Aku masih ingat bagaimana kita pertama kali bertemu, Tuan.
Tatap mata kita tak sengaja bertemu. Ada getar yang tiba2 menyengatku kala itu. Mungkinkah aku telah jatuh hati padamu? Ahh, rasanya terlalu cepat untuk berkata bahwa aku suka. Bagaimana bisa? Padahal ini baru pertemuan pertama.

Ternyata, Tuhan telah mempunyai rencana. Kita bertemu lagi. Bahkan kali ini perkenalan pun menyertai. Namamu selalu terngiang di kepalaku, begitu pun sampai detik ini.
Lambat waktu, getaran yang dulu kurasa semakin jelas terasa. Mungkin aku benar-benar jatuh cinta. Senyummu, tatap matamu, caramu menyapaku, aku suka. Begitupun sebaliknya. Katamu, kau selalu suka caraku menatapmu, caraku tersenyum karena ulahmu, dan caraku menyapamu tiap kita bertemu. Namun, Tuan, aku tak pernah menyangka. Ternyata, cara kita merapal doa berbeda. Sungguh itu membuatku ternganga. Kita mempunyai keyakinan yang berbeda.

Tuan, rasanya itu berat sekali untuk kuterima. Mereka selalu menentang kedekatan kita hanya karena tempat ibadah kita berbeda. Mengapa mereka begitu cepat menolak hanya karena perbedaan? Bukankah seharusnya perbedaan justru menyatukan? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah cara kita memanggilnya saja yang berbeda?

Tuan, tetap saja kita harus memilih: keyakinan atau perasaan? Keduanya sama-sama akan menimbulkan luka.