Sejak masih berada dalam kandungan, kita sudah menjadi tanggung jawab dari orangtua kita masing-masing. Ayah selalu berusaha membawa buah tangan ketika pulang dari bekerja, walaupun mungkin hanya berisi beberapa buah segar, atau sekotak susu yang hendak disajikan untuk ibu supaya terpenuhi kebutuhan giziku di dalam perut ibu. Di hari libur mungkin ayah dan ibu menyempatkan diri untuk sekedar jalan santai di sekitar rumah atau rutin cek ke dokter hanya untuk memastikan bahwa aku sehat di dalam perut, begitu pun dengan ibu yang tentunya semakin kuat.

Tiba saatnya aku lahir ke dunia, ayah dan ibu menyambutku dengan tangis dan tawa. Aku tahu pasti aku belum bisa melihat atau mendengarnya langsung, tapi aku yakin mereka seperti itu karena bahagia: sosok yang mereka rawat selama sembilan bulan sepuluh hari itu kini telah nampak di dunia. Ayah dan ibu tetap tidak lupa denggan kewajiban mereka sebagai orangtua. Bekerja dari pagi hingga sore hari semata-mata demi aku, anaknya. Bahkan, setelah itu kalian tetap bisa membagi waktu sesekali bermain bersamaku, tertawa lepas melepas penat, menciptakan suasana hangat.

Waktu demi waktu berlalu aku semakin tumbuh besar. Ketika kalian menyadari aku sudah harus mendapatkan wawasan yang lebih luas lagi, kalian tanpa ragu memutuskan untuk memasukkanku ke sekolah pertama kalinya. Dengan bangga setiap pagi ibu mengusap kepalaku sambil mengucapkan sebait doa agar aku bisa belajar dengan baik. Dan ayah menungguku di luar untuk bersiap mengantarku ke sekolah. Kau pastikan aku benar-benar selamat sampai di sekolah, Ayah.

Pintu remaja terbuka, aku memasuki waktu di mana kebanyakan remaja juga melakukan hal yang sama. Aku coba segala hal asalkan aku senang: aku tau kalian pasti mengijinkannya selama masih berada dalam batas kewajaran dan pengawasanmu. Keras memang, karena mungkin sesekali dibumbui dengan bantahan-bantahan kecil yang sering aku lontarkan kepada kalian berdua. Yakinlah Ayah, Ibu, aku mengetahui batasanku. Aku harap kalian tetap tenang.

Kemudian kalian seolah dihantui khawatir berlebih. Sambil tetap menebar senyum jika berada di depanku dan merangkai doa di setiap lima waktumu. Meminta Tuhan untuk ikut menjagaku karena kalian tahu kalian tak akan mampu melakukan sendiri tanpa campur tangan-Nya.

Advertisement

Beranjak dewasa, aku pun bersyukur masih bisa terus mengingat setiap nasihat kalian yang selalu kalian ucapkan untukku. Itu semua bisa aku jadikan sebagai bekal untukku berjalan menapaki setiap lembar kehidupan yang Tuhan takdirkan untukku.

Tiba saatnya di mana aku harus perang menggunakan segala pengalaman dan pengetahuan sebagai senjatanya yang telah aku dapatkan sebelumnya ketika aku menimba ilmu: bekerja. Ya, aku perang untuk bekerja, mencari pekerjaan demi masa depanku yang lebih baik. Tidak hanya untukku, tapi juga untuk kalian. Aku ingin kalian bisa bangga denganku, melihatku memiliki karir yang mantap. Bukan jabatan yang aku kejar, tapi paling tidak aku bisa lebih mandiri dari sebelumnya, tidak lagi melulu merepotkanmu dan selalu merengek pada kalian meminta sesuatu. Tapi tahukah kalian Ayah, Ibu, harapanku dan harapanmu tidak selalu bisa berjalan mulus.

Hambatan tak pernah absen menghampiriku. Mereka seperti datang sepaket dengan semangat membara yang aku miliki dan setumpuk doa yang selalu kalian ucapkan disetiap waktu luang kalian. Keterbatasan yang aku miliki bukan penghalang bagiku untuk menemukan yang terbaik. Halusnya penolakan, nyaringnya cibiran orang-orang sudah banyak dan sering aku dengarkan.

Lelah sudah pasti aku rasakan, marah seringkali menghampiri diri. Menyerah? Sudah pernah aku lakukan. Seolah aku sudah tak mau dan mampu lagi mengerahkan tenaga dan pikiranku untuk terus berusaha. Ku mohon sabarlah sedikit ayah, ibu.

Bukankah orang bijak mengatakan semua akan indah pada waktunya? Jangan tanyakan kapan, mengapa atau apapun padaku. Karena terkadang aku pun juga merasa bahwa dunia kejam bahkan menolakku. Aku yakin, itu semua bukan karena aku yang kata orang terlalu idealis, terlalu tinggi atau keras kepala. Aku masih tetap dengan tujuan dan keinginanku, yang nantinya akan aku persembahkan untuk kalian. Aku masih menunggu.

Rejeki untukku sudah digariskan oleh Tuhan. Mungkin hanya belum bertemu saja. Aku masih bisa memainkan peranku sesuai dengan skenario yang sudah dituliskan oleh Tuhan untukku. Mungkin sekarang waktunya aku masih harus memerankan tokoh yang selalu mencari dan dibuang, tapi di dalam skenario-Nya aku dipertemukan dengan peran yang tak kalah luar biasa. Itu tak lain adalah kalian, peran sebagai seorang ayah dan ibu yang selalu mendukungku. Sang waktu belum berkenan mempertemukan dengan apa yang aku cari.Tolong bantu aku untuk memantaskan diri menjadi yang tepat. Mungkin waktu dan Tuhan sudah sepakat untuk melihat perjuanganku dulu sebelum bertemu dengan yang indah.

Jika sudah saatnya nanti, entah kapan, aku yakin pasti bisa membuat kalian bangga. Jadi, ku mohon sabarlah sebentar lagi Ayah, Ibu. Semua ini adalah karya indah Tuhan dan Sang Waktu untukku. Ikuti, akui, dan tolong restui aku.