Hallo diriku.

Telah lama aku tak mengunjungimu, bahkan hanya untuk menyapa di malam yang sendu. Hari ini terasa hangat, ketika aku merasa sentuhan, dengan rasa sayang yang sangat pekat. Dan tentu belum pernah aku dapat. Bukan untuk menjadikan air matamu menetes.

Bukan.

Ini perihal waktu yang terus berjalan dan mengubah berbagai pandangan.

Hujan hari ini berhasil membuatku kembali ke masa dimana hanya dengan seutas tali aku bisa tetawa geli. Hanya dengan permainan jengkal aku bisa tertawa terpingkal pingkal.

Advertisement

Hallo diriku.

Berapa lama kita tak menyapa? Tidak mendengar cerita satu sama lain karena terlalu sibuk dengan hal yang kita ingin. Benciku mulai merebak, ketika dewasa ini menjadikanku ratu mengelak. Hanya demi orang orang yang berdecak aku bahkan berani sampai mendepak.

Dewasa ini kurasa terlalu jahat, mengubah segala hal remeh yang justru membuatku aneh. Sebagai contoh kecil, kini aku menjauhi hujan, hanya karena ia membasahi pakaianku. Padahal dulu, hujan adalah satu satunya hal yang kutunggu kehadirannya.

Baju kodok, celana pendek.

Ah! Aku rindu mengenakannya kembali!

Banyak hal yang berubah ketika aku beranjak dewasa. Salah satunya adalah saat aku harus merubah segalanya. Hai dewasa, bawa aku kembali. Kembali ketika sebuah balon bisa aku tangisi. Kembali ketika sepatu baru untuk berbie adalah hal yang tak terganti.

Semesta, jangan kenalkan aku pada cinta yang bisa membuat aku lupa. Lupa pada pengorbanan ibu bapakku. Jadikan aku dewasa yang berwibawa. Dewasa yang mengenal cita cita mulia. Dewasa yang tak akan pernah buat aku menyesal nantinya.

Hallo diriku.

Bangunlah. kembali menjadi dirimu yang dewasa tetapi bijaksana. Jangan sampai dewasa membuatmu lupa, pada hal yang seharusnya kamu bangga. Tua itu pasti. Namun, masa muda adalah pilihan.