Asal muasal kaum jomblo yang sebenarnya berasal dari perkumpulan orang-orang yang tersisihkan dari golongan-golongan mereka. Adapun sebagaian dari mereka adalah orang-orang, pemalu, kuper, penyendiri, mengalami masalah kejiwaan, dan sebagian lagi masalah ketampanan.

Ada cerita dari kakek buyut jomblo yang hidup di suatu kaum pada era perdagangan dahulu. Konon, ia adalah oang yang sangat tampan, penampilannya menarik, terlebih jika dibalut jubah indah ala pedagang saat itu.

Pada zaman itu, pedagang adalah kaum bangsawan. Ia adalah salah seorang pedagang muda yang meneruskan dagangan ayahnya. Ia cukup dikenal di kalangan pedagang. Meskipun ia pedagang, akan tetapi kerjaannya hanya mengawasi para pekerjanya yang sudah ia pekerjakan selama tiga tahun ini.

Para saudagar lain mengawasi para pekerja mereka dengan duduk di kursi besar, khusus untuk para saudagar yang sudah tersedia masing-masing di belakang barang dagangan mereka untuk memudahkan para saudagar mengawasi pekerja-pekerja dan barang dagangannya.

Para saudagar lekat dengan wanita, banyak diantara mereka yang dikelilingi dayang-dayang. Memang, para saudagar menjadi pusat perhatian para wanita. Tentu karena kekayaan mereka.

Advertisement

Kakek buyut berbeda dengan para saudagar lain, ia tidak mau duduk di kursi besar yang sudah tersedia di belakang dagangannya. Ia lebih suka berbaur dengan para penduduk serta para bangsawan yang sedang berburu barang keperluan mereka.

Ia yakin, untuk menemukan cinta sejatinya, tidak harus dilihat dari perbandaharaan harta. Menurutnya, cinta sejati itu adalah pertemuan dua jiwa tanpa iming-iming harta.

Ia beberapa kali beradu pandang dengan wanita yang menurutnya sesuai dengan kriteria.

“Gadis itu cantik. Dia adalah tipeku,” ungkapnya dalam benak ketika ia sedang beradu pandang dengan salah seorang gadis.

Gadis itu menilik cara berpakaian kakek buyut. Perempuan itu lalu pergi tanpa kata.

Kedua, ia bertatapan lagi dengan gadis yang sesuai dengan keinginannya. Kakek buyut tak bisa membuang kesempatan ini lagi. Ia menatap gadis tersebut dan tersenyum.

Si gadis membalas dengan senyum pendek lalu pergi menjauh. Sehingga pupuslah harapan si kakek buyut mencari cinta sejati.

Ketiga, ia bertemu dengan seorang gadis yang tidak terlalu cantik. Kakek buyut menyukai gadis tersebut, tetapi ia tidak merasakan getaran cinta. Sebab, si gadis bukanlah kriteria kakek buyut.

Si gadis memandang penuh harap namun kakek buyut memandang sekiranya saja. Lalu memandang ke arah lain. Ia kembali memandang gadis tersebut. “Astaga, gadis itu masih lekat melihatku.” Batinnya. “Baik… dia memang cantik tapi entah kenapa hatiku belum bergetar melihatnya.”

Si gadis pun pergi karena dihiraukan kakek buyut. Ini mungkin yang anak muda zaman modern menyebutnya dengan sebutan PHP (Pemberi Harapan Palsu). Kakek buyut telah PHP kepada gadis itu.

Beberapa kali ia coba cara itu (berbaur bersama penduduk untuk menemukan cinta sejatinya.) Namun hasilnya nihil. Ia tidak mendapatkan apapun kecuali tampang cuek para gadis kriterianya. Sedangkan gadis-gadis yang bukan kriterianya dengan mudah tertarik kepadanya.

Kalau kita bisa katakan, penampilan kakek buyut dengan pakaian yang biasa adalah primadona di kalangan pemuda desa. Di sisi lain, ia tidak apa-apannya dibanding para saudagar.

“Baik… Wanita mungkin ingin jauh dari kata kelaparan dan sangat memimpikan kehidupan yang glamour. Maka para bangsawan dan saudagar adalah pilihan tepat untuk hidup mereka.”

“Bagaimanapun juga aku butuh seorang pendamping,” katanya. “Aku akan berpakaian seperti pakaian para saudagar seperti biasanya untuk hari esok.”

***

Hari itu, ia mengawasi para pekerja dan dagangannya dengan duduk santai di kursi besar khusus untuk saudagar.

Para gadis yang lalu lalang menatapnya dengan sangat terpesona. Bahkan pemandanngan itu menjadi familiar di matanya saking seringnya gadis-gadis yang berlalu lalang terpukau akan dirinya. Hal itu menjadi tidak istimewa. Malah membosankan. “Mereka (para gadis) melihatku seakan sedang melihat tumpukan emasku.” Akan Tetapi tak ada seorang gadis pun yang berani mendekat karena menurut adat, seorang perempuan boleh mendekati laki-laki jika si laki-laki member kode kepada si perempuan agar ia mendekat. Dan kakek buyut tak memberi kode kepada salah seorang gadis pun dari gadis-gadis yang melirik kepadanya.

Tapi tunggu dulu, ada seorang gadis memperhatikannya dari kejauhan. Gadis itu memandang dengan sangat berhati-hati dan malu. Tapi kakek buyut tahu, gadis itu sedang mengaguminya. Kakek buyut menyukai gadis ini. Parasnya cantik, lagi pula sikapnya juga tidak terlalu agresif. “Aku suka dia,” kata kakek buyut.

Kakek buyut mulai menatap gadis itu dengan tatapan ‘malu-malu kucing’ , ketika si gadis balik menatapnya, kakek buyut malah membuang tatapan ke arah lain. Dan ketika kakek buyut melayangkan pandangan ke gadis yang sedang menatapnya, kini, giliran si gadis yang melirik pandangan ke arah lain. Begitu seterusnya pandangan mata itu terus bergulat selama beberapa menit.

Beberapa menit terlewat setelah mereka saling melontarkan pandangan ‘malu-malu kucing’ akhirnya mata mereka sekarang berkutat beradu pandang. “Sial aku kalah,” ujar kakek buyut membuang muka dari gadis tersebut. “Tatapannya terlalu tajam. Ia begitu kuat dan berani.”

Inilah puncak dari pertanda bahwa si gadis sangat mengharapkan kakek buyut. “Aku harus memberinya pertanda—Tapi, aarrghh!” umpatnya kesal dalam hati. “Kenapa tubuhku kaku? Aku harus memberinya pertanda.”

Kakek buyut siap memainkan tangannya untuk memberi kode kepada si gadis untuk mendekat. Tangannya sudah bergerak-gerak di bawah tapi sulit setengah mati untuk terangkat. Begitu terus selanjutnya untuk beberapa menit. Tangannya tak kunjung naik.

Si gadis mulai tampak gelisah. Sepertinya ia menganggap cintanya hanya permainan saja bagi si kakek buyut. Ia sangat menantikan kode dari si kakek buyut tapi tak kunjung datang.

Pasar mulai rame lagi dengan lalu lalang pembeli sehingga jarak pandang antara kakek buyut dengan si gadis mulai terhalang. Kakek buyut masih berusaha menguatkan mentalnya tapi hasilnya nihil tindakan.

Sampai akhirnya si gadis tak lagi memandang si kakek buyut. Ia sekarang sibuk berbincang dengan temannya tanpa memperdulikan si kakek buyut.

Ternyata, kesendirian membuat lidah kakek buyut kelu terhadap wanita, penolakan membuat mentalnya ciut, kekauan tubuhnya seperti sudah mendarah daging. Hanya permainan mata yang bisa ia mainkan dengan baik. Dan itu tak cukup untuk mendapatkan seorang gadis. Hingga, jadilah ia jomblo sejati dan jomblo tertampan dalam sejarah perjombloan.