Aku duduk diam terpaku memandang langit dengan taburan bintang sebagai penghiasnya. Mataku tertuju pada satu benda langit yang sejak tadi sangat menarik perhatianku. Benda itu berbentuk bulat sempurna, dan terlihat sangat terang dari bumi. Apalagi kalau bukan bulan.

Bulan, maukah kali ini saja kau mendengar kisahku. Sebuah kisah yang mungkin terdengar klasik. Tapi sungguh, kisah ini membawa pengaruh besar dalam hidupku.

Bulan, aku ingin bertanya, apakah seorang gadis memang pantas untuk dipatahkan hatinya? Apakah aku memang pantas mendapat perlakuan seperti ini? Aku sadar sepenuhnya bahwa aku hanya wanita biasa yang sangat jauh dari kata sempurna.

Katakan padaku Bulan, mengapa dia pria yang menjatuhkan hatiku tetapi dia juga yang sanggup mematahkannya. Tanyakan padanya bulan, mengapa dia sekejam itu?

Aku benci, Aku benci mengingat peristiwa 5 bulan yang lalu, peristiwa saat dia benar-benar melepaskan genggamannya dari tanganku, berpaling, pergi menjauh dengan alasan yang bahkan aku sendiri pun tak tahu apa alasan sebenarnya. Aku berusaha meyakinkannya, mempertahankannya dengan segala debat yang panjang. Tapi percuma, dia punya hati sekeras batu. Hanya karena impiannya sendiri, dia sanggup menghancurkan impian yang sempat kami bangun bersama. Caranya mematahkan hatiku sungguh sangat sempurna.

Advertisement

Bulan tanyakan padanya, ingatkah dia, alasan dia dulu mencintaiku. Tolong ingatkan padanya bulan.

Andai dia tahu, sejak itu aku tak pernah pergi jauh dari hidupnya. Berharap bahwa dia akan berubah pikiran, menghampiriku, dan kembali mengenggam tanganku, kemudian terbang membawaku pergi bersama impiannya. Tapi lagi-lagi aku yang salah. Ya ,memang aku yang salah. Karena terlalu banyak berharap kepada manusia, yang ujung-ujungnya hanya akan berakhir pada kekecewaan.

Katanya, terlalu berharap kepada manusia adalah sebuah tindakan yang seakan mengabaikan keberadaan Sang Maha Kuasa. Ya Tuhan ampuni aku, hanya karena terlau banyak berharap kepadanya aku hampir mengabaikan keberadaan-Mu.

Benci, iya tentu saja aku benci. Apalagi rasa yang bisa aku rasakan selain rasa benci kepada sang pematah hati itu. Apalagi mengingat janji-janji busuknya, harapan-harapan palsunya.

Ah sudahlah, bukankah dulu aku juga memasrahkan kisah cinta ini kepada Sang Pencipta. Mungkin saja patah hati ini juga salah satu dari skenario-Nya. Mungkin quotes cinta Tereliye memang ada benarnya.

Lepaskan, maka besok lusa jika ia cinta sejatimu ia akan datang dengan cara yang mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika ia tak kembali maka sederhana jadinya, ia bukan cinta sejatimu.

Kini aku paham, semua beban sakit patah hati ini adalah salah satu cara-Nya untuk mengingatkanku memantaskan diri terlebih dahulu dihadapan-Mu, sebelum akhirnya bertemu dengan dia yang tepat, yang Engkau takdirkan untukku nanti.

Tak sedikit dari teman-temanku berkata, ayolah aku harus move on darinya. Tapi kali ini dengan tegas aku katakan TIDAK! Karena sekarang aku tahu.

Berpindah hati ke hati manusia lainnya, hanya akan membuat ku jatuh ke dalam kesalahan yang sama.

Dari pada pindah ke hati manusia lainnya yang belum pasti tepat menjadi jodohku, aku lebih baik memilih pindah hati ke Sang Pemilik Hati. Mengisi hatiku dengan cinta-Nya pasti akan jauh lebih baik. Ya Tuhan, terima kasih. Hanya Engkau yang membuatku mengerti kemana ku harus kembali, bahkan di saat titik terlemahku kau masih saja menyediakanku tempat untuk bersujud.

Aku yakin dan percaya, bahwa Tuhan telah merecanakan sesuatu untukku, semua ini pasti akan ada penyelesaiannya. Dan akan ada satu waktu di mana semua beban patah hati ini akan hilang, tergantikan oleh kisah yang baru. Aku tak tahu kapan waktu itu akan datang. Atau kah esok, lusa, seminggu lagi, setahun lagi, atau beberapa tahun lagi. Entahlah, tapi aku yakin waktu itu pasti akan datang. Yang terpenting sekarang ku lakukan adalah menjaga diri, menjaga hati untuk seseorang yang tepat nanti. Dan hanya berharap hanya kepada-Nya bukan kepada manusia lain lagi.

Semoga Tuhan menjatuhkan hatiku kembali sejatuh-jatuhnya kepada seseorang yang tepat yang memang Ia takdirkan untukku.

Bulan, sampaikan maaf karena aku sempat membenci sang pematah hati itu. Aku janji akan melupakan sakit hati yang sempat aku rasakan karenanya. Aku janji tak akan pernah membencinya lagi. Karena sekarang aku paham, hidup dengan menyimpan kebencian hanya akan mengotori hatiku.

Ya Tuhan, izinkan aku memantaskan diri terlebih dahulu dihadapan-Mu. Penuhilah hatiku dengan cahaya cinta-Mu. Hingga tiada lagi ruang kosong di hatiku untuk kembali menduakan kasih-Mu. Aku tak mau kembali menjebak diriku lagi dengan berharap kepada manusia, yang hanya akan menjauhkanku dari ridho-Mu. Bukannya ketenangan yang ku dapat tapi malah meresahkan hati.

Ya Tuhan, sabarkanlah diriku. Aku tak ingin dipenuhi rasa nafsu lagi. Bukannya aku tak ingin merasakan cinta lagi, bukannya aku ingin menentang fitrah-Mu. Tetapi aku hanya ingin menjaga diriku dari cinta yang salah. Biarkan waktu yang akan menentukan. Biarkan semua berjalan mengikuti rencana-Mu.

Bulan, terima kasih telah mau mendengarkan sepotong kisah dariku. Kini aku dapat tersenyum lega dan bernapas bebas. Karena sekarang aku sudah sangat paham bahwa patah hati adalah hikmah dari-Nya.

Oh yah Bulan, sampaikan satu pesanku lagi. Pesan ini teruntuk dia seorang yang telah ditakdirkan untukku, yang nama nya masih dirahasiakan Sang Pencipta. Bulan, sampaikan pesanku ini. Siapapun dia, dimanapun dia berada, aku masih tetap di sini menantinya. Sembari menanti, aku akan memperbaiki diri dan menjaga hati karena-Nya dan untuknya.