dan hal terakhir yang kita miliki hanyalah penyesalan.

Ketika aku mengalami penyesalan kehilangan pertama kali, aku berharap memiliki kesempatan kedua bertemu orang baru dan mengendalikan egoku agar tak kehilangannya. Belajar lagi dari awal, bahwa pertemuan saat ini adalah perpisahan di masa mendatang. Melindungi dan menjaganya sesekali sederhana dan sesekali istimewa. Hingga saat perpisahan itu datang, tak ada penyesalan yang terlalu berarti. Aku bisa melepasnya sebahagia saat aku pertama kali berjumpa dia.

Advertisement

Perpisahan itu masalah waktu. Karena setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Untuk orang-orang yang kutemui saat ini, semoga kita memiliki perpisahan dengan sedikit sekali rasa sakit dan penyesalan.