Rapat karyawan hari itu sangat ramai, hampir semua karyawan memenuhi aula yang biasanya kosong itu. Tutur sapa dan ramah tamah antar karyawan memang selalu cair dalam setiap rapat karyawan, terlebih ruangan selalu riuh sebelum acara benar-benar masuk ke tahap yang lebih serius dari agenda rapat yakni pidato direktur perusahaan.

Mataku selalu tertuju pada sosok gadis jelita nan ceria. Ia sedang mengobrol riang dengan teman-teman yang satu divisi dengannya. Dari pertama aku kerja di perusahaan ini, aku sudah mengenalnya. Ia selalu ramah dengan menyapa karyawan lain, ia sosok yang mudah bergaul, karena itu ia mempunyai banyak teman di kantor. Ia adalah Cynthia si jelita nan periang.

Kami siap mendengar pidato dari direktur. Aku mencari kursi kosong yang sekiranya bisa untuk aku tempati.

“Sini Kak, duduk di sini saja!” tangan Cynthia melambai ketika melihatku kebingungan mencari kursi. Sangat jelas ponsel (HP) i-phone 6 yang ia genggam di tangannya itu. Memang beberapa kursi sudah ditempati oleh beberapa karyawan.

“Oh, iya,” jawabku sekenanya. Terus terang hatiku berdebar saat dekat dengannya, namun aku berusaha menampilkan gelagat yang se-normal mungkin.

Advertisement

Beberapa kali ia sempat sibuk dengan ponselnya, sama halnya seperti kebanyakan karyawan lain yang sempat beberapa kali sibuk dengan ponsel-ponsel keren mereka. Aku kaku, tak ingin atau tak berupaya memainkan ponselku seperti mereka. Semenjak masa kuliah hingga sekarang ponselku masih itu-itu saja, tak pernah diganti.

Ponsel itu pun aku dapat beli dahulu dari uang beasiswa yang aku dapatkan pada semester kedua perkuliahan. Uang-uang beasiswa selanjutnya selalu kuserahkan ke orang tua untuk mengatur biaya kuliahku. Ponsel ini termasuk ponsel yang cukup bagus dengan harga murah empat tahun lalu. Harganya sekitar satu jutaan dengan android 2.3 dan layar 2.8 inch. Tentu sangat jadul jika dibandingkan dengan handphone anak-anak sekarang yang berukuran rata-rata 5 inch dengan sistem operasi android kitkat ke atas.

Rapat yang tadinya kukira membosankan menjadi rapat yang sangat menyenangkan. Karena sesekali sepanjang pidato direktur, aku dan Cynthia ngobrol beberapa hal umum. Aku dan dia saling bertanya tentang study, alamat bahkan alasan mengapa ia memanggilku ‘Kak’ . Ternyata ia memang lebih muda satu tahun dariku. Sepanjang obrolan kami yang tidak terlalu spesifik tersebut aku merasakan kehangatan dan kenyamanan saat mengobrol dengannya. Itu terasa dari caranya menjawab pertanyaanku yang penuh dengan antusias serta senyum yang mengembang.

Hari demi hari, aku mulai melihat perubahan drastis dari seorang Cynthia, yang awalnya aku lihat sebagai pribadi yang ramah kepadaku menjadi pribadi yang sering memperhatikanku. Jujur saja, aku senang akan hal tersebut sekaligus benci.

Benci bukan karena ia selalu memandang dan melemparkan senyuman manisnya namun benci karena aku tak selalu kuat membalas pandangan dan senyuman itu dan terlalu pengecut memberi respon terhadap kode-kode ketertarikan yang ia berikan.

Suatu pagi, waktu aku baru saja datang ke kantor. Aku berpapasan dengan Cynthia. Ia tersenyum melihatku.

“Pagi, Tia,” sapaku dengan lembut.

“Pagiii…,” sahutnya. Senyum manisnya merebak mencerahkan seisi pagi ini.

“Baru datang juga?” kataku berbasa-basi.

“Iya,” jawabnya.

Aku kaku ketika di dekatnya. Dan aku sudah tidak tahu hendak berkata apa lagi. Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih panjang lagi dengannya. Begitu pula aku melihat hal demikian pada dirinya.

“Ya, sudah aku ke atas dulu,” kataku akhirnya menyerah pada keadaan.

Ia mengangguk setuju masih dengan muka cerianya. Aku melangkah pergi memunggunginya. Akan tetapi di dalam hati kok aku bertanya-tanya, “sepertinya ia masih tersenyum memandangku dari belakang?”

Untuk membayar rasa penasaranku sendiri, aku berbalik ke belakang dan apa yang kusangkakan ternyata benar. Di situ Cynthia masih memandangku dan tersenyum. Itu benar-benar sebuah kode yang keras. Aku balas tersenyum, dan kembali berbalik badan melanjutkan langkah tapi kok sekilas tadi aku melihatnya lari berjingkat saking senangnya.

Sejak itu, aku yakin. Ia benar-benar suka denganku. Dan tinggal menunggu tindakan dariku dengan semua kode keras yang telah ia berikan. Pun yang telah aku berikan pula kepadanya, harus ada penegasan dalam sebuah hubungan. Bukan hubungan senyum dibalas senyum.

Namun sebelum aku mengambil tindakan lebih lanjut dengan berpacaran dengan Cynthia. Aku ingin menyejajarkan diri dulu, agar aku tak terlalu malu jika dekat dengannya. Aku berniat menabung dulu untuk membeli HP yang paling tidak bisa mensejajarkanku dengannya.

Gaji keluar setiap bulan dan selalu habis untuk kehidupan sehari-hari dan juga untuk dikirim ke orang tua.

Cynthia mulai menjauh dari harapannya sendiri.

Aku jarang melihatnya lagi. Dan sekali saja, aku pernah menemuinya namun ia tak seramah dahulu.

Mungkin harapannya tentangku telah pupus. Begitu pula harapanku untuk bersamanya hanya tinggal remahan-remahan hancur dan tak berguna seiring dengan sikapnya yang menjauh. Hal ini jelas kesalahanku, aku mengabaikannya saat ia memberi cintanya untukku.

Beberapa hari kemudian, aku mendengar Cynthia keluar dari perusahaan, karena ia hendak bekerja di perusahaan milik pemerintah. Harapanku benar-benar pupus untuk bersama Cynthia.

***

Beberapa tahun selanjutnya, aku mulai fokus ke bisnis yang aku kembangkan. Bisnis yang dulu aku mulai dengan produk kecil-kecilan kini telah menembus pasar internasional dengan omset miliaran rupiah.

Hidupku makmur, begitu pula dengan hidup orang tuaku. Dulu aku yang selalu hidup pas-pasan, bahkan untuk membeli HP bagus saja susahnya minta ampun. Sekarang itu semua bagai gajah yang berubah menjadi semut. Aku tidak bisa membayangkan betapa sepelanya hidupku dahulu, namun hal itu memang merupakan realitas di kehidupanku yang dulu. Bagi orang miskin, hal remeh pun menggambarkan, bagai gajah di pelupuk mata.

Umurku sudah menyentuh angka tiga puluh tahun sekarang. Sudah cukup matang untuk mulai menjalin suatu hubungan yang serius untuk jenjang yang lebih serius. Namun sampai sekarang aku belum menemukan wanita yang patut mendampingiku sebagai teman hidup.

Suatu pagi di kantor, aku tak sengaja melihat ada seseorang yang tak asing bagiku. Orang ini pernah aku kenal dahulu. Ia duduk manis di sofa ruang tunggu kantorku. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

“Siapa orang itu?” tanyaku ke bagian front office (FO) yang bertugas.

“Oh, beliau Ibu Cynthia dari perusahaan XXX hendak bertemu dengan pak Burhan Kepala Divisi bidang Marketing untuk membicarakan project X.”

Hatiku berdebar kembali ketika melihat Cynthia. Apa yang harus kulakukan kali ini? Kondisiku tentu berbeda dengan dahulu terkahir kali aku bertemu dengannya.

“Dan beliau juga tadi sempat bertanya tentang Anda,” lanjut si pegawai FO. “Beliau menanyakan kepada saya, ‘apakah bapak Rendi bekerja di sini?’ tanyanya. Dan saya jawab, ‘beliau adalah atasan kami. Beliau pemilik perusahaan ini.’

Aku semakin kalut tatkala mendengar informasi dari pegawai FO yang bertugas. Dipikiranku sempat berkelibat tentang Cynthia. Sebenarnya, apa tujuannya ke sini? Apa ada tujuan lain selain ingin bertemu dengan Pak Burhan, Kepala Divisi Marketing. Seperti berharap bertemu denganku kembali? Aku sangat berharap demikian.

“Apa dia meninggalkan identitas?” tanyaku kembali ke pegawai FO.

“Katanya dia lupa membawa kartu nama, tetapi dia mengizinkan agar KTP-nya di scan saja.”

“Tolong print-kan untukku.”

Aku kembali ke ruangan dengan memegang hasil cetakan KTP Cynthia. Kolom yang paling menarik perhatianku adalah kolom status perkawinan. Dan di sana tertulis ‘BELUM KAWIN’.

Aku menelepon ke bagian FO dan memberitahukan, Jika Kepala Divisi Marketing sudah selesai melaksanakan rapat dengan klien agar aku dihubungi.

Satu jam kemudian telepon di mejaku berdering. FO memberitahukan bahwa rapat sudah selesai.

Aku keluar untuk melihat keadaan. Aku lagi melihat Cynthia duduk di sofa. “Apakah rapat telah selesai?” tanyaku ke FO.

“Iya, Pak. Pak Burhan telah meninggalkan kantor, kata beliau ada yang hendak diurus.”

“Lalu mengapa klien itu masih di sana?” tanyaku.

“Oh, beliau… katanya ada seseorang yang hendak ia tunggu.”

“Siapa?”

“Saya tidak menanyakan, Pak. Tetapi dia meminta izin untuk menunggu di sini.”

Aku mengangguk dan masuk kembali ke dalam ruangan. Aku bertanya-tanya, “Apakah orang yang ditunggunya itu adalah aku atau ada orang lain?”

Terjadi perang batin di diriku. Apakah aku harus ke sana dan mengajaknya masuk ke kantorku. Lebih baik menunggu di kantor dari pada di ruang tunggu. Lebih nyaman, terlebih dia adalah orang yang pernah aku kenal dahulu.

Setelah berkutat dengan hati dan pikiran agak lama. Akhirnya hatiku mantap untuk mengajaknya masuk ke ruanganku. Aku tidak boleh kehilangan kesempatan lagi untuk kedua kalinya. Aku merapi-rapikan sebersih dan seindah mungkin tempat kerjaku. Aku bangga dengan diriku yang sekarang ini.

Aku keluar dengan semangat namun aku terkejut ketika mendapati sofa di ruangan sudah tidak ada lagi yang menduduki.

“Kemana klien yang tadi?” tanyaku ke FO.

“Beliau sudah pulang, Pak.”

Aku lesu dan tak berdaya. Aku kehilangan untuk kedua kalinya.

“Kenapa, Pak? Apa yang terjadi?” tanya pegawai FO melihat air mukaku langsung berubah kecewa.

“Klien itu adalah teman dekatku dulu,” entah mengapa yang keluar dari lidahku sekarang adalah kejujuran. Tanpa memikirkan kembali wibawaku sebagai seorang pimpinan di perusahaan ini.

Pegawai FO itu kembali melanjutkan, “Pantas saja sebelum pergi tadi ia bertanya, ‘Apakah Pak Rendi ada di kantor?’ .

Aku terbunuh oleh diriku sendiri.