Badanku terguncang nian hebat tatkala mobil yang kami tumpangi mulai meroda mendekati radius tujuannya. Sekarang sudah lewat tengah malam dan kedua mataku terjaga sepenuhnya karena kegelapan total yang terpandang lewat kaca mobil. Aku mengucap istighfar berkali-kali, takut pikiranku berpelesir membayangkan perihal berbau seram.

Setelah kurang lebih dua jam, perguncangan badanku mereda. Tentu saja, kami sudah berjejak pada sesuatu yang telah kami nantikan. Aku keluar dari mobil dan menelaah raut muka teman-temanku yang jelas menunjukkan gurat kelelahan. Mungkin jika ada cermin di depanku, seekor kucing pun akan mengeong keras, ngeri akan bayangan mukaku yang awut-awutan.

“Okei, jadi kita ke penginapan dulu,” salah satu temanku membuka usul. Aku mengangguk lebih semangat jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. “Istirahat sejenak, mandi, makan makanan yang praktis, lalu kita berangkat,” lanjutnya menjelaskan walaupun otak kami sudah melayang ke gambaran tempat tidur nyaman nan nikmat.

“Jam berapa kira-kira kita akan siap berangkat?” suaraku kupaksakan pelan, melihat keadaan sekitar yang sangat gelap dan hanya ada dua penerangan—jaraknya agak jauh dari kami.

“Jam lima pagi. Biar tidak ketinggalan liat fenomena menakjubkan,” jawab temanku lugas mengakhiri diskusi singkat kami. Aku langsung mencangklong tasku menuju penginapan dan melaksanakan apa yang telah temanku katakan tadi.

Advertisement

Dua jam kemudian, aku berjalan menuju tempat meeting point dan menangkap bahwa teman-temanku sudah berada di sana. Selanjutnya kami berdoa untuk kelancaran aktivitas yang akan kami lakukan satu hari ini. Tanpa doa, apalah arti sebuah pelesiran, bakal tidak berberkah dan berkesan. Begitulah kata diriku yang sedang bijak hari ini.

Dan di sinilah kami. Kedua kakiku bertopang pada dekapan pasir putih nian lembut yang masih malu-malu untuk bangun. Kepalaku menengadah, langit hampir pagi yang melukiskan semburat campuran warna ungu, jingga, dan merah yang terpercik dari sang mentari. Aku bertasbih, tentu saja terpukau akan kuasaNya dalam penciptaan hal spektakuler yang bisa disaksikan dengan mata telanjang. Inilah Pantai Papuma. Pesona pantai tersembunyi yang diakui oleh Kabupaten Jember.

Saat sang mentari mulai berpendar, binarnya menciptakan riak menakjubkan yang timbul di kejauhan batas air laut dengan langit. Bola mataku berkilat-kilat, menjalarkan sensasi aneh yang menggerakkan saraf motorikku untuk tersenyum kemudian bertasbih lagi. Momen ini adalah momen yang selalu kutunggu. Saat mentari memutuskan untuk terbang, meluapkan seluruh sinarnya kepada salah satu kekasihnya yaitu Bumi dengan untaian doa tak pernah putus agar Bumi selalu bersinar gagah. Inilah momen sunrise.

Teman-temanku tak mau cemburu dengan langit yang seakan tak pernah bosan memandangi sunrise setiap pagi. Mereka membidik kamera mereka dalam berbagai sudut, berusaha mengabadikan gambar terbaik dari salah satu kreasi alam yang sangat breath-taking.

Setelah sang mentari menapaki kaki langit dengan kecondongan yang terus berubah, kami memutuskan untuk bermain air pantai. Aku yang kelewat semangat, bahkan sempat terjatuh saat tak sengaja menginjak bintang laut di pinggir pantai. Aku memungutnya lalu berlari kencang ke arah teman-temanku. Mereka terkejut bukan main, mungkin ini kali pertama mereka melihat bintang laut. Lagi-lagi, mereka mengabadikan temuanku dengan kamera mereka.

Sekitar jam sembilan pagi, perut kami sudah benar-benar memberontak keras. Suasana pantai pun mulai ramai karena jam mulai mengudara menandakan awal hari yang cerah untuk para nelayan. Aku melihat semua kesibukan itu dengan hati berdecak kagum. Lalu, kami memutuskan untuk mengisi perut kami di sebuah warung tak jauh dari bibir pantai.

Sedang yang lain sudah mulai memesan makanan, aku dan salah satu sahabatku bercengkerama tentang ia yang menemukan nyiur pohon kelapa kering. Ukurannya lumayan besar dan ia dengan tawanya yang membahana menggunakan nyiur itu sebagai gaun yang terseret di pasir pantai. Tawa kami meledak. Aku sedang menarik-narik ujung nyiurnya saat kudengar ada yang berteriak. Aku menoleh ke belakang, mataku menyipit siapa orang yang ia panggil dengan suara lantang tanpa menyebutkan nama. Sahabatku menoleh dan dia berteriak keras, “Itu orang gila!”

Sahabatku sudah lari terbirit-birit beserta nyiur kelapa yang masih tergantung terantuk-antuk di bagian belakang tubuhnya. Otakku masih macet, sedang orang gila tersebut hampir mengikis jarak kami. Sialan! Aku langsung lari sambil berteriak nyalang. Ini adalah kali pertama aku dikejar orang gila.

“Woi! Tunggu aku!” Sahabatku menoleh dan berhenti sebentar. Ia lalu membuang nyiur kelapa dan melambaikan tangannya tak sabaran, menyuruhku agar berlari lebih cepat. Aku mengutuk badanku yang sudah capek karena jarang berolahraga. Kukerahkan semua penghabisan tenagaku, aku sama sekali tidak ingin dipermainkan oleh orang gila.

“Hei! Heiiii!”

Sialan! Dia memanggilku! Kudengar orang gila itu masih belum menyerah untuk mengejarku. Saat sudah menyamai posisi sahabatku, ia menarik lengan kananku kuat seraya menggeretku paksa agar kami terus berlari menuju warung yang jaraknya masih lumayan jauh dalam jarak pandang kami.

“Kok…bisa…sih…ada orang gila…di pantai?!” Sahabatku berbicara dengan suara tersendat-sendat karena lelah. Aku menjawab dengan lantang, “Mana kutahu!” Aku mendengar sahabatku mendengus keras diiringi suara ngos-ngosannya.

Kami tidak bisa berpikir apapun. Yang jelas, kami ingin cepat sampai dan makan. Saat sudah sampai warung, kutoleh ke belakang dan orang gila itu sudah tak nampak. Aku berucap syukur banyak sambil mengelus dada. Aku menoleh ke sahabatku, kami kemudian tertawa.

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Subhanallah, betapa kuasaMu dapat menciptakan kehidupan bawah laut seindah ini.

Aku menggerak-gerakkan kakiku yang terbungkus oleh kaki katak. Di sana, sejauh lensa mata menangkap, yang kulihat hanyalah air berwarna tegas biru, terumbu karang, dan ikan-ikan kecil. Kami memulai snorkeling pada pukul satu siang. Kata sang guide, itu waktu yang tepat untuk menyantap keindahan terumbu karang.

Aku menyetujuinya. Lagi-lagi, ini kali pertama aku snorkeling dan rasanya susah. Terkadang, air laut masuk ke mulut dan membuatku terpaksa harus muncul ke permukaan dan menghirup napas dalam.

Keindahan bawah laut ini akan dirangkul rapat oleh memori otakku, menyembunyikannya di dalam kotak pandora khusus yang termaktub rapi bagai sesuatu yang rapuh. Aku menganggapnya rapuh, karena dengan begitu aku lebih bisa menghargai kenangan. Dengan menggaruk memori pada raknya nanti, aku akan dengan mudah bisa menemukannya dan menuangkannya dalam goresan tinta ataupun terucap kata.

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

Dirangkai pada 22-23 Maret 2016