Mboke.

Begitulah aku memanggil beliau. Sosok perempuan tua, ibu dari ayahku, yang sangat berarti dalam perjalanan hidupku. Sayangnya, sudah terlalu terlambat aku sadar akan hal itu.

Di masa kecilku, Mboke tak henti menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya untukku. Sayangnya lagi, ketika itu aku tak tau, tak peduli tepatnya. Masih teringat jelas dalam benakku, seringkali aku menyakiti beliau, bahkan mungkin membuat beliau menderita karena kata-kata dan tingkah lakuku.

Aku yang kala itu menjadi cucu perempuan satu-satunya, sangatlah didamba. Setiap sebulan sekali, Mboke selalu mengajakku ke Puskoptama (Pusat Koperasi Wredatama), dekat kantor kecamatan, untuk mengambil uang pensiunan. Sepulang dari Puskoptama, sudah dapat dipastikan Mboke mengajakku untuk singgah di warung soto atau pecel lele yang letaknya tak jauh dari kantor kecamatan.

Pernah suatu ketika, sepulang dari Puskoptama, Mboke mengajakku untuk pergi ke pasar. Tergambar jelas dalam ingatan, saat itu Mboke bertandang ke tukang emas langganannya. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak memperhatikan. Aku asyik memandangi perhiasan emas yang berkilauan yang dilindungi etalase kaca transparan. Mataku tak mau beranjak dari sebuah gelang emas yang saat itu begitu menarik perhatianku. Hanya satu inginku, aku ingin memiliki gelang itu.

Advertisement

Tiba-tiba, ada tangan yang menggamit tangan kiriku. Mengajakku untuk beranjak dari tempat itu. Akan tetapi, aku menolak. Aku masih asyik memandangi gelang di dalam etalase kaca ketika ku dengar suara bisikan di telingaku, yang mengajakku untuk pulang. Aku masih menolak, hampir berontak. Mboke yang kala itu bingung, dan mungkin juga malu karena tingkahku yang mulai merengek-rengek dan hampir menangis, akhirnya menuruti permintaanku. Ku tunjuk gelang yang kuinginkan, dan dengan segera Pak tukang emas menghitungkan jumlah yang harus dibayar dan menginformasikan kepada Mboke. Satu gram tujuh puluh ribu. Hanya itu yang ku ingat sampai sekarang. Entah berapa jumlah yang harus dibayar Mboke untuk gelang emas itu. Saat itu, aku tak mau tahu. Saat itu, sekitar enam belas tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar kelas satu.

Waktu begitu cepat berlalu. Hari demi hari yang ku lewati bersama Mboke masih terekam jelas dalam ingatanku. Orangtua ku sudah tidak memperbolehkan Mboke lagi untuk pergi ke Puskoptama demi menjaga keamanan dan kesehatan beliau. Ketika itu, aku sudah mulai beranjak remaja, sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Mboke semakin tua, stamina dan kesehatannya pun sudah tak seperti dulu kala. Kursi roda adalah salah satu yang setia menemaninya.

Sedih rasanya jika mengingat kejadian itu. Aku seakan tak acuh terhadap beliau. Hanya sesekali saja aku menyiapkan makanan pagi dan menemaninya berjemur di bawah sinar matahari pagi. Itu pun tak kulakukan setiap hari. Semakin hari, kondisi Mboke semakin membuatku prihatin. Tubuhnya semakin kurus, nafsu makannya tak selahap dulu lagi, matanya seringkali berkaca-kaca entah apa yang dirasa dan dipikirkannya.

Mboke adalah wanita Jawa yang masih memegang teguh budaya Jawa. Tak mengherankan jika sehari-harinya Mboke mengenakan jarik (jarit) sebagai pakaiannya. Jarik yang dimiliki Mboke sangat banyak motifnya. Beberapa di antaranya, digunakan oleh beliau ketika masih sehat wal afiat dan sering berpergian, termasuk ketika ke Puskoptama. Beberapa lagi, menjadi saksi ketika raganya sudah mulai tak berdaya.

Sebelum tiba hari kepergiannya menghadap Sang Kuasa, Mboke sempat memberikan beberapa jarik kepadaku. Tiga buah jarik. D­­­­­­ua buah jarik (untuk pakaian bawahan seperti rok) bermotif parang dan semen rama, dan satu jarik gendong (fungsinya untuk membawa sesuatu dengan cara digendong) bermotif lurik. Saat itu aku hanya berpikir bahwa Mboke ingin meninggalkan kenang-kenangan. Walaupun tak dapat ku sangsikan, ada kekhawatiran dan kesedihan bahwa aku akan kehilangan. Mboke hanya berpesan, bahwa Mboke tidak mewariskan kekayaan atau pun perhiasan. Mboke hanya bisa memberikan jarik yang suatu saat mungkin bisa ku manfaatkan.

Dan saat ini, sedikit demi sedikit aku mencoba memahami makna dari itu semua. Jarik batik bermotif parang yang diberikan Mboke kala itu mengandung harapan bahwa Mboke ingin aku memiliki kekuatan menghancurkan ego diri dalam menghadapi segala cobaan dan ujian yang diberikan Tuhan, layaknya parang atau senjata yang memiliki sifat kuat dan dapat menghancurkan. Jarik bermotif semen rama, konon mengandung harapan agar aku bisa mendarmabaktikan diri dan dapat memberikan manfaat. Sebuah jarik gendong bermotif lurik berwarna biru setengah tua, atau mungkin lebih dominan ke abu-abuan tua itu, dulu sering ku gunakan untuk menggendong boneka, mengandung arti kesederhanaan. Sesederhana motif lurik yang terdiri dari garis-garis cilik (kecil). Sebesar apapun garis itu, akan tetapi lurik tetaplah identik dengan garis cilik. Sebesar atau setinggi apapun kedudukan kita di dunia, kita tetaplah terlihat kecil dalam pandangan Sang Kuasa. Bersikaplah apa adanya, tak perlulah jemawa, yang sederhana saja.

Mungkin makna-makna terpendam itulah yang ingin disampaikan Mboke kepadaku melalui jarik batik & lurik yang telah beliau berikan untukku.

Sekarang, dua jarik batik itu menjadi temanku di perantauan. Dua jarik batik itu telah menjadi saksi bisu ketika aku mengerjakan skripsi serta menuntut ilmu. Dua jarik batik itu telah memberikan kehangatan ketika aku merindukan kampung halaman. Dua jarik batik itu menjadi suatu pengingat bagiku akan datangnya suatu hari yang belum pernah ku tahu. Adapun satu jarik lurik gendong, entah aku sudah lupa di mana menaruhnya. Akan tetapi, aku berusaha untuk melawan lupa akan makna dan filosofinya.

Terima kasih Mboke, telah memberikan secercah petuah melalui jarik batik & lurik yang meskipun bukan barang mewah, namun memiliki makna dan filosofi yang “wah”.

#SiMbahkuKeren