9 Mei kemarin, Indonesia baru saja menyaksikan momentum puncak. Dimana seorang Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dijatuhi hukuman selama dua tahun oleh Majelis Hakim. Benturan konflik yang bermula dari sebuah video pidato Ahok di Kepulaun Seribu. Dalam pidatonya tersebut, ahok telah dianggap telah menistakan agama dan membuat beberapa ormas "islam" berbondong-bondong melakukan aksi. nah, siapa sangka peristiwa sebut sebeumnya sudah pernah terjadi di Indonesia sebelum merdeka.

Peristiwa penistaan agama yang sempat membuat indonesia memanas selama beberapa bulan terakhir, ternyata hanya sebuah peristiwa yang terulang atau memang sengaja di ulang. Karena ternyata, pada tahun 1918 juga pernah terjadi peristiwa serupa. Dimana sebuah gerakan yang menamakan diri Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM) bentukan Tjokroaminoto melakukan aksi yang menuntut Martosono untuk di"adili" karena di anggap telah menistakan agama.

Aksi yang dinaungi TKNM ini bermula dari sebuah artikel yang ditulis Martodharsono dalam surat kabar Djawi Hiswara tanggal 9 dan 11 Januari 1918. Dalam artikelnya, Martodharsono mengutip kata-kata dari temannya yang bernama Djojodikoro yang mengatakan bahwa rasul adalah seorang peminum. Tulisan itu lekas membuat Tjokroaminoto geram dan menggerakan masa yang dinamai TKNM. Gerakan TKNM didirikan pada tanggal 6 Februari dengan tujuan untuk membela Islam dan Nabi Muhammad S.A.W.

Pada Akhirnya martodharsono dipenjarakan oleh pemerintah Hindia-Belanda. sedangkan masa TKNM perlahan membubarkan diri. beberapa diantara mantan anggotanya keluar karna kecewa dengan kinerja TKNM. salah satu diantaranya adalah H. Misbach yang keluar kemudian mendirikan organisasi baru. sementara Tjokroaminoto diangkat menjadi Dewan Rakyat pasca peristiwa tersebut.

Lepas dari pro-kontra peristiwa penistaan kemarin, nampaknya kita telah mengulang sejarah yang sama. Artinya, kita baru saja mengulang sesuatu yang sebenarnya dapat diisi dengan kegiatan yang lain yang lebih bermanfaat. Semoga setelah ini tidak ada lagi yang membuat kita terpecah belah. Satu memilih si "A", Satu membela "B". yang satu lagi kebingungan memilih siapa. Inget Sob! Kita hidup dalam satu rumpun. Jadi, baiknya gak usah ribut-ribut lagi deh. Kan kurang enak dilihat negara tetangga.