Di keluarga yang sederhana lahir seorang anak tunggal yang memiliki kasih sayang lengkap dari ayah ibu dan juga kakek neneknya. Anak itu adalah cucu satu-satunya dari keluarga White. Keluarga White terbilang cukup sederhana dan selalu mengajarkan kebersamaan dan hidup apa adanya. Sang ayah bekerja sebagai peternak ayam dan sang ibu membantunya. Sedang kakek dan nenek White telah lanjut usia sehingga hanya dapat melakukan aktivitas sederhana di dalam rumah.

Rose White nama anak tunggal itu dan dipanggil Rose yang adalah nama kecilnya, senang sekali berkuda. Dia mulai menyukai kuda saat berusia 8 tahun dan berlibur kerumah pamannya dari ibunya di desa sebelah. Dia senang sekali melakukan aktivitas layaknya seorang anak pria. Ayah, bagi Rose adalah panutan bagi Rose dan impiannya adalah suatu saat nanti dia bisa menjadi seorang penunggang kuda handal dalam berbagai turnamen. Keinginan ini didukung Sang Ayah yang juga menyukai kuda.

Di saat mereka ada waktu senggang, Sang Ayah rajin mengajak Rose bertandang ke perternakan paman Rose. Paman Rose tentu ikut bangga akan kehandalan ayah Rose dalam Bermuda yang juga diturunkan kepada Rose. Hal ini terus dilakukan bertahun-tahun hingga Rose berusia 16 tahun. Pada usia 16, tepat di hari ulang tahunnya paman Rose menghadiahi seekor kuda putih yang sangat gagah dan sehat. Alangkah bahagianya hati Rose dan dia memeluk pamannya.

"Wow.! Terima kasih banyak Paman". Akhirnya Rose memiliki kudanya sendiri. Ayah Rose juga menghadiahi sebuah istal sederhana di sebelah rumah agar Rose dapat menaruh kudanya.

"Mau beri nama apa kudanya?", kata paman Rose.

Advertisement

" Sebentar… Hope, Paman." Sebab memang kuda ini adalah penunjang harapannya menjadi kenyataan menjadi penunggang kuda handal dalam turnamen. Setiap pagi, Rose melatih diri dengan Hope, kudanya. Ibu, kakek dan nenek White melihat kelincahan Rose saat berkuda. Wah, tak disangka bakat ayah Rose benar-benar mengalir dalam darah Rose. Terkadang Rose berlatih bersama saudara sepupunya, Ben. Ben adalah kakak sepupu Rose, anak dari paman Rose yang telah memberi kuda Hope. Ben juga membantu Rose agar Rose lebih mahir saat berkuda, karena Ben selain lebih senior dari Rose, namun juga telah mencoba beberapa kali pertandingan berkuda di daerah lain. Ben mendukung cita-cita Rose, baginya harus lahir seseorang yang mampu mengharumkan nama kota mereka dengan cara yang unik dan beda. Sebab di kota mereka wanita hanya mahir memasak dan menenun wol saja di peternakan, wanita yang mahir berkuda sangat jarang dan bahkan tidak ada di desa mereka.

Di suatu pertengahan tahun, di desa sebelah diadakan lomba berkuda musim panas. Paman Rose mendaftarkan Rose sebagai peserta dengan Hope sebagai kudanya. Pada waktu itu, Rose adalah satu-satunya peserta wanita yang menjadi penunggang kuda. Rose sangat bersemangat sekali, walau sebenarnya dia masih dianggap sebelah mata oleh para kontestan lainnya yang lebih senior dan dari kalangan kaum pria. Rose memang sempat merasa kecil hati, namun ayahnya mengingatkan bahwa jika dia memenangkan pertandingan, pemenang pertama akan dipilih untuk bertanding di tingkat daerah dan dia akan direkrut menjadi atlet dalam turnamen sesungguhnya.

Tentu ini adalah jalan yang sangat tepat dan sangat sayang bila dilewatkan untuk melangkah menuju mimpinya mencapai kenyataan. Apakah mimpi Rose bisa menjadi kenyataan?

Bersambung..