Semangat gembira, Kamu!

Aku mengenang rindu yang kian memanjang. Jarak antara kotaku dan kotamu adalah sebuah kekuatan. Salahkah jika aku menaruh rasa lebih padamu, sahabatku?

Sejak bertahun lamanya, aku mengenalmu. Mengenal wajahmu, mengenal suaramu, mengenal aromamu, mengenal kebiasaanmu, mengenal segalamu. Segalanya! Aku semakin paham tentang semuanya. Sayang, rindu, kagum, dan semakin lama menjadi cinta yang rasanya sangat aneh. Aku tidak sedang bermimpi, aku banar-benar menaruh cinta padamu. Salahkah, sahabatku?

Komunikasi yang kita jalin selama ini adalah awal dari segalanya. Perlahan tapi pasti, rasa itu kian tumbuh, menjalar, membuat gejolak yang lagi-lagi membuatku kaku. Beku, bahkan diam tanpa ingin mengatakan apa-apa padamu. Hey, ingatkah kamu tentang satu hal? Kebiasaan kita sewaktu duduk di bangku sekolah dulu? Ah, rasanya waktu sudah lama menenggelamkan ingatanmu tentang masa lampau itu, kan? Aku sudah menduga itu.

Kamu selalu beruntung. Tak pernah sekalipun aku luput memberikan maaf ketika kamu salah, selalu tersenyum meski beberapa kali kamu buat juntung ini mati, selalu mencoba baik-baik saja meski sebenarnya keadaan sedang kacau dan memaksaku untuk bersikap seperti tidak ada apa-apa, selalu berusaha menjadi orang pertama yang ada untuk kamu meskipun itu tidak mungkin, kamu beruntung.

Advertisement

Namun, perlu kamu tahu. Aku jauh lebih beruntung karena Tuhan sudah berbaik hati mengenalkanku padamu. Tuhan sudah berbaik hati mempertemukan kita dahulu, hingga sekarang dengan skenario yang sangat keren. Kamu bahagia? Semoga jawabannya iya. Begitu pula aku, amat sangat bahagia. Bahkan, kamu tidak akan pernah bisa mengukur kadar bahagiaku sejak mengenalmu.

Aku sudah lama memendam semuanya. Jika ini adalah cara terbaik untuk tetap mempertahankanmu di dekatku, aku tidak akan pernah lelah untuk memendam. Tapi, kini aku harus memberanikan diri. Mencoba jujur meski hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Aku menyayangimu lebih dari sekadar sahabat.

Aku lebay, ya? Biarkan saja. Aku perempuan, aku merasa wajar menjadi orang paling gila, karena kamu. Kamu, sahabat yang sudah dikirimkan Tuhan untukku. Kamu, yang bahkan aku menganggapmu lebih dari sahabat.

Kapan kita bertemu lagi?

Begitu kamu sering bertanya padaku. Tanpa kamu ketahui, kita sering bertemu, dalam mimpiku, dalam doa yang selalu mengiringi langkahku, dalam harapan-harapan yang senantiasa terselip namamu di antaranya. Tenang saja, jarak bukan berarti penghalang, kan? Yakinlah. Yakin dengan jalan hidup yang sudah disiapkan Tuhan untuk kita.

Aku percaya takdir Tuhan. Aku percaya semua rencana Tuhan. Menjadikanmu sahabat adalah pilihan. Begitu pula memiliki rasa berlebih padamu. Semuanya adalah pilihan. Siap terluka atau bahagia. Siap meninggalkan atau ditinggalkan. Begitulah, waktu adalah perjalanan. Selamat menanti pertemuan, kita.

Sahabatku, aku tak lagi malu untuk mengatakan ini semua. Aku sadar aku perempuan, tapi perempuan tidak harus selalu menunggu. Maka, pahamlah. Pahamilah keadaan, pahamilah sikapku, pahamilah rasa yang bergejolak ini. Aku tidak harus menyuruhmu untuk respect.

Maafkan aku. Maafkan karena aku berlebihan, maafkan karena rasa ini ada tanpa ada usahaku untuk menahannya. Aku sudah berhenti di kamu, sejak lama sekali. Aku tak pernah mengharapkan apa-apa, tak pernah berharap lebih, tak pernah berharap rasa ini akan terbalas. Aku, hanya sedang menunggu waktu berbaik hati untuk 'kita'.

Sekali lagi, jangan bosan mengenalku, jangan bosan denganku.