Awalnya aku tak pernah menyangka bertemu dengan pria hebat sepertimu. Pria yang tegas, yang mampu membuatku menjadi seseorang yang lebih baik. Pria yang membuatku melihat cinta dengan cara yang tak biasa. Hari itu dimana percakapan kita pertama kali dimulai. 

Ada senyum hangat yang menyertaimu walau dari kata-kata obrolan chat kita. Tawa candamu bagaikan sebuah kebahagiaan kecil untukku. Awalnya aku tak menyangka bisa semudah itu akrab dengamu, tapi kau mampu menghadirkan kenyamanan yang tak ku duga.

Hari pun berlalu, kita pun memutuskan untuk bertemu.

Hari ini, Desember 2016

Pertemuan pertama yang ku pikir akan biasa saja, seperti kebanyakan para pria yang manis ucapannya. Tapi kau menghadirkan lain. Pertama kali yang ku lihat darimu adalah sesosok pria yang hangat dan ceria, tapi ternyata dibalik itu kau sangat rapuh. Kau banyak bercerita tentang wanita yang sangat kau cintai dengan sungguh-sungguh tapi mengabaikanmu. Sepertinya aku memiliki teman yang senasib rupanya. 

Advertisement

Dalam hatiku berkata "Alangkah beruntungnya wanita itu memiki dia, pria yang saat ini di depanku".

"Pria yang mau memperjuangkan wanita satu satunya agar menjadi pelengkap hidupnya".

"Pria yang menjadi lemah terhadap wanita yang ia cintai".

"Pria yang tak memikirkan dirinya sendiri, agar sang wanita bahagia".

Beruntung bukan wanita itu ?

Seandainya saja aku, akan ku jaga ia sepenuh hati. Takkan ku lukai hatinya walau hanya goresan saja. Tapi kembali lagi, aku adalah orang lain yang ia anggap hanya teman curhat saja, tak lebih.

Dari sejak pertama kali bertemu denganmu, hingga hari ini … rasa itu tak pernah berubah .. rupanya memang aku jatuh hati padamu.

Kamis, pukul 01.00 kita masih asik mengobrol.

Aku seringkali merengek seperti anak kecil dihadapanmu ketika membicarakan laki laki yang pernah ku cintai. Sampai satu hari kau begitu tegas berkata padaku "Jika kamu mencintai dia, kau mau terima dia apa adanya ?" dengan yakin ku jawab "ya". Dia berkata begini "Jika kamu mencintai dia, terimalah dia yang tak perduli padamu, terimalah dia yang gila kerja itu. Dia bilang bekerja untuk masa depan kalian, tapi waktu 1x seminggu untuk bertemu pun tak ada. wajar saja kau menuntut ia ada untukmu, bukankah hubungan menuntut kebersamaan dengan pasangan itu hal wajar?". Dan disitu aku terdiam. "Benar katamu, aku yang selama ini sudah salah, maafkan aku yang selama ini bodoh karena perasaanku padanya, mungkin suatu hari nanti akan ada yang ku fokuskan untuk masa depanku". Dia menjawab "Ya lebih baik memang begitu, memberikan kualitas terbaik agar mendapatkan jodoh yang terbaik pula".

Sampai pada akhirnya, aku membuka diri. Laki laki itu tetaplah dirimu. Galau tidak nya aku, hanya kamu yang membuatku jatuh hati. Diantara banyaknya yang mendekat, hanya kau yang ku harap paling dekat. Tapi aku takut terlalu berharap padamu, karena aku belum tau perasaanmu. Dan belum lama juga kau tak sengaja bertemu dengan wanita sempurnamu. Terkadang aku pun minder dibuatnya. Wanita sempurna yang sangat jauh denganku ini. Wajar saja kau begitu mencintainya. 

Hingga hari ini aku tak berani berharap lebih, aku hanya berani mendoakanmu diam diam dalam hatiku. Jika kau yang terbaik untukku, aku akan menjagamu dengan segenap hatiku.