Aku salah satu mantan pencandu onani. Awal mula aku melakukan itu saat SMP kelas 3. Aku iseng melihat video porno (CD bokep) yang waktu itu tak sengaja ada di kamar—ternyata itu milik adikku yang masih SD, kacau sekali ia, pikirku waktu itu. Aku pun penasaran untuk menontonnya. Lama-lama pikiranku tak beres. Penuh dengan khayalan. Apa sebenarnya yang mereka rasakan dalam adegan video itu. Waktu itu, aku memang sangat polos. Aku belum mengerti masalah seks. Mengapa orang bisa hamil, apakah dengan ciuman perempuan bisa hamil? Ah, pertanyaan bodoh itu menghantui pikiranku.

Karena keisengan itu, lamat-lamat aku merasa candu. Dan, bagaimana sih rasanya mengeluarkan sperma. Apakah aku ini sudah akil-balig. Aku pun coba-coba onani di kamar—tentu saja pintu kamar ditutup. Karena, meskipun masih polos, aku tahu perbuatan demikian termasuk perbuatan yang buruk. Kali pertama iseng-iseng onani, ternyata tak ada apa-apa yang keluar dari penis saya. Tetapi, ada kenikmatan tiada tara. Kok, enak ya. Pantas dalam video itu, mereka merasakan keenakan. Selain itu, aku juga tahu, berarti aku belum balig. Karena ada rasa nikmat, aku pun ketagihan untuk melakukannya kembali.

Kali ini, tak hanya di kamar tidur aku melakukan onani. Di kamar mandi atau di ruang tv pun jadi. Sejak keseringan menonton dan onani itu, pikiranku jadi kacau-balau. Setiap melihat perempuan di televisi, pikiranku langsung kotor. Jangankan di televisi, di sebuah koran atau majalah pun pikiranku tak keruan, bahkan melihat para perempuan lewat saja, otakku cabul. Ada sinyal dan rangsangan tersendiri. Semakin tinggi khayalan dan rangsangan, tentu libidoku semakin memuncak dan tak kuat. Akhirnya, kembali lagi ke perbuatan hianat itu: onani.

Perbuatan itu berlanjut pada usia remajaku yang semakin matang, SMA. Kali itu, tiba-tiba saja ketika aku onani, ada yang keluar dari penis. Aku bingung, apakah itu sperma atau bukan. Ah, barangkali memang sperma. Aku pun menyadari bahwa diriku sudah akil-balig. Bukannya berhenti, malah semakin keenakan. Karena, mengelurkan sperma di saat rangsangan tak tertahankan, itu sangat nikmat. Aih, aku jadi semakin gila! Bila aku tak onani, pasti akan datang dalam mimpi. Kala bangun, tentu saja basah menghampiri. Bukannya menyetop, aku malah melanjutkan kembali onani karena merasakan kenikmatan dalam mimpi itu. Aku pengen merasaknnya dalam dunia nyata. Dan, itu adalah kenikmatan tiada duanya. Maka, jadilah aku si pencandu onani overdosis!

Memasuki masa kuliah, semakin menggila saja otak ini. Masa kuliah adalah masa di mana aku mengenal banyak perempuan dan berpacaran dengan mereka. Ah, tentu saja aku masih punya iman. Aku tak melampiaskan syahwatku sampai melakukan hubungan kelamin. Sebejad-bejad diriku ini, aku masih punya harga diri. Alah, padahal dalam diri ingin merasakan kenikmatan itu—seperti dalam video-video itu. Aku gila perempuan. Di kampus beberapa kali aku berpacaran. Dan sesekali merasakan sentuhan hangat perempuan. Dan, itu nikmat sekali. Aku melmpiaskannya kala sudah berada di rumah. Tak mungkin aku melampiaskan hal tersebut pada perempuan itu. DOSA!

Advertisement

Aku tahu semua yang aku lakukan itu dosa. Tetapi, barangkali setan lebih mudah mempengaruhi otak saya. Jadi, antara pikiran dan hati sebenarnya bertolak belakang. Aku merasa, dosaku ini sudah berlipat sejak SMP itu. Apalah artinya aku salat, mengaji, kalau masih saja melakukan hal demikian. Berkali-kali aku memohon ampun untuk tidak melakukan hal itu, tetapi Tuhan belum mengabulkan doaku. Aku depresi, stres, bahkan sempat ingin bunuh diri, ingin mati saja. Karena, kenikmatan itu membawaku pada lembah kehinaan.

Memang, dari sisi medis tidak berpengaruh, tetapi dari segi psikologi dan keimanan kepada Tuhan tak diragukan lagi. Kadang, sempat berpikir. Apalah arti hidup ini bila terus melakukan hal itu. Apalah arti ibadah saya ini. Ya, Tuhan semoga engkau mengampuni dosa hamba. Selain berpengaruh terhadap psikologi, juga berpengaruh terhadap fisik. Fisik selalu lemah dan lemas. Ya, itu karena tekanan batin. Orang melihat barangkali hidupku senang bahagia. Tetapi, sejujurnya hidupku menderita. Berkali-kali aku menangis di hadapan Tuhan. Tetapi, taubatku itu hanyalah taubat sambal. Di kemudian hari, aku pun melakukannya kembali.

Bertahun-tahun perbuatan itu menghantuiku. Akhirnya, ada salah seorang kawan yang mengajakku terapi. Ia tak tahu kalau aku punya penyakit batin demikian. Meskipun mahal, tetapi aku tetap ikut. Entah itu uang dari mana. Ya, semoga Allah memberi pentujuk melalui jalan ini. Aku pun menangis kala mengikuti (pelatihan) terapi itu. Yang aku inginkan hanyalah berhenti dari perbuatan itu. Aku tak kuat menahannya! Alhamdulillah beberapa hari selepas mengikuti dan belajar terapi itu—dan aku aplikasikan sendiri, sedikit-sedikit perbuatan itu menciut. Aku bisa bertahan tidak onani. Sayangnya, hanya seminggu, selepas itu aku kembali melakukan perbuatan itu. Astagfirullah! Usahaku gagal, padahal sudah mengeluarkan uang berjuta-juta. Aku sudah kelhilangan cara bagaimana aku harus menyelesaikan ini. Aku pun hanya bisa berdoa—barangkali hanya doa ini jurus terakhir agar berhenti dari perbuatan itu: HAMBA INGIN MENIKAH!

Aku pun mulai berkomitmen. Menabung. Serius dengan perempuan. Serius untuk meninggalkan perbuatan itu dan menyalurkannya ke tempat yang semestinya. Setahun, dua tahun menabung. Alhamdulillah, Tuhan mengabulkan doaku. Aku pun menikah. Aku pun bisa hidup lebih tenang dan damai. Hasrat dan libidoku bisa dituntaskan di tempat yang halal. Ya, Allah, terima kasih atas karunia dan nikmat yang sudah kau berikan kepadaku. Semoga Engkau mengampuni segala dosaku yang lalu. Sekarang, hal itu adalah kenangan buruk dalam hidupku, dan alhamdulillah aku bisa berhenti dari onani dan berhenti menonton film-film seks itu. Otakku jadi lebih ringan, lebih hidup!

Kepada Anda yang belum bisa berhenti melakukan perbuatan itu, bersabarlah… serahkan semuanya kepada Allah, biar Ia yang memberikan petunjuk kepadamu.

Semoga kisah ini bisa Anda ambil pelajaran!

Sumber: www.kisah-remaja.com