Untukmu, yang saat ini benar-benar membuatku jatuh hati. Sudah pantaskah diri ini untukmu?

Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, tak ada kata lain yang dapat kugunakan untuk menggambarkan dirimu selain "terbaik". Aku yang saat itu sedang berada dalam masa-masa terpuruk karena aku sadar bahwa hubungan yang sedang kujalani dengan dia mulai tidak sehat, dan kau yang saat itu juga sedang dalam keadaan gelisah karena hubunganmu diujung tanduk, berhasil bertemu dengan membawakan solusi masing-masing. Kau yang sangat bijaksana mampu memberiku saran yang sungguh di luar ekspektasiku. Mengingat bahwa usiamu yang jauh di bawahku, tak kusangka kau bisa berpikir seperti itu.

Sejak saat itu, rasa kagum akan sosokmu mulai tumbuh dalam hati ini.

Namun sayang, komunikasi yang terjadi di antara kita tidaklah intens seperti yang dibayangkan. Kita masih saling menjaga jarak masing-masing, mengingat bahwa kita masih bersama dengan orang lain. Hingga akhirnya, kau memutuskan untuk mengakhiri hubunganmu dengannya. Begitu pula dengan diriku, yang akhirnya juga memutuskan untuk mengakhiri hubunganku.

Aku yang saat itu benar-benar merasa sangat jatuh dan bingung harus berbagi kesedihan dengan siapa, tiba-tiba teringat akan sosok dirimu. Aku mencoba memberanikan diri untuk mulai bercerita denganmu. Tak mudah memang rasanya bangkit dari keterpurukan ini, namun sosokmu mulai mampu mengajariku caranya bangkit.

Advertisement

Aku yang melihatmu begitu berusaha keras keluar dari keterpurukan yang juga sedang kau alami, membuatku sadar, bahwa tak seharusnya kita berlama-lama dalam masa-masa ini. Kau berhasil meyakinkanku, bahwa Tuhan punya rencana dan hadiah pengganti yang lebih besar dari rasa sakit ini. Proses bangkit dari keterpurukan inilah yang membuat kita samakin dekat. Dan kedekatan ini terus berlangsung layaknya hubungan seorang adik dan kakak. Bukan aku merasa menjadi kakakmu, justru aku merasa menjadi adikmu. Kedewasaanmu yang sungguh membuatku terpesona akan sosokmu membuat rasa kagum ini semakin bertambah setiap harinya.

Sosokmu yang sangat istimewa, benar-benar membuatku berdecak kagum setiap kali kita bertemu. Kau yang selalu menghiasi hari-harimu dengan senyuman indah yang tak pernah lelah kau ciptakan dari bibir manismu. Kau yang selalu berhasil membuat orang-orang di sekitarmu bahagia dengan canda tawamu. Kau yang selalu bersikap baik ke semua orang. Kau yang selalu bersikap rendah hati. Kau yang selalu bisa menenangkan orang lain ketika mereka ada masalah. Dan satu hal yang paling membuatmu istimewa di mataku, adalah ketaatanmu untuk menjalankan setiap perintah-Nya.

Kau yang tak pernah absen bersujud 5 waktu dalam setiap hari-harimu. Kau yang selalu menyempatkan diri membaca ayat-ayat suci Al Qur'an dan sikapmu yang selalu mencerminkan kebaikan, membuat diriku merasa kecil di depanmu. Aku sadar bahwa selama ini diriku masih jauh dari-Nya.

Kekaguman diriku terhadapmu semakin tak terbendung, bahkan aku merasa bahwa ini bukanlah rasa kagum lagi. Rasa ini telah berubah. Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah aku sudah jatuh cinta lagi?

Aku mulai merasa bahwa aku harus bisa selalu berada di sampingmu. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah seseorang yang jauh sekali dari kriteria wanita impianmu. Sejak saat itu, aku mulai bertekad untuk memantaskan diri agar kau bisa melihat sedikit saja tentang diriku.

Aku mulai mengubah penampilanku. Aku mulai mengubah sikapku. Dan akupun mulai mendekatkan diriku kepada-Nya. Setiap hari, aku memperhatikanmu. Setiap hal yang kau lakukan, ku perhatikan dengan baik, lalu aku mulai mencoba untuk menirukannya. Aku mulai menjadikanmu teladan untuk usaha memantaskan diriku ini.

Waktupun berlalu dengan cepat, aku dan kau semakin menikmati kedekatan kita. Namun, tak pernah sekalipun kita berbicara hal serius tentang hubungan ini. Aku yang sudah tak mampu membendung perasaan ini, mulai merasa gelisah. Apakah aku benar–benar jatuh cinta kepadamu? Apakah hati ini sudah benar–benar berhasil kau tempati? Aku mencoba untuk terus mengabaikan rasa ini. Namun, semakin kuhindari, rasa ini semakin kuat. Rasa ini tiap harinya tumbuh semakin cepat dan lebat. Hingga akhirnya, aku menyerah dan harus kuakui bahwa aku benar–benar jatuh hati kepadamu.

Usahaku untuk memantaskan diri semakin kuat. Setiap kali melihat senyummu, kekuatan dalam diriku bertambah. Setiap kali melihat sikapmu, kerja keras ini semakin terpacu. Dan setiap kali berada di sampingmu, rasa lelah atas usaha ini hilang sudah. Namun, semakin kuat usaha ini ku lakukan aku justru menyadari 1 hal bahwa sosokku masih saja belum terlihat olehmu. Aku masih saja kalah dengan wanita-wanita di luar sana yang juga berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan hatimu. Ingin menyerah, putus asa, kecewa, sedih, bercampur jadi satu.

Aku mulai berpikir apakah usaha ini akan sia-sia? Apakah aku memang benar-benar tak layak untuk dirimu? Apakah memang dirimu terlalu sempurna untukku? Ah, pertanyaan-pertanyaan tak karuan pun mulai muncul. Aku memutuskan untuk menyendiri. Aku memutuskan untuk sedikit menjauh darimu. Aku mulai menginstropeksi diriku. Berharap bisa menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan tak karuan ini.

Jam berganti, haripun berlalu, dan aku telah berhasil menemukan jawabannya. Aku tersadar bahwa selama ini niatku untuk memantaskan diri memanglah salah. Selama ini, usahaku untuk memantaskan diri hanyalah untuk bisa terlihat di matamu. Aku hanya berusaha agar kau bisa mencintaiku layaknya aku mencintaimu. Aku sadar bahwa ini hal egois yang telah aku lakukan dengan begitu bodohnya. Aku melupakan bahwa seharusnya usahaku untuk memperbaiki diri adalah untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi. Menjadi hamba yang bisa taat akan segala perintah-Nya.

Tak hanya menyadari hal itu, aku pun mulai bertekad untuk merubah niatku. Aku mulai memaksa hatiku untuk bisa berniat bahwa usahaku untuk memperbaiki diri adalah bentuk ketaatanku terhadap-Nya. Perlahan, hati ini mulai bisa melakukannya. Dan ya, aku mulai merasa tenang. Usaha yang aku lakukan pun terasa semakin ringan. Aku tak lagi memikirkan untuk terlihat baik di depannya, aku hanya berpikir untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Entah dia akan melihat perubahanku atau tidak, aku sudah tidak memikirkannya.

Aku menikmati rasa bahagia ini. Aku menikmati setiap tingkah laku baru yang mulai aku kerjakan dan membuat hidupku benar-benar berubah. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah aku lakukan, yaitu menirukan setiap perbuatan baik yang dia lakukan. Sikapnya, perkataannya, kebaikannya, senyumnya kuteladani dengan baik. Perlahan, kuterapkan dalam keseharianku. Setiap perubahan yang kualami kuceritakan kepadanya, setiap kendala yang kuhadapi kutanyakan kepadanya. Ya, dengan senang hati dia selalu membantu dan memotivasiku untuk terus berbuat lebih dan lebih.

Sekarang, aku sadar bahwa usaha untuk memantaskan diri yang kulakukan memang seharusnya bukan untuk mendapatkan perhatiannya. Tetapi untuk mengharapkan ridho-Nya.

Kamu bukanlah alasanku untuk merubah semua yang ada pada diriku. Tetapi kamu adalah teladan dan semangatku untuk terus menjadi lebih baik lagi.

Entah, nanti kita dapat disandingkan atau tidak oleh-Nya, aku berharap kita bisa dipertemukan dengan seseorang yang baik dan layak untuk kita. Satu kata yang bisa kuucapkan untukmu adalah terima kasih. Terima kasih karena kau telah berhasil membuka pintu hati ini. Terima kasih sudah mengajariku cara berbuat baik. Terima kasih sudah mengajariku untuk melihat dunia dengan sudut yang berbeda. Terima kasih karena tak pernah lelah untuk selalu berada di sampingku dan membimbingku.

Dan terima kasih untuk hal-hal yang tak ternilai yang telah kau berikan untuk hidupku.

Kau, lelaki yang namanya selalu kusebut dalam setiap doaku.