Entah janjimu atau harapanku yang terlalu berlebihan. Namun, apapun itu yang berlebihan memang tidak baik. Berlaku pula untuk cintaku yang berlebihan kepadamu.

Sudah sekeras apapun aku berusaha melupakanmu, semakin kupaksa semakin tersiksa. Janji murah yang bila kuingat hanya membuatku jengah. Sudah lama aku merasa lelah, tapi berulang kali batinku berkata aku tidak boleh menyerah. Entah berapa kali aku mencoba ramah, tapi berulang kali pula perbincangan kita selalu berujung marah. Rasanya percuma aku terus mengalah, kamu pun tak pernah merasa bersalah. Perselingkuhan yang dengan setulus hati aku coba maafkan, tapi niatku yang berbaik hati justru yang aku dapatkan selalu sakit bagai ditikam tajamnya belati.

Aku pernah begitu benci karena semua janji manismu, kini hanya tinggal kalimat basi. Aku pernah begitu kecewa karena kamu gagal setia. Ribuan kata untuk mengingatkanmu tentang kita hanyalah berbuah percuma. Semakin aku mencoba melupakan, semakin terjerat pula aku dalam kerinduan. Cintaku semakin sendu, bak bunga yang tengah layu.

Bagaimana dirimu tertawa begitu bahagia setelah kau buat aku terluka? Tentu, aku pernah jatuh. Hingga datanglah kamu mengulurkan jemari, agar aku mampu berdiri dan kau berjanji akan selalu menggenggam tanganku hingga kita menua nanti. Ya, kamu dengan mudah membuatku jatuh hati.

Tapi, tidak. Kamu memang menbuatku terbang, hingga aku lupa di bawah ada jurang yang begitu dalam. Kau buat aku tumbang setelah terbang. Aku jatuh (lagi). Terlalu tinggi kau buat aku melayang, hingga rasanya terlalu sakit saat kau lempar aku ke jurang. Semudah berkata sayang, semudah membuang.

Advertisement

Hatiku bukan lagi keping setelah kau banting. Bukan pula serpihan setelah kau acuhkan. Lebih remuk dari itu, dan aku harus menata hatiku kembali (sendiri). Kamu begitu berbahagia dengan keberhasilan mendua, bahkan meniadakan kita. Kamu melakukannya dengan sempurna. Dulu aku selalu menangis tersedu, saat temu berbalut rindu bersandar di bahumu. Lalu kau usap air mataku dengan jemarimu. Sekarang tidak, akan aku usap sendiri meski air mata itu tak pernah mau berhenti dan terus menghangatkan pipi.

"Jatuh cinta", dua kata yang senantiasa beriringan.

Aku pernah cinta, dan sekarang

Aku jatuh

Aku jatuh, tapi aku tidak akan merapuh. Aku mampu berdiri meski tak ada lagi kamu di sini. Sebab hidupku terus berjalan, ada atau tanpa kamu. Barangkali akulah yang paling bersalah, sebab membiarkanmu bersikap seenaknya pada hatiku. Ya, akulah yang harus berbenah dan memperbaiki diri, bukan membenci. Bukan melupakan, tapi melepaskan dan memaafkan. Mungkin dengan begitu hidupku akan lebih ringan, meski aku harus melangkahkan kaki sendirian.

Kamu pernah kembali, seperti menawarkan sebuah minuman yang melegakanku dari kehausan , amun memabukkan. Hingga aku tak bisa membedakan, itu kamu yang asli atau hanya ilusi. Atau justru aku yang semakin pandai dalam berandai-andai. Ah, kamu tidak pernah benar-benar kembali, itu hanya imajinasi dan mimpi yang mustahil terjadi. Aku harus menerima bahwa berakhirnya kita adalah nyata.

Teruntuk kamu yang pernah singgah. Aku berterima kasih. Maaf jika selama menjalin kasih, kau tak bahagia. Maaf jika dulu kita lebih sering saling meluka. Tetaplah jadi kamu yang apa adanya. Aku percaya kamu tidak akan lagi bermain, apalagi menyakiti hati yang lain.

Cukuplah komunikasi kita sekadarnya saja, tidak perlu lagi ada bujuk rayu mesra. Maaf jika mulai sekarang, aku akan selalu menolak setiap kamu mengajakku jalan atau makan, aku hanya tidak ingin menjadi pecundang yang sulit melupakan, sebab terlalu banyak kenangan.

Jangan bersikap seakan kau enggan ku lepaskan. Tentu pilihanmu itu adalah tempat ternyaman (sekarang). Semoga kamu selalu bersikap ramah padanya yang sekarang menjadi rumah, tidak seperti denganku dulu yang sering dihadapkan pada banyak masalah.

Teruntukku yang pernah berharap hidup dalam satu atap (denganmu). Semoga semakin dimantapkan langkah kakiku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kamu adalah sebuah pembelajaran yang semoga bisa mendewasakan. Kamu adalah sebuah harapan, yang semoga berbuah keikhlasan saat aku mencoba melepaskan. Semoga aku lekas tersadar, bahwa kamu bukanlah ujung dari penantian, melainkan hanya teman yang sesaat menemani berjalan. Apapun yang menyakitkan, semoga menjadi tanjakan yang menguatkan.

Teruntuk aku dan kamu yang pernah menjadi kita dan berjanji menua bersama. Biarlah kisah kita dulu berlalu, itu hanya masa lalu. Seperti barang cantik yang semakin lama akan menjadi barang antik, atau justru seperti gelas usang yang semakin berdebu lalu menjadi pantas untuk dibuang. Jangan lagi ungkit kita meski rasa itu kembali ada. Jangan lagi berharap temu meski terjerat rindu. Kini, kita hanyalah anda dan saya yang memilih jalan berbeda. Apapun yang terjadi kemarin, sekarang, dan esok adalah rencana terbaikNya.

Karena jatuh cinta dan patah hati hanya sementara.

Ephemera – Ahimsa Azaleav

Untuk saya dan anda, semoga bisa segera saling melupa, sebab sudah ada orang lain di antara kita.

Untuk saya dan anda, dengan siapapun dan berada di manapun, semoga senantiasa berbahagia dan baik-baik saja. Semoga selalu ternaungi dengan cinta kasihNya. Semoga.