Aku ingin menenangkan diri sejenak, merasakan hembusan angin yang begitu damai, mendengarkan nyanyian alam yang masih bersenandung lirih, meresapi dentuman di dada yang meletup pelan. Tentu saja, aku masih mengingatnya, masih merasakannya, masih sempurna terngiang dalam angan. Aku tak mengerti mengapa semua ini terjadi, apakah ini cobaan atau peringatan agar aku tak lagi bersamamu.

Wajahmu masih sama seperti yang dulu, tak ada yang mencurigakan, kecuali setelah aku mendengar secara langsung desas-desus tentangmu yang begitu menyambar hatiku. Sempurna, seketika itu jiwaku rasanya tertampar. Bulan melihatku dengan renungan malam, aku merasa tertanam di kedalaman bumi, merasakan beban yang begitu sulit diterima.

Dan semua sudah berlalu, kini kau hadir dengan sejuta penyesalan atas noda yang telah kau biaskan untuk pertahanan kesetiaanku, aku merasa menjadi ratu di hadapan seorang hamba yang meminta belas kasih, melihat ketulusan yang terpancar itu hatiku luluh. Bagaimanpun aku harus berdamai dengan hati ini, karena aku juga ingin hidup tenang setelah memberi maaf padamu.

Cerita ini tetaplah sejarah bagi kita, sejarah yang takkan pernah terlupakan, sejarah yang telah mencuil rasa kepercayaan pada cintamu, sejarah yang akan tetap menjadi catatan alpa sepanjang hidupmu. Hati memang memaafkan, namun noda tetaplah terbilang noda, aku memaafkanmu, namun aku sudah tak mampu hidup bersamamu dalam bayang-bayang orang ketiga yang sempat kau hadirkan. Selamat tinggal, kisah kita cukup sampai disini.