Besok pertandingan akan berlangsung. Hati Rose semakin berkobar ingin segera memacu Hope segera menuju garis finish. Ibu Rose ingin sekali menyemangati. Dia dan Nenek Rose berpikir untuk menyiapkan sebuah kejutan. Ya, hidangan lezat dalam sebuah makan malam keluarga. Ibu Rose sengaja menyajikan hidangan spesial, yaitu makanan kesukaan Rose. Pancake Strawberry dan minuman susu cokelat panas adalah favouritnya sejak kecil.

Malam itu keluarga White berdoa untuk kesuksesan Rose. Kakek Rose, Mr.White berdoa bagi kelancaran pertandingan dan memohon agar Rose bisa menjadi juara. Wah memang mengasikkan tentunya, sebagai anak tunggal Rose White selalu mendapat dukungan penuh dalam keluarga.

Malam berlalu dan telah berganti pagi. Setelah sarapan pagi, Rose White bersama Ayahnya membawa Hope bermalam di rumah pamannya. Ben sudah menunggu dan menyambut Rose.

" Hai, akhirnya kalian tiba juga.", sahut ayah Rose. "Dimanakah ayahmu?".

Terdengar suara dari dalam rumah, "Ini aku! Ayo masuk. Aku sudah siapkan kamar untuk beristirahat. Rose, bawalah Hope ke istalnya. Berilah makan yang cukup agar Hope dapat bertanding besok."

Advertisement

Rose menjawab, "Halo Paman, ya tentu, terima kasih." Dengan semangat, Rose menurunkan Hope dari mobil dan memberinya makan. Tiba-tiba Hope menghentakkan kakinya agak keras begitu selesai makan.

Rose bertanya, "Ada apa, Hope? Bukankah ini kandangmu dulu?". Ya, memang ini kandang Hope sebelum dihadiahkan pada Rose saat hari ulang tahunnya. Rose agak penasaran, namun Hope kembali tenang. Akhirnya setelah kondisi normal, Rose membelai Hope dan meninggalkannya.

"Oke, Hope. Aku tinggal dulu ya. Aku akan kembali di jam sebelum aku tidur setelah makan malam."

Memang istal paman Rose cukup luas dan memiliki beberapa pegawai, jadi tidak perlu ragu meninggalkan Hope di kandangnya. Rose bersemangat. Dia ingin sekali melihat arena besok hari untuk bertanding. Dia berjalan kaki melihat tempat pertandingan besok dan memang berada dekat di luar peternakan kuda milik panannya.

Tidak lama sesampai Hope berada di luar peternakan terlihat asap dari atas peternakan kuda milik pamannya. Rose White terkejut. Dia segera berlari kembali ke kandang dimana Hope berada. Rose tergesa-gesa berlari hingga kurang berhati-hati dan terjatuh.

"Aduh!", kakinya terluka. Tapi dengan segera ia kembali berlari sambil terpincang kaki. Rose melihat asap kian tebal. Dia segera membunyikan lonceng di depan pintu peternakan. Gadis itu menutup hidung dengan tangannya, namun penglihatannya sudah penuh tertutup asap hitam tebal. Rose White memaksakan diri untuk menyelamatkan Hope, tetapi anehnya tak ada suara rintihan kuda sama sekali. Ini membuatnya semakin khawatir dan agak susah menemukan kandang kudanya.

Namun tak patah arang, dia berteriak memanggil Hope sambil berusaha menemukan lubang kunci kandang partnernya itu.

"Hope, Hope!" Syukurlah Rose segera menemukan lubang kunci dan dengan kunci dari pinggangnya, kandang Hope segera terbuka. Dari rumah, Ben sepupu White mendengar suara lonceng peternakan yang dibunyikan Rose. Ben segera melihat dari jendela kamarnya dan betapa kagetnya, Ia melihat api sudah berkobar dari sudut kanan istal. Asap semakin tebal. Dia segera memanggil ayahnya.

"Ayah, paman, kandang terbakar!", teriaknya. Dengan segera mereka bertiga keluar rumah dan mengambil air untuk memadamkan api dari luar kandang. Dari dalam kandang, Rose mencoba membangunkan Hope yang sudah lemas tak berdaya.

Dia membisikkan pada telinga kudanya, "Ayo Hope, bangkitlah. Akupun sudah tak lagi tahan. Ayo, berjuanglah keluar."

Sementara ayah Rose teringat mengapa Rose tak bersamanya. Dia segera teringat Hope ada dalam kandang. Dengan segera ayah Rose berlari memasuki kandang dan menemukan Rose.

"Rose, kau tidak apa-apa?". Sahut Rose sambil terbatuk, " Ayah, tolonglah Hope !".

Ayah Rose melihat kondisi kuda kesayangan puterinya tengah lemas tak berdaya. Dia segera berteriak memanggil pegawai peternakan dan mereka memberi Hope air di mulutnya lalu membantu mengeluarkan Hope perlahan. Akhirnya, Hope dapat keluar dan selamat. Meski masih berjalan hanya perlahan, Hope masih dapat berdiri keluar kandang. Rose dan ayahnya menarik nafas lega. Namun mereka tak tinggal diam. Segera Hope diamankan dan mereka bahu-membahu mengeluarkan kuda lainnya.

Dan setelah hampir dua jam berlalu, api dapat dipadamkan. Rose tersadar, bahwa Hope sudah mengisyaratkan lewat hentakkan kakinya saat pertama tiba di istal. Paman Rose segera melaporkan insiden ini pada polisi desa. Polisi memeriksa kondisi seluruh peternakan dan ternyata api dimulai dari tumpukan jerami yang ada dibelakang peternakan bagian kanan.

Mereka masih bingung, darimana asalnya api? Sebab kandang jauh dari dapur dan pembakaran. Polisi menduga ada yang dengan sengaja melakukannya dengan maksud tertentu.

"Tapi, untuk apa?", ujar Ben." Bukankah selama puluhan tahun kita tidak memiliki musuh?".

"Apa mungkin dari peternakan kuda milik tuan Sam?".

Ayah Ben segera berkata, " Jangan terburu-buru menyimpulkan. Kita periksa dahulu alibi setiap karyawan kita."

"Ya, benar yang dikatakan ayahmu, Ben", ucap ayah Rose.

"Mari kita tanyakan, siapa yang menyalakan api pada pegawai, masakkan mereka tidak tahu dan tak berjaga seorangpun?".

" Baiklah, paman", ucap Ben.

Akhirnya polisi memeriksa masing-masing pegawai peternakan milik ayah Ben. Sementara itu, Rose menemani kudanya bersama kuda lainnya yang telah berhasil selamat. Rose tak ingin meninggalkan Hope, hingga dia bermalam di gudang agak kosong pamannya, letaknya berseberangan dengan kandang. Syukurlah kuda lainnya pun dapat diistirahatkan di gudang itu, sementara hingga kandang diperbaiki.

Rose berharap, Hope bisa melewati ini sehingga besok mereka dapat bertanding dan memenangkan kompetisinya.