Berjalan menyusuri pesisir pantai sembari menikmati sepoi angin laut, membuatku terbuai dalam angan dan kenangan. Debur ombak yang gemburuh dan kerap kali membasahi kakiku juga menambah semarak indahnya suasana pantai di sore itu. Enggan rasanya untuk beranjak dari keindahan ini. Cahaya senja yang dipancarkan oleh mentari di detik-detik terbenamnya membuatku memutuskan untuk duduk menikmati keindahan senja ini.

Aku memandang jauh pada luasnya laut, membiarkan semua kenangan singgah hingga tanpa ku sadari, aku kini masuk dalam kenangan kita. Kita pernah duduk bersama di pantai sore itu sambil bercerita tentang hidup, mimpi, hingga rasa yang kita punya. Aku ingat, waktu itu kau menawarkan untuk bersama, menjalin cinta, merajut asa hingga nanti kita tak menemukan alasan untuk tak bersama.

Kau terus buai aku dengan kata-kata cintamu membuatku sejenak hanyut dalam buaian cintamu hingga terlintas keinginan untuk setuju dengan penawaranmu. Namun, dalam buaian itu aku segera tersadar bahwa cinta tak melulu tentang kebersamaan, keindahan dan keromantisan semata. Kita tentu akan menemukan sejuta rintangan yang siap menghadang langkah kita. Kalau kita tak seiring, maka hati kita yang patah. Seketika aku menjawab “tidak” untuk tawaranmu.

Kita memang telah saling mengenal, hingga tak ada alasan untukmu tidak memberikan penawaran itu padaku. Aku akui, aku menyukai senyummu, sosokmu, hingga cintamu. Namun, ada hal yang membuatku lebih memilih untuk melupakan cinta itu. Ini bukan saatnya karena kita masih terlalu egois jika menutuskan untuk bersama. Aku hanya orang yang masih ingin bernostalgia dengan masa lalu. Aku hanya orang yang membutuhkanmu untuk menghilangkan sejenak kenangan tentang dia.

Aku memang tersanjung dengan sosokmu, tapi aku tak bisa bercerita tentang cinta bila orang yang ku cinta itu bukanlah kau. Bagiku, cinta adalah ritual penyerahan seluruh hati untuk satu orang saja. Bagaimana bisa, sementara aku belum mengambil kembali hatiku dari dia. Maafkan aku untuk ini. Dengan raut kecewa dan hela nafas pasrah, kau baringkan tubuhmu di pasir pantai sambil terus memandang langit jingga yang kini mulai berubah menjadi gelap. Kita pun terdiam untuk beberapa saat. Hanya suara ombak yang terus menderu mengisi keheningan senja itu.

Advertisement

Berkali-kali aku mengucap maaf padamu dan kau hanya diam. Akhirnya, kita memutuskan untuk berjalan tanpa beriringan, melupakan rasa dan kebersamaan. Kau biarkan ku dengan nostalgia ku. Aku lepaskan kau dengan rasa kecewamu. Dari situ aku tahu bahwa kita berdua sedang belajar dari pahitnya kenyataan cinta dan mencoba melepaskan cinta yang sesungguhnya masih melekat di hati. Kau melepaskan aku, sedangkan aku melepaskan dia.

Kini, waktu telah berlalu begitu cepat, hatiku telah sepenuhnya kembali padaku dan di pantai ini aku kembali mengingatmu. Tak ada lagi penawaran indah untukku. Aku tak menyesal, karena dari itu aku semakin dewasa dalam mencinta. Aku bangga dengan kita saat itu. Tidak egois untuk menyatukan cinta malah memilih untuk melepaskan. Aku berharap kau selalu bahagia di mana pun kau berada. Kau orang yang baik hati tentu akan mendapat kebahagiaan di sana bersama orang yang lebih layak dari aku. Senang bisa mengenalmu dan menjadi orang yang spesial untukmu saat itu. Kita hanya ada dalam kenangan. Kulanjutkan langkahku berjalan menyusuri senja di pantai menjemput cinta yang hadir untukku kelak.