Selepas jeda pada rayuan hujan senja, aku kembali merasa kehangatan mentari yang terlalu sulit untuk mencairkan kebekuan di dadaku. Ini bukan sepenuhnya tentang aku, hanya ketika suatu hari aku menemui batas sempit yang terhimpit pada rongga-rongga waktu dan memaksa untukku membuat pilihan terbaik dari yang tersulit seperti halnya ku berdiri di ketinggian tebing yang curam tanpa ada batas dengan dalamnya jurang. Satu-satunya cara, aku harus bertahan jika ingin tetap hidup dan tak ada pilihan lain kecuali aku ingin mati. Mendengarkan kata mati membuatku bergidik, tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya bagai daging yang dirobek-robek oleh tajamnya taring singa. Apalagi tiada yang menemani di sisi, sama sekali tak ingin menjadi mayat beku dan membiru tanpa ada iringan cinta dari yang mencinta dan yang selalu memilih aku.

Telah lama aku tak lagi bergincu dan memudarkan bedak yang seolah tak lagi menjadi istimewa. Bukan melupa aku adalah seorang perempuan. Hanya saja ada masanya energiku berada pada titik persen terendah. Nyanyian angsa yang tak lagi kusenandungkan kini berganti kicauan burung yang menjadi satu-satunya titik temu antara aku dan waktu ajaib bernama senja. Aku mengalah pada kejamnya hari dan orang-orang yang memiliki kepala bertegangan tinggi, bukan berarti menyerah. Hanya ingin sejenak meresapi apa yang terlalu banyak kulewatkan, apa yang tak kumengerti dan semakin membingungkan. Ini memang tentang perjalanan, sejauh batas yang kularung, sedalam hatiku melaut. Sudahkah kutemu apa yang kumau?

Luka-luka, debu-debu, sarang laba-laba, dan sangkar emas yang kini berkarat menyesakkan. Satu demi satu menemui wajahku. Fatamorgana yang melindap semu seolah menyilaukan sesaat dengan sejumput harapan dari balik kegelisahan. Dan kutemui diriku dalam fana menjelma kupu-kupu yang tak mampu melihat keindahanku sendiri karena terpaut akan keindahan mulut berbisa orang lain.

Dulu aku suka berlari, tunggang langgang, dan menjadi satu-satunya pemegang indah harapan. Lalu aku mewujud ratu yang dielu-elukan dan dipuja oleh puji-pujian. Apa aku terlena? nyatanya aku semakin bosan dan mendadak terhempas dari tempias rinai gerimis yang menyejukkan menuju gurun yang tak lagi menghangatkan tapi membakar semua energiku hingga layu bak perdu beronak tak menyemai bunga.

Menatap mentari tak lagi membuatku berdiri gagah, menatap laut juga tak kunjung mendamaikan riak. tapi aku tetap tak bisa menggadai ketidakpastian masa depan hanya untuk cinta sebatas tatapan muka. Aku sadar, tapi aku terlalu nanar.
Satu-satunya yang kubenci adalah menjadi perindu terbaik tanpa mampu mendapatkan balasan rindu yang setimpal. Sedang yang kurindu tak pernah sekali detik sekedar coba untuk menengok diam-diam dalam balutan sepi dari balik punggungku. Lalu mau kemana ketika kepala berisi bom waktu, dan hati menanam benih carut marut angin badai tanpa kenal musim? Siapa ingin menemui siapa? Siapa melangkah ingin kemana? Siapa ingin melupa tapi terus mengingat?

Advertisement

Bila saja bisa kutitipkan angin pada awan agar dilarung laut menuju antah berantah, atau kusemai luka pada darah agar mengalir menjadi keringat dan hempas oleh udara. Bila kutemui kau begitu dekat sedang arah begitu jahanam memisahkan rasa. Mana yang lebih manis dari kecupan pertama dengan ketulusan tanpa ada sentuhan kabut dibaliknya? aku ingin kembali merasa semu merah jambu dari jatuh cinta yang malu-malu, perasaan kikuk yang memberikan sengatan listrik pada jantung untuk membuatnya lebih berdegub, atau rasa yang kuncup-kuncup bersemi dan mekar bersama titik embun pagi. Aku merindu hari mendamaikanku tanpa takut orang lain memiliki mawar hitam dari balik pandangan mataku.

Tuhan, kumohon hanya padaMu tuk hangatkan dingin hatiku. Mohon redamlah ketakutan dari simtom-simtom yang berdenyut di kepalaku. Kecuplah keningku lembut dengan butir-butir maafMu. Ini perjalanan yang harus tetap kulanjutkan, beri kekuatan tuk wujudkan indah harapan.