Halo pecandu kopi, bagaimana kabarmu? Semoga Allah selalu menjagamu dalam situasi apapun ya. Kalau kuliahmu apa kabar? Lama ya kamu nggak cerita tentang kuliahmu. Semoga nilaimu selalu dalam taraf aman ya.

Kali ini aku ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang sudah lama aku sembunyikan. Butuh keberanian dan kekuatan yang cukup besar buat aku nulisin ini. Jujur saja menuliskan ini butuh kekuatan. Dan aku merasa tidak telalu kuat untuk melakukannya. Tapi aku belajar dari orang sekitarku bahwa apapun yang dirasakan harus disampaikan, kalau terus-terusan dipendem bisa jadi penyakit,kan?.

Aku tak begitu paham, perasaan macam apa yang selama ini aku rasakan. Mungkin perasaan ingin memiliki, tapi rasanya mustahil untuk memiliki. Perasaan sayang, tapi yang disayang mungkin menyayangi orang lain.

Dulu kamu pernah bilang bahwa kita tak akan mungkin bersama. Kamu hanya bisa menganggapku sebagai adikmu. Ya, aku bisa terima itu, dan mencoba sedikit membuang perasaan itu. Dan aku bisa. Tapi itu tak bertahan lama. Saat kau hadir lagi, menghubungiku lagi, perasaan itu muncul kembali. Hmm.. betapa lemahnya aku, baru dihubungi seperti itu saja sudah baper.

Saat kamu bercerita tentang pacarmu, haha kamu pasti bisa nebak kan rasanya seperti apa? Ikut senang, jujur, aku senang melihat kamu senang. Tapi disisi lain, harapan yang selama ini aku pupuk ternyata sudah mati, dan itu menyakitkan. Saat kamu asyik dengan pacarmu, kamu hanya menghubungiku saat sedang sedih, saat sedang galau, saat sedang down. Aku selalu setia menjadi pembaca chat darimu, atau bahkan pendengarmu saat kau sedang down. Tapi maaf, aku jarang memberi solusi yang bermanfaat untukmu.

Advertisement

Saat ada laki-laki lain yang mencoba mendekatiku, aku sedikit berhasil melupakanmu. Tapi entah mengapa, laki-laki itu selalu ku banding-bandingkan denganmu. Dan hasilnya, tetap kamu pemenangnya. Entah, mungkin itu penyebab aku masih jomblo sampe sekarang hahaha. Lha gimana? Wong tetep kamu kok yang menang, ya laki-laki itu pada minggir semua. Ah, begitu jahatnya aku.

Sewaktu di kita liburan, saat kamu cerita tentang putusnya hubunganmu dengannya. Perasaanku campur aduk andai kamu tahu. Antara senang kamu udah putus, antara sebel sama pacarmu itu. Bisa-bisanya ya dia seperti itu ke kamu. Bahkan mata mu berkaca-kaca pula saat kamu menceritakan hal itu. Ah.. begitu besar ya perasaanmu ke dia.

Kadang aku iri dengan perempuan yang bisa dengan mudahnya mengungkapkan perasaannya ke laki-laki yang dia sayangi. Tapi kenapa aku tak bisa semudah itu mengungkapkannya, ya? Ada saja perasaan-perasaan yang mengganjal dan rasa takut jika mengungkapkannya lebih dulu. Takut jika bertepuk sebelah tangan, takut kalau malah ngrusak suasana, ngrusak kebersamaan kita, ngrusak hubungan baik kita, takut kalau malah kamu ngejauh, takut kalau aku malah nggak bisa deket kamu lagi, dan beberapa ketakutan lainnya. Maka dari itu, aku memilih buat memendam ini semua. Bagiku, masih bisa dekat denganmu, bisa berhubungan baik, masih bisa saling sapa, dan kamu nggak ngejauh itu sudah cukup.

Tapi sekarang rasanya sudah cukup semua ini. Aku rasa sudah waktunya aku berhenti. Sudah waktunya aku beranjak dari mimpiku selama ini. sudah cukuplah aku menyiksa diriku sendiri. sekarang aku harus belajar menerima kenyataan. Iya, menerima. Bukan melupakan. Menerima kenyataan lalu mengikhlaskan.

Terima kasih atas semua yang kamu berikan selama ini. Maaf aku sering menyusahkan, sering merepotkan. Maaf, aku belum bisa membalas kebaikanmu selama ini.

Semoga selalu diberi keancaran dalam segala hal. Sehat terus ya, tolong dikurangi merokoknya. Tetaplah jadi diri sendiri, ya. Terus berproses menjadi lebih baik. Jangan sampai meninggalkan sholat dan jadi anak soleh kebanggaan orangtua. Pokoknya jaga diri baik-baik disana.