Aubrey sedang menikmati terik matahari pagi dengan cuek. Mungkin sudah sejam dia berjemur di dekat kolam renang. Mbak Nura, Yusuf dan tiga temannya yang lain berada tak jauh dari tempat Aubrey berjemur. Mereka bisa mengobrol satu sama lain di sana. Mereka sama-sama sedang menikmati sarapan pagi mereka yang lezat. Kantor memberi mereka sebuah bonus liburan ke sebuah hotel dekat pantai atas project yang mereka berhasil kerjakan.

Mbak Nura, Yusuf dan teman-teman yang lain sebenarnya sangat mengkhawatirkan Aubrey. Ia tampak kacau hari-hari ini. Hanya saja mereka pura-pura cuek dengan apa yang terjadi demi tak menyinggung hati Aubrey. Namun bagaimanapun juga, waktu pulalah yang akan mengharuskan semuanya untuk dibicarakan.

“Gak seharusnya kamu terlihat secuek itu, Brey,” sosok paling senior diantara mereka membuka obrolan dengan Aubrey.

Aubrey terdiam, dia tiba-tiba jadi tidak nyaman dengan suasana yang terjadi.

“Lebih baik dirawat dengan kasih sayang,” kata Yusuf ikut menimpali.

Advertisement

“Kita semua tahu, apa yang terjadi padamu, Brey!” kata mbak Nura sekarang dengan nada pendekatan.

“Kami peduli padamu,” tambah Yusuf dengan serius.

Aubrey merasa kesal sekaligus kecewa ketika kata-kata peduli keluar dari mulut Yusuf.

Aubrey telah lama menaruh hati pada sosok ganteng penyantun ini, namun entah mengapa Yusuf seakan menutup hatinya untuk setiap wanita yang mendekati dirinya di kantor. Termasuk untuk Aubrey.

Sosok lembut dan penyantun Yusuf telah lama meruntuhkan pilar-pilar logika akal sehatnya tentang kewarasan cinta. Yusuf telah merenggut semuanya namun hanya cinta kosonglah yang dia dapatkan dari Yusuf, hingga semuanya sekarang menjadi rusak.

Perasaan Aubrey semakin tersiksa tatkala Yusuf tidak pernah henti berbuat baik padanya meski ia dalam keadaan terpuruk sekalipun seperti saat ini. Ia selalu baik setiap hari bukan hanya kepada dirinya namun ke semua orang.

“Semua mengharapkan yang terbaik untukmu, Aubrey.” Yusuf kembali menyadarkan Aubrey yang lekat memandangnya.

“Jika kau menginginkan yang terbaik. Mengapa kau tak bisa menerimaku?” protes Aubrey.

“Harapan itu sangat mungkin untuk terpenuhi. Namun yang sering tak terpenuhi adalah keinginan. Jika kita selalu berkehendak agar keinginan kita selalu terpenuhi, itu bisa menyesatkan.” Yusuf terdiam karena ia juga menyadari ada beberapa keinginan terbesarnya yang belum terpenuhi, bertemu kembali dengan seseorang yang telah menyemai benih cinta di hatinya. “Melainkan Tuhan mengabulkan keinginan yang baik untuk diri kita.”

“Apakah keinginan untuk mencintaimu tidak lebih baik dari yang lain.”

“Apa yang terlihat mata belum tentu baik untuk manusia. Termasuk apa yang diinginkan manusia belum tentu baik menurut Tuhan.”

“Kamu adalah pria terbaik yang pernah kutemui.”

“Namun aku pula tidak yakin akan seperti itu pada dirimu.” Yusuf mengakui. “Mencintai orang yang tak bisa kucintai sama saja dengan menyakitinya. Dan itu tidak baik untukmu nantinya. Yang jelas aku tidak akan sebaik ketika menjadi sahabatmu dari pada ketika menjadi pasanganmu.

Yusuf kembali meneruskan kalimatnya, “Jika harapanmu agar aku peduli padamu, kamu telah dapatkan itu sejak lama. Karena harapanku ialah peduli terhadap orang yang mencintaiku. Aku peduli padamu karena kamu seorang wanita yang harus dilindungi dan pula kamu selalu memberikan perhatian lebih padaku. Keputusan ada padamu, kami sebagai sahabat akan tetap mendukungmu.”

“Iya, Aubrey,” Mbak Nura nimbrung dengan nadanya lembut. “Kau tidak bisa menambah lebih banyak dosa lagi. Lagi pula, anak ini yang nantinya akan memelukmu dengan sejuta kelembutan. Dan kami akan selalu ada untukmu.”

Aubrey menangis melihat teman-temannya begitu peduli padanya. Kini, pilihan ada pada Aubrey, apakah dia akan tetap cuek dan tidak peduli dengan kandungannya yang sudah berjalan lima bulan itu. Atau karena dukungan sahabat-sahabatnya ini ia akan meneruskan merrawat dan mengasihi si cabang bayi yang Tuhan telah titipkan kepadanya.