Sore ini hujan begitu deras. Hujan di awal bulan Maret ini menyapu jalanan penuh debu dan kotoran. Ilalang dan rerumputan mengeluarkan bau petrichor yang mendamaikan kalbu. Aku berdiri didepan jendela putih kayu yang berlubang dimakani rayap. Kubiarkan dingin menghunus ke tubuh ini. Aku tak mempedulikannya. Pandanganku mengarah ke hujan di luar sana, tatapanku kosong. Aku dapat merasakan gejolak amarah di hatiku, hati yang kau lukai sangat dalam. Aku membayangkan, apa yang sedang kau lakukan di sana?

Biar kutebak, mungkin kau sedang memeluknya erat agar dia tetap hangat, atau kau sedang membuatkan secangkir cokelat panas untuk nya? Atau kau menyiapkan makan malam romantis untuk kalian berdua? Tega sekali kau, melupakan aku disini. Apa kau tau aku sendiri disini? Apa kau tau bahwa aku belum berdamai dengan luka yang kau beri? Apa kau tau aku masih menginginkanmu kembali? Semua jeritan-jeritan pilu hati ku tidak akan pernah kau dengar. Karena kau sudah memilih dia untuk menjadi pendampingmu dan melupakan aku yang bersahabat kesunyian disini.

Bukan, bukan dia yang aku sesalkan….

Tapi caramu memberi harapan dan meninggalkan ku yang aku sesalkan…..

Lima tahun lalu aku bertemu dengan mu. Saat kita menjadi perwakilan kota kelahiran di pertandingan bela diri. Aku yang dulu polos ini entah kenapa begitu senang saat kau ada di dekatku. Awalnya aku hanya mengira bahwa ini perasaan kagum saja. Toh, setelah pertandingan ini aku ragu kita akan berjumpa lagi. Dan aku yakin, saat itu juga perasaan ini lambat laun akan hilang.

Ternyata dugaanku salah. Setelah dua tahun, aku masih saja memiliki perasaan padamu. Sering aku melihat-lihat kembali foto-foto mu yang kuambil saat kau tak menyadarinya. Saat kau fokus bertanding di atas matras, saat kau memuntahkan air yang kau kira hangat tapi ternyata menyulut lidah mu, saat kau menulis hasil pertandingan seolah kau seorang pelatih hebat, dan saat kau memesan makanan ayam bakar favoritmu. Hanya itu yang kupunya untuk meredam rasa rinduku.

Advertisement

Aku terlalu pengecut meminta nomor hp mu dulu…..

Berkali-kali kukirim pesan ke facebook mu. Tapi sampai sekarang pesan-pesan itu seperti sampah yang tidak pernah kau sentuh. Aku tidak pernah mendapat balasan satupun darimu. Aku sangat sedih saat itu. Mungkin kau sudah melupakanku. Jadi, untuk apa aku mengingatmu lagi? Untuk pertama kalinya aku mencoba melupakanmu. Untung juga aku tidak memiliki nomor hp mu, dan aku juga tidak tau dimana saat ini kau berada, jadi aku pikir akan bisa melupakan mu dengan cepat.

Tiga tahun berlalu. Tidak ada banyak kemajuan dalam diriku. Sepertinya aku benar-benar lelah untuk berlari dari perasaanku padamu.

Sore itu aku membuat profil Instagram pertamaku. Tepat lima tahun setelah kita tidak bertemu lagi. Entah ada setan apa dalam diriku, aku iseng mengetik namamu di kolom pencarian. Nama yang indah, batinku. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan sore itu aku dapat kontak Instagram mu. Seperti kutemukan oasis di padang gurun tandus, aku bersorak kegirangan. Senang sekali rasanya hati ini menemukan kembali dirimu yang sudah lama hilang. Aku bertanya kabarmu melalui pesan langsung. Aku tidak peduli apakah kau tidak akan membalasnya seperti pesan facebook ku dulu.Tak akan kusia-siakan kesempatan ini, pikirku. Tanpa kuduga, menit itu juga ternyata kau membalas pesan ku!!! Ya, kau membalas nya !!! Entah bagaimana senangnya perasaanku saat itu.

Itulah awal petaka terjadi. Setelah kejadian Instagram itu, kita bertukar nomor hp. Kau meneleponku setiap malam. Banyak sekali hal yang kita ceritakan. Dari mantan kita yang menyebalkan sampai memori saat kita pertama kali bertemu, lima tahun lalu. Aku tertawa setiap kali kau menceritakan betapa polosnya muka ku dulu, betapa kecilnya badanku, dan kau tidak menyangka aku bisa tumbuh menjadi gadis cantik sekarang ini. Setidaknya itu yang kau ceritakan padaku, entah benar atau tidak akupun tak tau. Setiap malam selalu kukosongkan jadwal demi bisa berbicara denganmu yang berjarak ribuan kilometer dariku. Aku seolah menemukan kembali jati diriku. Hari-hari ku diselimuti rasa ceria. Malam adalah waktu yang selalu kunantikan untuk bisa mendengar suaramu.

Awalnya semua berjalan normal, sekitar satu bulan lebih kita melakukan rutinitas itu. Tak ada satu haripun kita lewati tanpa memberi kabar. Hingga suatu hari kau sama sekali tidak memberi kabar. Aku yang penasaran bertanya apa kau punya masalah ? Kau hanya menjawab kalau kau sangat sibuk. Kau juga tidak pernah menelepon lagi. Aku tidak ingin mengganggu mu. Jadi aku hanya menunggu saja pesan dari mu. Satu hari aku lewati tanpa kabar apa-apa darimu. Seminggu kemudian, masih belum ada kabar.

Di hari minggu kedua, aku kemudian mengirim pesan menanyakan kabar mu dan kau hanya membaca tanpa membalasnya. Aku mulai ragu untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi jujur, aku tidak tahan lagi menyimpan perasaan ini. Malam ini aku harus menyatakan nya padamu. Aku berniat meneleponmu. Aku membuka dulu Instagram mu, berniat untuk mengumpulkan keberanian dari fotomu.

Tiba-tiba hatiku hancur melihat foto yang baru saja kau upload beberapa jam lalu dengan caption ‘Mi Amor’ lengkap dengan emoticon hati merah muda.

Instagram yang mempertemukan kita, Instagram pula yang memisahkan.

Kau memeluk dengan mesra gadis itu. Aku tidak kenal dengan nya dan kurasa tidak mau mengenalnya. Mataku memerah panas seketika, dadaku sesak, aku tidak sanggup melihat foto itu lagi. Kumatikan hp dan berharap semua ini hanya mimpi ku saja. Malam itu aku menangis disaksikan hujan di awal bulan Maret. Tidak ada yang menghiburku disini, kecuali nyanyian hujan yang hanya dapat didengar oleh mereka yang terluka batin nya . Aku tidak menyangka kenapa kau tega melakukan ini padaku.

Saat ini, aku memfokuskan diri untuk meraih cita-cita…

Setahun telah berlalu. Luka itu masih sama perihnya. Tapi jujur, jauh di dasar hati aku sudah memaafkanmu. Jangan hiraukan dengan apa yang kutulis di awal. Biarlah aku berdamai dengan ilusi untuk bisa bersamamu. Biarlah hujan di awal bulan Maret melunturkan semua kenangan pahit ini. Biarlah petrichor menenangkan jiwaku yang terluka. Biarlah semua ini menjadi kenangan terindah ku dengan mu. Semoga kau bahagia dengan gadis pilihanmu.