Banyak cerita yang pernah kita ciptakan sebelumnya, cerita bahagia maupun sedih pernah mewarnai hari kita. Namun kali ini aku tak yakin bisa menyampaikan cerita ini kepadamu, walaupun demikian aku akan tetap menulis cerita ini, karena aku tahu hanya dengan melakukan hal ini, hatiku sedikit akan merasa terisi kembali, setelah lama hampa. Pernahkah kau tahu bagimana jika arus rindu berusaha menyapamu kembali?

Saat ini aku sedang berada di antara ratusan bahkan ribuan kenangan tentang kita yang tak seharusnya ku ingat. Karena saat ini “Kita” sudah menjadi hanya “Aku”. Senja ini membangkitkan memori tentang dirimu, memaksa kembali pikiranku untuk menggali segalanya tentang dirimu.

Ingatan akan langkah kaki kita yang searah menyusuri luasnya pantai masih jelas tertanam di benak ini, ditambah dengan dialog – dialog manis yang kita lontarkan bersama juga masih terasa segar diingatanku.

Ingatkah kau jejak kaki kita pernah tersimpan di halusnya pasir pantai ini? Matahari senja menjadi saksi kebersamaan kita. Jingga petang seolah menunjukkan kehangatan dua hati yang bersatu.

Namun seperti matahari yang terbenam tak menunjukkan cahaya lagi, sebuah kata yang terucap mengikis segalanya, ketika sepihak hati menginginkan wujud yang berbeda dari hubungan yang sudah kita upayakan, dan tak pernah menyadari sebelumnya jika kebersamaan yang ditawarkan waktu adalah hanya sebuah persahabatan.

Advertisement

Seketika itu juga sepertinya air pantai menghapus jejak kaki kita, menelan kebersamaan itu, hanya serpihan lara yang tertinggal. Tak ada yang bisa kulakukan ketika sebuah keputusan sudah terucap. Aku menanggung rasa rindu ini sendirian, pernahkan sedikitpun kau merasakan apa yang kurasakan saat ini?

Aku tak tahu harus menyalahkan siapa, hanya bisa menelan kekecewaan, dan membiarkan angin pantai menamparku, menyadarkanku untuk segera menimbun kenangan tentang kita.

Dan aku harus bangkit kembali bersama terbitnya matahari esok, membisikkkan kepada pagi bahwa tanpamu bumi masih biru.