Aku dan kamu adalah dua orang asing yang tak pernah tau dari mana asalnya. Pertemuan kita berawal dari suatu hal yang penuh dengan ketidaksengajaan. Kita hanya sekedar berbasa-basi tanpa mengenal satu sama lain. Hingga pada akhirnya kitapun berpisah. Aku dengan kehidupanku begitupun kamu yang bahkan di mana kamu berada akupun juga tak tau.

Dua bulan berlalu hidupku masih sama dengan kegiatan yang sama, tanpa akan berpikir akan bertemu dengan sosokmu lagi. Namun takdir tuhan berkata lain kita dipertemukan kembali melalui sosial media. Sosial media yang membuat kita menjadi semakin dekat, menjadi dekat tanpa sekat. Sapaan ringan “hai” yang berasal darimu sungguh membuat detak jantung ini menjadi ritme yang cepat. Ya, berawal dari sapaan itulah yang membawa kita pada pertemuan berikutnya. Kita memutuskan untuk bertemu kembali. Kita berkenalan lagi, dua orang asing yang mencoba untuk lebih mengenal satu sama lain.

Aku mengira pertemuan kita akan berakhir sama seperti yang lalu. Kenyataannya tidak. Hari demi hari, waktu demi waktu aku yang tadinya merasa sendiri, aku yang tadinya terbiasa melakukan semuanya sendiri, aku yang tadinya tidak pernah merasa kebingungan ketika ponselku tak berbunyi, kini berubah menjadi aku yang penuh semangat menjalani hariku,aku yang kebingungan ketika ponselku tak berbunyi , ya ketika ponselku berbunyi yang aku harapkan itu darimu. Kamu yang perlahan datang kemudian mencoba memasuki kehidupanku yang kosong. Kamu yang mencoba membuka pintu hatiku yang selama ini memang kututup rapat untuk seseorang. Karena menurutku sudah tak ada waktu untuk bermain-main dengan perasaan.

Semenjak kehadiranmu aku merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan ketika aku dekat dengan manusia lain. Kita sering bertukar pendapat, berbagi cerita, berbagi suka dan duka, canda dan tawa. Aku tak sadar bahwa rasa yang kau tawarkan ini hanyalah rasa fana, yang sewaktu-waktu bisa menghilang. Aku yang selalu menemanimu di kala kamu terjatuh, aku yang selalu ada untuk kamu. Bukan hanya kebahagiaan terkadang kita juga bertengkar karena kita adalah dua manusia yang penuh keegoisan, setiap kita bertengkar selalu ada jalan untuk kembali. Selalu ada jalan untuk kita memperbaiki semuanya.

Kita lupa kalau kita hanyalah dua orang asing yang menjelma menjadi dua orang teman. Ya teman yang bukan teman. Aku yang mulai menaruh harapan itu padamu. Aku yang mulai membuka sedikit pintu hatiku untukmu. Aku yang mulai nyaman denganmu. Aku tak pernah tau perasaan apa yang sedang bergejolak dalam hati. Yang aku tau saat aku bersamamu aku merasakan ketenangan dan kenyamanan .Kamu yang selalu membuatku selalu tersenyum. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk hubungan kita. Oh ya sekali lagi aku lupa bahwa kita hanya sekedar “teman”.

Advertisement

Kita memang dua orang asing yang sekarang dekat. Aku lupa bahwa dekat tak selalu harus terikat. Aku lupa bahwa saat ini kamu memang tidak ingin menjalin suatu hubungan apapun dan dnegan siapapun. Dan sekarang , aku memilih untuk mengakhiri semuanya. Aku berhenti untuk hubungan kita .Ya hubungan teman yang aku rasa bukan teman. Tidak ada namanya teman yang seakan memimpikan masa depannya untuk masuk kedalamnya, tidak ada teman yang benar-benar teman yang selalu menggengam erat tangannya, tidak ada teman yang menceritakan keluarganya, karena aku rasa hubungan kita memang lebih dari sekedar teman. Pada akhirnya aku sadar perasaanku harus kubawa lari sendiri, tanpa kamu. Karena nyatanya kamu tak menahanku pergi dan bahkan kamu malah menyuruhku semakin cepat berlari.

Pada akhirnya perasaanku tak berbalas. Pada akhirnya aku sendiri yang harus menyeka buliran air mata yang terjatuh. Terima kasih untuk segala harapan yang kemudian kamu hempaskan. Terima kasih untuk membuatku kuat seperti sekarang. Terima kasih telah membuatku belajar bahwa memang tidak semua harapan akan sesuai dengan kenyaataan yang ada. Aku belajar untuk tidak lagi membuka hatiku untuk orang asing seperti kamu. Aku tak akan menyalahkan takdir pertemuan. Hanya saja aku ingin bertanya “kenapa tuhan mempertemukan jika pada akhirmya kita berpisah?”. Biarkan semesta yang menjawab . Kini aku akan bermain-main dengan waktu untuk mendekap erat lara dihati. Jika padaakhirnya disuatu waktu kita dipertemukan lagi aku harap sebuah penjelasan darimu. Aku akan bertanya kenapa dan mengapa. Tetapi jika takdir tak mempertemukan kita lagi aku harap kita menjadi dua orrang dewasa yang lebih menghargai rasa hingga tak ada lagi yang tersakiti dan menyakiti.