Sejujurnya saya baru mengerti tentang hal ini setelah saya harus meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di luar kota.
Dulu sekali, waktu SMA, rutinitasku pagi sekolah sampe sore, pulang sekolah ada belajar bareng atau kadang main ke tempat teman lalu pulang ke rumah, aku hampir tak ada waktu untuk sekedar bercengkerama dengan keluarga. Setelah aku harus kuliah ke luar kota, ada saat dimana aku rindu rumah.

Aku rindu dengan keluargaku. Timbul penyesalanku kenapa dulu tak banyak waktu yang aku habiskan untuk keluargaku, sedang mamah dan papahku semakin menua dan aku terasa jauh dari mereka. kenapa dulu saat aku masih bisa pulang semauku, aku tak bisa menfaatkan waktu untuk sekedar berbagi cerita, bercanda dengan adik-adik dan menonton televisi bersama.

Saat aku disini, tak terhitung berapa kali aku ingin pulang. Namun ada yang harus aku perjuangkan. Ada sebuah mimpi yang harus kuwujudkan. Ada impian adik-adikku yang kelak ketika papah tak lagi bekerja maka aku yang menggantikan untuk membiayai adik-adikku. Karena nantinya ketika orang tua ku tak lagi bekerja karena menua, aku yang harus bertanggung jawab atas mereka.

Aku tak ingin gagal, aku ingin orangtuaku bangga dan aku ingin membungkam mulut orang yang mengatakan bahwa aku tak bisa, bahwa keluargaku tak mungkin bisa. Aku tahu begitu banyak yang mereka perjuangkan untukku. Untuk memfasilitasi kebutuhanku.

Ketika aku menyampaikan aku ingin kuliah, papah dengan senang hati mendukungku. Beliau bilang “papah tahu diluar sana banyak yang berkata bahwa mimpi teteh terasa tak mungkin, namun bagi papah, engga ada yang tidak mungkin”. Aku ingat sekali.

Advertisement

Aku tahu, penghasilan orangtuaku tak seberapa, namun orangtuaku selalu berkata “Cukup kok teh. Ada Allah yang maha kaya”. Aku begitu terharu.

Ada saat dimana Aku ingin menyerah karena kuliah tak mudah, karena memang seluruh perjalanan mimpi tak pernah mudah kan? Ada saat dimana aku harus membnuh rindu kepada keluargaku. Cukup dengan menelpon mereka, aku sudah merasa cukup.

Ketika tiba saatnya aku pulang karena hari libur tiba, aku begitu terenyuh mendapati orangtua dan adik-adikku menunggu di stasiun untuk menjemputkku. Mamah menciumi pipiku, aku tahu ada rindu di sana. Ketika aku di rumah, makan bersama keluarga terasa istimewa. Hangat rasanya. Rasanya seluruh lelah yang kurasa terangkat semua. Ketika mereka tertidur, aku mengamati wajah mereka satu persatu.

Papah yang rambutnya mulai memutih dan badannya tetap tegap, muka nya yang begitu menampakkan kelelahan tapi tidak beliau tunjukkan. Mamah yang semakin menua, tetap kuat seperti biasa mengurus rumah. Adik-adikku yang telah besar.

Mungkin rumahku tidak bagus, namun di sanalah rumahku. Tempat yang menawarkan perlindungan dan kenyamanan. Yang melindungiku dari panas dan hujan. Yang melepaskan seluruh lelah dan membangkitkan semangatku.

Mah, pah, aku ingin pulang dan bersandar di bahumu yang nyaman.